KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

Balada Sunan Kalijaga

Deva Alfianto Supardi - IMAN PKN STAN

Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum wr. Wb.

Ini adalah kisah tentang Prabu Brawijaya V dan Sunan Kalijaga. Diambil dari sebuah buku biografi sekunder Sunan Kalijaga. Alkisah ketika Raden Patah telah menaklukkan ayahnya sendiri, Prabu Brawijaya V, runtuhlah Majapahit yang besar itu. Latar kisah adalah suatu hutan di dekat Selat Bali yang tidak terlalu jelas diketahui lokasi tepatnya.

Ketika itu Sang Prabu mengeluh kepada Sunan Kalijaga,

“Coba bayangkan, Sahid! Alangkah sedih hatiku, orang sudah tua renta, lemah tak berdaya kok akan diredam dalam air”

Sunan Kalijaga memendam senyum dan berkata,

“Mustahil jika demikian, besok Hamba yang tanggung. Hamba yakin tidak akan tega putra Paduka memperlakukan sia-sia kepada Paduka. Akan halnya masalah agama hanya terserah sekehendak Paduka, namun lebih baik jika Paduka berkenan berganti syariat Rasul, dan mengucapkan asma Allah. Akan tetapi jika Paduka tidak berkenan itu tidak masalah. Toh hanya soal agama. Pedoman orang Islam itu syahadat, meskipun salat dingklak-dingkluk jika belum paham syahadat itu juga tetap kafir namanya.”

Sang Prabu berkata,

“Syahadat itu seperti apa, kok aku belum tahu, coba ucapkan biar aku dengarkan.”

Sunan Kalijaga kemudian mengucapkan syahadat, asyhadu ala ilaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, artinya aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Gusti Allah, dan bersaksi bahwa Kanjeng Nabi Muhammad itu utusan Allah. Sunan Kalijaga berkata kepada Sang Prabu,

“Manusia yang menyembah kepada angan-angan saja, tapi tidak tahu sifat-Nya maka ia tetap kafir, dan manusia yang menyembah kepada sesuatu yang keliatan mata, itu menyembah berhala namanya, maka manusia itu perlu mengerti secara lahir dan batin. Manusia mengucap itu harus paham kepada yang diucapkan”

“Badan manusia itu bayangan Zat Tuhan. Badan jasmani manusia adalah letak rasa. Rasul adalah rasa kang nusuli. Rasa termasuk lisan, rasuk naik ke surga, lullah, luluh menjadi lembut. Disebut Rasulullah itu rasa ala ganda salah. Diringkas menjadi satu Muhammad Rasulullah. Yang pertama pengetahuan badan, kedua tahu makanan. Kewajiban manusia menghayati rasa, rasa dan makanan menjadi sebutan Muhammad Rasulullah, maka sembayang berbunyi ushali itu artinya memahami asalnya. Adapun raga manusia itu asalnya dari ruh idhofi, ruh Muhammad Rasul, artinya Rasul rasa, keluarnya rasa hidup, keluar dari badan yang terbuka karena asyhadu alla, jika tidak mengetahui artinya syahadat, tidak tahu rukun Islam maka tidak akan mengerti awal kejadian.”

Sunan Kalijaga berkata banyak sampai Prabu Brawijaya berkenan pindah agama Islam, setelah itu minta potong rambut kepada Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga lantas berkata, Sang Prabu dimohon Islam lahir-batin, karena apabila hanya lahir saja, rambutnya tidak mempan digunting. Sang Prabu kemudian berkata kalau sudah lahir batin, maka rambutnya bisa dipotong. Demikianlah Sunan Kalijaga berhasil membimbing Prabu Brawijaya untuk memahami agama Islam secara benar.

 

Semoga Allah selalu membimbing kita dalam segala fase hidup kita.

Wallahul muwafiiq ila aqwamitthariq.

Wassalamualaikum wr. Wb.

 

Gambar oleh google

You might also like
Comments
Loading...