Kuncup Bunga Harapan (Chapter 3)

“Tidak….”

Dengan wajah kuyu dan beberapa bulir air mata, Agus duduk sembari menjulurkan tangannya nampak hendak meraih sesuatu.

 “Ada apa sih Gus?”. Tanya Adam kepada Agus, Bagas dan teman-teman yang lain masih terlelap.

Keadaan kamar masih gelap, semua orang masih tidur. Jam dinding menunjukkan pukul 2 tepat dini hari. Ternyata dia memimpikan Bagas yang dikeluarkan dari pondok karena pacaran. Dari mimpinya dia hendak meraih tangan Bagas yang seolah akan pergi meninggalkannya. Jadilah dia bangun dengan keadaan demikian, duduk, sembari mengulurkan tangannya.

“Hufft, ternyata hanya mimpi toh”.

Ujar Agus dengan dahi dan badan yang basah kuyup oleh keringat.

Tak sengaja Adam terbangun mendengar sahabatnya bergumam tadi.

“Mimpi buruk ya? Sudah, itu hanya mimpi. Sana ambil wudlu lagi, toh nanti jam 3 juga ada jadwal shalat tahajud, jadi sekalian persiapan, mungkin kita bisa shalat tahajud lebih dulu”. Kata Adam, mencoba menenangkan Agus.

“Iya, terima kasih Dam”.

Maka mulailah mereka berdua shalat tahajud duluan dan benarlah sebab tak lama kemudian terdengarlah suara berdering dari bel yang sangat nyaring. Membangunkan seluruh santri untuk segera melaksanakan shalat tahajud. Selesai shalat tahajud, beberapa santri ada yang memilih mandi, ada yang menghafal nadhoman, menghafal ayat Al-Qur’an, ada yang bandel dengan memilih untuk tidur kembali. Mereka yang tidur kembali akan mengalami hal yang paling dibenci, dibangunkan dengan cara disiram air penuh satu ember oleh para pengurus ketika adzan subuh telah berkumandang. Tentu mereka akan ngomel bersungut-sungut, merasa didzolimi padahal memang seperti itulah peraturannya. Bagi santri yang di waktu adzan masih tidur setelah dibangunkan 3x maka akan digebyur air. Peraturan mutlak, baik santri lama maupun santri baru. Pernah ada satu kasus, dulu ketika ada santri yang digebyur air merasa tak terima, marah-marah dan mengajak berkelahi. Tentu tim ‘pembangun’ dari pengurus tak peduli, bahkan satu bogem mentah yang melayang tepat ke wajah salah satu pengurus pun dinilai wajar dan dia mampu bersabar. Namun karena emosi yang membara, tak cukup hanya dengan satu pukulan, pukulan lanjutan kembali dia layangkan kepada pengurus tadi. Nahasnya dia salah orang, pengurus ini adalah seorang pemegang sabuk mori di salah satu perguruan pencak silat ternama. Maka semua serangan pun mampu ditangkisnya. Dan akhirnya beberapa santri pun memisahkan mereka. Sore harinya setelah rapat oleh para pengurus, dia pun ditakzir digunduli, dicukur habis rambutnya, sebab melanggar peraturan dilarang berkelahi atas dasar alasan apapun.

Seminggu ini, setelah Adam dan Agus melabrak Bagas dan Andini, sejak saat itulah Bagas dan Agus sedikit mendiamkan satu sama lain. Akan tetapi syukurlah, meski saling mendiamkan namun hubungan sebagai sahabat tetap baik. Dan baru tadi pagi mereka berdua terlihat asyik ngobrol entah membahas apa. Yang jelas, itu sudah menjadi hal baik Adam. Sudah sedari dulu Adam memiliki sifat untuk menengahi sesuatu. Adam tidak ingin mereka bertengkar, karena itu Adam selalu memahami keadaan dan mencoba membuat semuanya menjadi terkendali serta membuat semua orang tetap merasa nyaman.

“Dam, setelah kuliah pagi ini, kita makan siang yuk ke kantin. Biasa, bertiga”. Ucap Agus pada Adam.

“Iya, aku setuju. Kita pesan ayam geprek, kali ini yang pesan paling pedas yang jadi pemenangnya”. Bagas menambahkan.

“Heh, nanti kalau mencret kamu mau tanggung jawab?” Agus tidak setuju.

“Heleh lebay! Biasanya juga pesan yang paling pedas dan tetep sehat wal afiat”.

“Sembarangan, ini kasusnya beda. Banyak kasus orang meninggal dikarenakan mencret ndul!”

Keluar juga panggilan ‘sayang’ itu.

“Aman gus, aman”.

Adam hanya menyeringai mendengar perdebatan mereka. Tertawa sebentar, dan mengibaskan tangan memberitahu mereka untuk berhenti. Adam menyetujui Agus untuk memesan ayam geprek, hanya saja lomba makan yang paling pedas itu agak konyol juga, Adam menolak mentah-mentah pendapat Bagas. Adam melihat secara sekilas Bagas menggembungkan pipinya, kesal lantaran pendapatnya tidak didengarkan.

“Tapi aku minta tolong bungkuskan ya, aku ada urusan nanti. Aku belum bisa gabung kali ini” Kata Adam.

Agus dan Bagas saling berpandangan. Mungkin bingung dengan perkataan Adam sebab tadi oke-oke saja untuk beli makan siang ayam geprek. Adam menyeringai tipis dan memberitahukan kalau ada meeting nanti. Agus dan Bagas pun saling mengangguk.

Benarlah, Agus dan Bagas meninggalkan Adam sendirian di kelas. Adam menyuruh Agus dan Bagas pergi dulu dan bertemu lagi nanti di kelas. Setelah Agus dan Bagas jauh dari kelas, Adam lekas mengabari Andini bahwa Adam akan segera menemuinya. Adam dan Andini sudah janjian untuk satu-dua bertukar kalimat di kelasnya. Jadi secara perkataan, Adam tidak berbohong kepada sahabatnya, sebab Adam memang ada meeting di kelas, yakni meeting dengan Andini, di kelasnya.

“Assalamualaikum”. Salam Adam ketika sampai di kelasnya.

“Waalaikumussalam, silakan duduk mas”. Andini mempersilakan dengan sopan.

“Sebenarnya, ada keperluan apa ya mas?”

“Hmm? Bukankah kita sudah sepakat hendak ngobrol dengan satu-dua pertanyaan?”

“Hehe, iya. Mmm, jadi bagaimana mas? Mau bertanya tentang apa?”

“Jadi begini mbak..” belum sempat Adam menyelesaikan kalimatnya, dia lebih dulu memotongnya. “Mmm, maaf jangan panggil mbak. Kan sampeyan yang lebih tua dari saya. Hehehe”.

Keadaan di kelas cukup ramai siang itu. Ada yang makan bekal makan siangnya, ada yang belajar, ada yang menatap fokus ke layar laptopnya, entahlah, Adam tidak terlalu memperhatikan mereka semua, fokus Adam saat ini ada pada Andini. Adam dan Andini cukup lama ngobrol di sana hingga jam kuliah berikutnya yang membuat akhir perbincangan.

“Terima kasih mbak”. Meski Adam diminta tidak memanggil Andini begitu, Adam tetap memanggilnya mbak. Sebab Adam merasa Andini masih orang asing, dan Adam sendiri agak sungkan bila harus memanggil langsung namanya.

“Iya mas, terima kasih kembali”.

Adam melangkah keluar dari kelasnya dan kembali ke kelasnya. Sayangnya Adam telat, dosen telah sampai duluan. Meski diperbolehkan masuk, akan tetapi Adam tidak diperkenankan mengisi absensi. Walaupun tidak diperkenankan mengisi daftar hadir, namun Adam memaklumi dan tetap bersyukur, sebab masih bisa hadir secara langsung, mendengarkan penuturan materi dari dosen.

“Yahh Dam, rugi kan jadinya! Rugi makanan, rugi absensi. Nih makananmu sudah dingin”. Bagas menyodorkan bungkus ayam geprek itu pada Adam.

“Tidak apa-apa, terima kasih ya”.

“Sssstt.. jangan berisik”. Sergah Agus segera, yang masih fokus mencatat poin-poin penting dari penjelasan dosen.

Bagas segera menggembungkan pipinya, tak menyukai apa yang dilakukan sahabatnya. Adam hanya terkekeh kecil.

“Berisik! Jangan ganggu konsentrasi teman kalian”. Kata dosen secara tiba-tiba.

Ketiga sahabat tersebut kaget, sontak meminta maaf, lalu diam mengamininya.

Setelah hening sesaat, kelas itu kembali terisi dengan suara sang dosen. Tak lama berselang kelas pun usai, mereka pun kembali ke pondok bersama-sama.

Akhir-akhir ini mereka selalu akur, selalu kompak, seperti kemarin-kemarin sebelum Bagas bertemu Andini. Namun entah ada angin apa atau memang saat itu sedang ada setan yang lewat. Di taman, dengan wajah merah dan tinju terkepal, Bagas tiba-tiba saja menghampiri Agus dan Adam yang tengah duduk santai merasakan sejuknya taman kampus, langsung meninju tepat ke wajah Adam tanpa ampun, meninggalkan bekas merah di pipi Adam. Adam yang mendapat bogem sekuat tenaga sehingga terjatuh dan memegangi pipinya, menatap Bagas dengan pandangan penuh tanya, ada apa?

Agus yang tidak tahu ada masalah apa sontak menolong Adam. Mencengkeram kuat tangannya, membantunya berdiri. “Jangan pura-pura tidak tahu Dam! Sialan, jadi begini cara bermainmu? Menusuk dari belakang, HAH! Bukankah kita sahabat? Dan bukankah kamu sendiri yang melarangku duduk berduaan dengan lawan jenis? Lantas mengapa kamu sendiri berduaan dengan Andini di kelasnya?” ucap Bagas dengan sedikit membentak.

Adam terkejut mendengarnya. Dari mana Bagas tahu pertemuannya dengan Andini? Bukankah itu adalah rahasia Adam dan Andini saja?

“Iya, Andini yang bilang begitu kepadaku. Dia tidak bicara langsung to the point, dia juga tidak menjelaskan secara gamblang, tapi aku tahu jelas maksudnya, aku tahu jelas bahwa kamu ke kelasnya. Setelah itu aku mencari tahu lebih lanjut, bertanya kepada teman kelasnya. Merekalah saksi pertemuan kalian!”.

“Tolong, santai dulu Gas, dengarkan dulu. Aku kesana bukan ada maksud untuk-“ Belum selesai kalimatnya, bagas lebih dulu pergi dari sana, meninggalkan Agus dan Adam yang tengah termenung atas perbuatan kasar sahabatnya.

Bersambung…..

Disusun oleh: Muhammad Toyyib (KMNU UNISSULA)

Comments
Loading...