Lincah dalam Strategi Setia Pada Misi: Implementasi dalam Perspektif KMNU

Sebagai kader KMNU yang juga mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) tentunya kita semua tahu tema peringatan milad ke 79 yang diambil oleh UII yaitu “Lincah dalam Strategi Setia Pada Misi”. Tentu pemilihan tema ini tidak bersifat “ujug-ujug” namun melalui hasil pemindaian lingkungan internal dan eksternal. Tema tersebut diambil karena beragamnya praktik manajemen perguruan tinggi yang ada di Indonesia, yang menarik adalah bagaimana jika kita coba membawa tema tersebut pada kehidupan berorganisasi mahasiswa. Karena kita tahu ada banyak sekali organisasi kemahasiswaan yang ada di Indonesia dengan praktik manajemen yang beragam.  

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) adalah salah satu organisasi kemahasiswaan yang membawa misi membina kader-kader NU dalam rangka meneruskan estafet pemikir-pemikir besar Islam dalam upaya perjuangan menegakkan dakwah Ahlussunah Wal Jamaah An-Nahdliyyah (ASWAJA) di tingkat perguruan tinggi. KMNU yang dibentuk oleh para pendiri tentu mempunyai misi yang dibawa serta impian jangka panjang yang akan dicapai. Dalam menjalankan misi nya dan mencapai impian tersebut, tentunya organisasi harus memiliki strategi guna menunjang dan memandu arah gerak menuju tujuan akhir tersebut. Di era saat ini, organisasi kemahasiswaan menghadapi tantangan yang semakin dinamis dan menarik, organisasi memerlukan pemikiran strategis yang lincah dan efektif guna mencapai keberhasilan misi organisasi.

Mengutip website NU Online, dalam konteks dakwah ASWAJA, Nahdlatul Ulama masih memiliki kelemahan, yaitu pada metode dan manajemennya. Secara metodologis dakwah NU belum mengarah pada upaya diversifikasi dan secara manajemen masih mengandalkan pola-pola yang bersifat alamiah, belum ada usaha menjadikan dakwah NU dengan manajemen yang rapi dan sistematis. Kita ambil contoh sejumlah ustadz dari golongan sebelah yang populer baik di kalangan masyarakat maupun mahasiswa, meski hanya berbekal materi dakwah yang biasa saja, jauh dibandingkan dengan para da’i NU, tetapi mereka memiliki manajemen yang sistematis serta metode yang tepat untuk sebuah komunitas masyarakat. Bentuk yang paling bisa kita lihat adalah tersebarnya konten dakwah mereka secara luas di media sosial.

Lalu mengapa hal itu bisa terjadi? menurut pandangan penulis adalah karena kelincahan strategi yang mereka gunakan dan bentuk manajemen yang sistematis dan terstruktur rapi. Mereka bisa menyesuaikan diri dengan dinamika zaman dan memanfaatkan media dan kecanggihan teknologi lainnya untuk dakwah. KMNU sebagai organisasi kemahasiswaan yang mengusung dakwah ASWAJA dan menjaga tradisi amaliyah-amaliyah NU di tingkat perguruan tinggi harus melihat dan sadar akan kelemahan yang dimiliki. Kita harus merumuskan ulang strategi agar dakwah ASWAJA dapat menyebar di berbagai perguruan tinggi dan menarik dimata mahasiswa.

Tidak hanya dalam strategi dakwah, dalam kaderisasi KMNU juga harus berinovasi dalam strategi kaderisasi agar mahasiswa tertarik dan bergabung dalam dakwah ASWAJA agar KMNU dapat selalu menjaga misi yang dibawa saat pendirian organisasi. Bagaimana hal tersebut dapat dilakukan, yaitu kita harus lincah dalam memainkan strategi, sesuaikan apa yang diminati dan diminta oleh “pasar”. Mari kita ubah pola-pola strategi lama yang kurang rapi atau mungkin terlalu kaku sehingga dakwah ASWAJA yang sekarang belum banyak dilirik oleh mahasiswa menjadi memiliki daya tarik yang bagus.   Hal ini sesuai dengan pesan Gus Muwafiq di Harlah ke-7 KMNU yaitu KMNU di perguruan tinggi untuk membangun pengetahuan-pengetahuan untuk menopang gerakan-gerakan Islam serta menjadi bagian dari problem solver Islam dan Nahdlatul Ulama yang berkonsentrasi untuk meneruskan perjuangan Nabi dan Ulama dalam mengemban misi agama Islam.

Berfikir reflektif perlu dilakukan demi kemajuan KMNU, di sisi lain kita juga harus memikirkan beragam strategi pertumbuhan dan pergerakan yang diambil sebagai bentuk ikhtiar untuk tetap “lincah” terutama di era dinamis dan disruptif seperti ini. Namun di satu sisi pula, misi utama KMNU haruslah tetap dijaga dengan penuh kesadaran agar tidak tertinggal dan terjebak pada narasi negatif yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai Nahdlatul Ulama. Tentunya menemukan kombinasi ideal di kedua sisi ini tidaklah mudah. Perlu pemikiran mendalam dan konsensus beragam dari seluruh kader KMNU. Semoga kita semua dapat mengilhami lebih dalam terhadap tema yang diusung pada milad UII kali ini dan menuangkan abstraksinya dalam menghidupi dakwah ASWAJA melalui KMNU.

Penulis: Yusuf Ahmad Sudrajat (KMNU UII)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.