Kuncup Bunga Harapan (Chapter 4)

“Apakah itu benar Dam?” tanya Agus.

“Iya Gus, maaf tidak bilang sebelumnya”.

Agus membantunya duduk di kursi. Dia membenarkan posisi kaca matanya yang hampir jatuh tadi, lantas kembali bertanya kepada Adam.

“Sebenarnya ada apa kawan? Aku ingin kita baikan seperti sedia kala. Belajar bareng, makan bareng, semua terasa damai”.

“Hufft.. aku tidak menyangka teman-teman Andini memberi tahu kejadian itu. Jujur Gus, aku menemui Andini hanya bertanya mengenai perasaan dia kepada Bagas. Sebenarnya aku agak sungkan juga bertanya demikian, namun aku paksakan, sebab kalau dia hanya mempermainkan Bagas akan teramat buruk nantinya”.

“Lhaa, sebelumnya kamu bisa menemui si Andini itu bagaimana ceritanya? Tiba-tiba bisa berkomunikasi bahkan tanpa sepengetahuan aku dan Bagas?”

“Itu mudah lah Gus. Aku minta temen organisasiku. Itulah salah satu keunggulan berorganisasi, banyak relasi”.

“Keunggulan kepada kebaikan atau keunggulan kepada keburukan ini, hmm”.

“Hehehe maaf, aku tidak ada niatan buruk kok meghubungi Andini, sungguh”.

“Ya sudah, cerita dulu gih”.

Adam menceritakan semuanya, dari awal sampai akhir, dari A sampai Z, tidak kurang tidak lebih, tidak ada yang ditutupi, transparan kepada sahabatnya.

“Jadi begitu ya. Bisa disimpulkan kalau dia memang mencintai Bagas, namun tidak memiliki I’tikad menuju ke jenjang yang lebih serius. Begitu juga dengan Bagas, sepertinya mereka masih dalam masa cinta monyet”.

“Iya Gus, seperti itulah yang aku simpulkan dari penjelasan Andini. Bagaimana dengan Bagas kedepanya? Apakah kita menentangnya? Atau bagaimana?”

“Sudah sedari awal aku memang tidak suka dia memiliki hubungan istimewa dengan seorang gadis, tapi aku juga memiliki pandangan lain, yakni bila dia benar-benar serius terhadap cintanya, maka sebaiknya dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Kita jelaskan baik-baik ke orang tua Bagas misalnya. Biar mereka yang menindak lanjuti”.

“Ada benarnya juga Gus”. Mereka diam sejenak, sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing.

“Tunggu Gus, biar aku menjelaskan kesalah pahaman dengan Bagas terlebih dulu, baru kita pikirkan kembali mengenai hubungan Bagas dan Andini ini nanti, bagaimana?”

“Oke, aku juga akan ikut membantu”.

“Terima kasih”.

“Afwan yaa akhi”.

“Pffft”.

“Huahahaha”.

Mereka pun tertawa bebarengan menghilangkan ketegangan yang tadi menyelimuti hati mereka. Adam meminta tolong Agus untuk menemaninya membeli es batu di kantin. Sebagai kompres di pipinya yang lebam. Lalu mereka berdua ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang kemarin dipinjam. Tak lupa shalat terlebih dahulu di masjid kampus ketika adzan telah berkumandang. Lalu pulang ke pondok tanpa Bagas.

Mereka berdua turun dari angkot menuju ke gerbang pondok. Mereka menyapa beberapa teman santri yang kebetulan lewat.

“Mau ke mana Kang?” tanya Adam ke salah satu Kang santri yang lewat.

“Biasa, Bu Tuti, beli rames. Mau nitip Kang?”.

“Tidak Kang terima kasih, tadi sudah beli makan di kampus, mungkin beli makan nanti malam saja hehe”.

“Owalah oke, duluan ya”.

“Iya monggo Kang”.

“Monggo Gus”. Ucap kang pondok dengan badan sedikit menunduk.

“Eh, iya Kang monggo hehe”. Jawab Agus agak sungkan menerima ‘sikap hormat’ dari kang pondok tadi.

“Lho, nanti malam kan ada ngaji Dam, Kitab At-Tadhib. Jangan bilang mau bolos!”. Ucap Agus sembari menyikut lengan Adam.

“Tidak, bukan begitu Gus. Kita tetep ngaji, baru setelah ngaji beli nasi. Misal Bu Tuti sudah tutup ya tinggal beli nasi padang kan”.

“Oke Sang Pendahulu”.

“Ya Allah, usilnya mulai keluar. Jangan panggil gitu dong tolong. Aku kan bani Adam bukan Nabi Adam. Nama kami saja yang sama Gus”.

“Hahaha, iya maaf bercanda. Kadang tidak bisa nahan dam. Yang satu bakul gas, yang satu sang pendahulu. Hahaha”. Puas sudah Agus mengerjai sahabatnya. Sesampainya di kamar mereka langsung mencari Bagas. Karena tidak ketemu mereka pun memutuskan mandi terlebih dahulu meningat hari sudah petang, sebentar lagi maghrib pun tiba.

Selesai mandi, mereka merapikan diri, bersiap-siap untuk jamaah di masjid. Selesai jamaah langsung ngaji simaan Al-Qur’an di aula. Namun mereka merasa ada yang ganjil, sebab tak mendapati sosok Bagas sedari tadi. Setelah ngaji selesai, Adam bertanya kepada ustadznya.

“Punten ustadz, dari tadi saya tidak mendapati Bagas, apakah dia bolos, ataukah izin ya ustadz?”

“Tadi dari pengurus memberikan izin kepada Bagas, dia izin pulang selama 2 hari. Baru saja berangkat tadi sore”.

Adam dan Agus terkejut. Pandangan mereka bertemu.

“Gawat, bakal runyam perkara ini”. Batin mereka berdua.

“Aku benar-benar tidak menyangka Adam menusuk dari belakang. Jadi nasihat kemarin itu hanyalah akal bulus supaya dia sendiri yang mendapatkan hatinya Andini”. Batin Bagas sesaat setelah memukul Adam.

“Tapi tunggu, tidak, tidak mungkin Adam berbuat demikian. Aku kenal betul dia orangnya seperti apa. Dia dan Agus adalah sahabatku yang tidak mungkin berkhianat, menusuk dari belakang. Tidak, itu tidak mungkin”.

“Tapi bagaimana jika itu benar yang terjadi? Akhhh! Kenapa sih kamu menemui Andini Dam!”

Perang batin Bagus masih bergejolak dengan dahsyat meski tak seorang pun mampu mendengar teriak hatinya. Setelah penat hati membangun argumen-argumennya sendiri, dia memutuskan untuk langsung balik ke pondok, mengingat jadwal kuliahnya sudah selesai.

Sesampainya di pondok dia mengemasi barang-barang seperlunya saja, dia membatin jangan sampai Adam dan Agus sampai lebih dulu di pondok ketimbang keberangkatannya untuk pulang ke rumah. Dia harus cepat-cepat. Maklum, anak muda memang suka tergesa-gesa, plin-plan, dan berpikiran pendek.

 “Assalamualaikum”. Bagas segera menuju ke ruang pengurus setelah dirasa barang-barang yang dikemasnya sudah lengkap.

“Waalaikumussalam, masuk Kang”.

“Punten Kang, berhubung besok hari Sabtu, kuliah libur, saya izin pulang Kang, selama dua hari. Sabtu dan Ahad. Insyaallah Senin pagi sudah kembali ke pondok”.

“Kang Bagas ya? Apakah di rumah sedang ada urusan mendadak?” Tanya pengurus, menyelidik.

“Njih Kang”.

“Urusan yang sangat mendadak sekali Kang, aku harus pergi dulu, kabur dari dua sahabatku. Aku tidak bohong kang”. Batin Bagas.

“Ada keperluan apa Kang kalau boleh tahu?”

“Mohon maaf Kang, urusan keluarga, hehe”.

“Iya Kang, Adam dan Agus sudah saya anggap keluarga sendiri”. Batinnya.

“Ya sudah, sampeyan bawa buku izinnya kan? Sini tak kasih keterangan dulu”.

“Ini Kang”. Bagas menyodorkan buku perizinan pulangnya.

“Barang yang dibawa benar ini saja Kang?”

“Benar Kang, mengingat saya di rumah hanya dua hari, tidak perlu banyak-banyak”.

“Ya sudah, hati-hati di jalan, jangan lupa shalawatnya senantiasa dibaca-baca. Sampeyan tunggu di sini sebentar ya, biar tak panggil Kang Apri dulu.”

“Eh, iya kang”.

Tak selang lama orang yang tadi dipanggil pun datang.

“Monggo Kang Apri, Kang Bagas bisa diantar ke ndalem ya”.

“Ayo Kang tak antar pakai motor, barangnya biar di sini dulu. Setelah mendapat izin Abah nanti baru pulang”.

Begitulah, hanya para pengurus lah yang boleh membawa motor. Namun ini adalah motor milik pondok. Pondok menyediakan fasilitas tiga sepeda motor, dan satu mobil. Untuk kemashlahatan Bersama.

Karena jarak dari pondok dan ndalem tidak jauh, mereka pun sampai hanya dalam hitungan menit. Sesampainya di ndalem, dia pun mendapat ‘wejangan’ dari Abah Kyai untuk senantiasa berhati-hati di jalan, jangan lupa wiridnya senantisa dilanggengkan saat di rumah, jangan lupa untuk selalu shalat jamaah di masjid, menjaga sopan santun selama di rumah, dan berbakti kepada orang tua.

Setelah itu dia pun pamitan, mencium tangan Abah secara takdzim, kembali ke ruang pengurus, bergegas ke jalan raya, mencari bus, pulang.

“Ada lagi yang mau ditanyakan Kang?”

“Tidak Ustadz, sudah cukup, terima kasih”.

Sang Ustadz menganggukkan kepala lalu memimpin doa.

“Aamiin”. Ucap mereka bersamaan, lantas mencium tangan sang Ustadz dan kembali ke kamar masing-masing, menunggu adzan Isya berkumandang.

“Kang Anam, sampeyan tadi dipamiti sama Bagas tidak?” Tanya Adam ke salah satu teman kamarnya.

“Iya Kang, tapi dia tadi agak tergesa, tidak tahu kenapa”.

Hening sesaat, Agus yang saat itu di samping mereka juga diam.

“Ayo ke Masjid, bareng-bareng sekalian. Shalat tahiyatul masjid, sembari menunggu adzan, yuk”. Ajak Kang Anam, teman kamarnya.

“Iya Kang, suwun”. Kali ini Agus yang menimbali, melihat Adam yang bengong tadi.

Agus menyikut lengan Adam. “Setelah ngaji kitab At-tadhib nanti kita coba kontak Bagas, Dam, tidak usah dipirkan begitu”.

Adam hanya mengangguk, lalu mereka berdua pun segera ke masjid.

Bersambung…..

Disusun oleh: Muhammad Toyyib (KMNU UNISSULA)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.