Kuncup Bunga Harapan (Chapter 5)

Pikiran Adam sedikit menerawang ke mana-mana. Saat di masjid pun dia masih memikirkan Bagas. Selesai jamaah di masjid, Adam dan Agus tetap mengikuti kegiatan pondok, ngaji At-tadhib bersama Ustadz Zaki. Selesai ngaji mereka putuskan untuk ke angkringan Pak Dono, ngopi dan beli beberapa nasi kucing, mengganjal perut.

“Anak satu ini kalau sudah ngambek ternyata susah benar ngadepinnya. Ditelpon berkali-kali tidak diangkat, dikirimi pesan tidak dibalas. Semisal masih di pondok sih bisa diomongin baik-baik, masalahnya dia ada di rumah”. Gerutu Agus.

Adam hanya diam saja tidak menanggapi apapun. Lebih sibuk berkutat dalam pikiran. Karena tidak ada jawaban apapun dari Bagas, Adam merasa pasrah saja, dia sudah berusaha, begitu pikirnya. Dia sendiri pun merasa sungkan bila harus menghubunginya terus menerus. Agus yang melihat raut wajah kesedihan Adam segera menyemangatinya.

“Sudah Dam, kita tunggu saja kedatangannya nanti”. Ucap Agus.

Dijawab anggukan sebagai tanda persetujuan dari Adam.

Namun selalu saja ada hal-hal tak terduga yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Di hari Ahad, malam senin, Komting kelas mengumumkan bahwasanya dosen yang mengajar mata kuliah besok sedang tidak bisa menghadiri kelas, beliau hanya mengirim tugas sebagai pengganti absensi.

Hari Senin pun tiba. Mulai dari pagi sampai malam hari Bagas belum juga kembali ke pondok. Adam dan Agus kali ini benar-benar khawatir, mereka takut kalau Bagas memilih boyong dari pondok. Bahkan Kang Apri, yang kemarin mengantar Bagas ke ndalem pun menanyakan kapan keberangkatan bagas ke pondok, mengingat izin pulangnya hanya sampai hari ini. Kang Anam mencoba mengkonfirmasi bahwa bisa jadi dia mengalami kendala di perjalanan, macet misalnya. Kang Apri pun memaklumi dan meninggalkan kamar mereka.

Hari selasa pagi, langit cerah, siul-siul burung berkicauan di pepohonan. Cahaya mentari terasa hangat menyirami bumi. Di depan gapura pondok, terdengar suara mobil angkot yang menderum, berhenti tepat di depan gapura. Pak sopir, meminta penumpangnya untuk bayar ongkos perjalanannya. Setelah membayar, sang penumpang mengambil barang-barangnya, turun dari angkot dan menatap teduh ke arah bangunan pondok.

“Huffft, sepertinya memang aku yang kurang mampu menahan diri. Padahal berkali-kali sudah dijelaskan bahwa sesuatu yang berlebih-lebihan itu tidak baik. Mulai sekarang, aku harus lebih bisa mengontrol emosi, menjadi seorang penyabar”. Benar, orang itu adalah Bagas yang baru saja sampai di pondok tercintanya. Dia segera ke ruang pengurus, memohon maaf atas keterlambatannya. Lalu segera pergi menuju ke kamarnya. Kang Apri menuturinya sedikit ‘ceramah’ atas keterlambatannya, namun Kang Apri tak mau ambil pusing dan memilih untuk turut membantu mengangkat barang-barangnya Bagas. Di dalam kamar, Adam terkejut melihat kedatangan Bagas. Mereka saling bersitatap, tanpa aba-aba Bagas langsung memeluknya. Adam terkejut mendapati pelukan hangat dari Bagas. Canggung tentunya, namun dia segera membalas pelukan itu. Hening beberapa saat, sampai akhirnya Adam yang membuka suara lebih dulu.

“Maaf kawan”.

“Iya Dam, aku juga minta maaf”.

Bagas melepas pelukan itu lebih dulu, mereka saling senyum dan berjabat tangan. Bagas juga menyalami teman kamar yang lain, tak ketinggalan Agus juga.

“Bagaimana kabar sampeyan selama di rumah Kang?” Tanya kang Anam

“Alhamdulillah baik Kang, hehehe. Ohh iya Kang, ini ada sedikit oleh-oleh dari rumah, monggo Kang dibuka”.

“Wahhh ini yang ditunggu-tunggu, hahaha”. Canda teman kamarnya yang lain.

Sebagaimana lazimnya santri yang pulang ke rumah, sewaktu kembali ke pondok pasti akan membawa jajan untuk dibagikan ke teman-teman.

“Monggo dihabiskan”.

“Bagaimana keadaanmu selama di sana?”. Tanya Adam dengan memperkecil volume suaranya.

“Lha, padahal tadi sudah aku bilang baik-baik saja”.

“Bukan itu maksudku Gas, kamu tahu lah, masalah Andini”.

“Ohh, sudahlah. Aku mendapat wejangan dari si mbah yang terasa mak jlebb tiap kali aku mendengar wejangan-nya. Sebenarnya akunya saja yang kurang bisa mengontrol emosi”.

“Alhamdulillah”.

“Alhamdulillah?”

“Iya, karena kamu sudah tidak ngambek-ngambekan lagi”.

Mereka berdua pun tertawa bersama. Agus hanya tersenyum mengamati kelakuan kedua sahabatnya itu dibalik kacamatanya.

“Nahh, begini memang seharusnya. Sang pendahulu dan Si bakul gas kembali bersatu”. Ucap Agus yang tadi diam saja.

Adam yang tak terima langsung saja menimpuknya dengan bolpoin yang ada di sakunya. Bagas mengepalkan tinju ke mukanya. Tentu sebagai candaan antar sahabat.

“Iya-iya maaf. Sudah ah, ayo segera bersiap-siap, ingat hari ini ada kelas pukul 10.20 WIB, kalau sampai telat satu menit saja, kita tidak akan diperbolehkan masuk”. Ucap Agus.

Adam dan Bagas menyetujuinya, mereka lantas merapikan kamar, dan bersiap untuk berangkat. Meski saat teman kamar yang lain masih sibuk menikmati oleh-oleh mereka.

Hari Jumat tiba. Jumat adalah hari libur ngaji, setiap kegiatan ngaji diliburkan meski kuliah masih berangkat sesuai jadwal masing-masing. Namun wiridan sehabis subuh tetap dilaksanakan sebab jadwal wirid diwajibkan untuk dibaca setiap hari. Setelah wiridan selesai, Bagas, Adam dan Agus mempersiapkan diri untuk berangkat kuliah. Ada jadwal tambahan di pagi hari, sebagai pengganti pertemuan di jadwal aslinya, sebab sang dosen sedang ada keperluan mendesak di jam tersebut, begitu katanya.

Mereka berangkat lebih awal, mumpung semalam Bagas mampu setor hafalan cukup banyak, 15 nadhom. Dan mereka bertiga tidur lebih awal juga, jadi energi terasa fit di pagi ini.

“Dam, Gus, Setelah kuliah nanti bagaimana kalau kita lanjut ziarah ke makam Syekh Jumadil Kubro?” Usul Bagas ketika mereka sampai di dalam kelas.

“Hmm, ide bagus. Aku setuju”. Ucap Agus.

“Aku juga”. Dilanjut Adam.

“Oke, deal”.

Tak lama teman-teman kelas pun datang, begitu juga dengan dosen yang mengajar pagi hari ini.

Setelah jam kuliah selesai mereka mencari sarapan di kantin. Selesai sarapan, mereka memutuskan ke perpustakaan karena jadwal kuliah mereka nanti pukul 1 siang  yakni setelah shalat jumat, mereka membaca buku dan mencari beberapa referensi tugas di sana.

Tak terasa siang sudah berganti menjadi sore. Mereka bertiga bergegas ke masjid untuk shalat jamaah Ashar, dilanjut menuju ke makam Syaikh Jumadil Kubro untuk ziarah. Kebetulan makamnya tidak jauh dari kampus mereka. Di sebelah pom bensin Kaligawe.

Namun ada yang aneh dengan Bagas setelah sampai di makam. Dia Nampak gelisah, bacaan tahlil dan yaasiin nya pun terlalu cepat, seperti ingin segera pergi dari sana. Maka setelah selesai dibagian doa, Bagas meminta keduanya untuk segera pulang saja. Agus dan Adam yang sadar kalau Bagas sedang ada ‘masalah’ segera menyetujui usulannya. Mereka bertiga langsung keluar dari sana hendak langsung pulang ke pondok. Namun langkah mereka tertahan oleh suara seorang gadis yang menyapa Bagas. “Gas? Bagas kan? Tunggu!”

Bersambung…..

Disusun oleh: Muhammad Toyyib (KMNU UNISSULA)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.