Ceruk Pluralisme Indonesia dan NU

Indonesia, ditakdirkan Tuhan sebagai bangsa yang pluralistik. Bagaimana tidak, dari Sabang sampai Merauke, kita memiliki ribuan pulau, suku bangsa, adat istiadat, bahasa, masakan, flora dan fauna yang berbeda-beda. Ditambah kemudian dengan sedikit perbedaan iklim, yang mengakibatkan sifat kering dan basah suatu wilayah.  Iklim Madura cenderung kering, dan itu mempengaruhi karakter Islam di sana. Berbeda dengan Jawa, misalnya, yang sudah lama menjadi pusat kebudayaan, dengan konteks budaya tinggi (hight contect culture) tentu mempengaruhi karakter halus dalam beragama. Itulah ceruk Indonesia. Maka, begitu suatu nilai, suatu agama, atau apapun namanya, datang ke wilayah indonesia, maka dia akan menempati bentuk yang berbeda-beda pula.

Islam, suatu agama monoteistik, berbahasa Arab, datang dari Arab, dibawa oleh saudagar Gujarat atau petualang China, dan pengembara macam Ibnu Batutah, datang ke Aceh, ke Minang, Sunda, Jawa, atau Madura, maka Islam akan mencari bentuk, atau akan dibentuk oleh wadah dan tempat secara berbeda. Apalagi melalui berbagai agen yang berbeda pula. Maka otomatis model Islam Arab, akan berubah sesuai tempat ia singgah dan menetap. Ini namanya proses adaptasi dan seleksi alam. Sebuah proses yang alamiah, semestinya, dan sewajarnya.

Tentu tidak hanya Islam. Hindhu, misalnya, suatu peradaban pra-islam di Nusantara. Dalam cerita Mahabarata, misalnya Dewi Drupadi adalah istri dari kelima Pandawa, yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Jadi, di India itu hidup keluarga dengan sistem polyandri. Atau ada suatu kepercayaan persembahan terhadap pendeta perempuan dari para lelaki. Namun di Indonesia, cerita Mahabarata itu disesuaikan dengan ceruk budaya kita sendiri. Sistem polyandri tidak sesuai dengan budaya Imdonesia sehingga Dewi Drupadi hanya menjadi istri Yudistira. Bukan istri kelima Pandawa. Demikianlah juga agama-agama lain, tentu lebih dominan corak ke-Indonesiaan daripada negeri asalnya.

Peradaban yang kita saksikan, dan peradaban dimana kita hidup sekarang, sesungguhnya merupakan hasil daripada pergumulan, dialog, interaksi, dan evolusi antara budaya atau agama yang datang dari luar, dengan tradisi atau kepercayaan asli Indonesia. Bukan sesuatu yang dapat dicapai secara instan. Pergumulan nilai itu tentu melalui proses infiltrasi, adopsi, adaptasi, akulturasi, dan enkulturasi yang tidak mudah. Dan sampailah kepada puncak peradaban yang kita saksikan dan alami ini. Namun puncak ini masih terus berproses entah sampai kapan.

Peradaban baru itu hasil konstruksi dari picture an our head masyarakat kita. Picture an our head itu hasil aksi-reaksi nilai-nilai baru dan nilai-nilai lama. Konstruksi  itu disusun oleh masyarakat berdasarkan frame of reference dan field of experience. Inilah suasana kebatinan dan alam pemikiran bangsa yang bersifat duratif. Dan penyusunan itu melalui proses yang panjang yang dinamakan evolusi. Maka puncak peradaban itu tidak mudah tergoyahkan oleh nilai-nilai yang datang secara belakangan. Pluralisme itu, tidak bisa dilawan dengan adanya singularisme. Terkecuali tidak ada pewarisan sejarah atau pemutar balikan sejarah kepada suatu masa generasi tertentu sehingga mereka menjadi a-historis, kehilangan kepribadian dan identitas diri sebagai bangsa yang pluralistik.

Pluralisme dalam hal apapun adalah sunatullah sehingga tindakan rasisme atas nama warna kulit dan keimanan, bertentangan dengan agama. Islam, yang oleh pemeluknya dianggap agama yang sempurna, secara gamblang memaparkan keaneka ragaman ciptaan Tuhan ( QS, Al Hujurat:13 ). Toh kemuliaan itu ditentukan oleh ketaqwaan. Ketaqwaan ini dapat secara sederhana dirumuskan ketaatan kepada Tuhan. Baik dalam perintah atau larangan.

Pun demikian, dalam keimanan  Tuhan tidak menciptakan singularisme. Karena diciptakan berbeda-beda dalam keimanan ( dan keagamaan ), Tuhan mengajarkan bagaimana harus saling menghormati. Maka Dia membuat perintah yang jelas.

لَآ إِكۡرَاهَ فِى ٱلدِّينِ‌ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَىِّ‌ۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّـٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا‌ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٢٥٦)

“Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (QS. Al Baqarah: 256)

Dalam QS, Al Kafirun ayat 6, Allah juga menegaskan:

لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِىَ دِينِ (٦)

“Untukmu agamamu dan untukku agamaku”

Pentunjuk keimanan itu datangnya dari Tuhan. Orang yang tidak mendapatkan petunjuk, apa yang bisa dilakukan? Nabi bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang artinya :

“Apabila Allāh menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allāh jadikan ia beramal”. Lalu para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dijadikan dia beramal?” Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dibukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang – orang yang berada di sekitarnya ridha kepadanya.”

Allah dalam banyak ayat dari berbagai surat Al Quran, mengatakan bahwa petunjuk itu urusan Dia. QS, Al Fathir:8 menggaris bawahi:

 أَفَمَن زُيِّنَ لَهُ ۥ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ فَرَءَاهُ حَسَنً۬اۖ فَإِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَہۡدِى مَن يَشَآءُۖ فَلَا تَذۡهَبۡ نَفۡسُكَ عَلَيۡہِمۡ حَسَرَٲتٍۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ (٨)

“Maka apakah pantas orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya, lalu menganggap baik perbuatannya itu? Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka jangan engkau (Muhammad) biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat “

Bahkan Nabi pun dilarang Allah ketika menuntun pamannya yang masih kafir, tapi sangat mencintainya, yaitu Abu Tholib, menuju jalan keimanan. Karena petunjuk memang hak mutlak Allah. QS, At-Taubah: 113 menyatakan:

 مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن يَسۡتَغۡفِرُواْ لِلۡمُشۡرِڪِينَ وَلَوۡ ڪَانُوٓاْ أُوْلِى قُرۡبَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّہُمۡ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَحِيمِ (١١٣)

Artinya: “Tidaklah patut bagi Nabi dan orang-orang beriman memohonkan ampunan bagi orang-orang musyrik walau mereka kerabat dekat sesudah nyata bagi mereka. Bahwa mereka menjadi penghuni api neraka.”

Karena merupakan wewenang Tuhan, maka manusia tak bisa berbuat apa-apa, kecuali senang atau tidak, setuju atau tidak, tinggal menerima begitu saja tanpa syarat. Iman dan kafir sebuah keniscayaan hukum Tuhan yang tidak bisa dibantah.

Oleh karena itulah, para ulama al arif billah tidak mudah membuat hukum dan stigma kafir. Karena ini persoalan yang sangat berat. Beratnya terletak, bagaimana kehidupan yang beragam itu bisa tetap dijaga dan menjaga harmoni sosial. Karena bagaimanapun yang dihindari agama adalah kerusakan. Karena prinsip dan tujuan dari ajaran agama  adalah kemaslahatan. Jadi, yang diperjuangkan itu kemaslahatan, bukan agama itu sendiri.

Itulah mengapa para ulama membagi kafir, menjadi dua. Agar umat bisa bijak mengidentifikasi, mana lawan mana kawan. Para ulama membagi kafir, dengan istilah kafir harbi, yaitu orang kafir yang memusuhi orang Islam, sehingga kaum muslim wajib membela diri dari gangguan mereka.

Yang kedua, kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang hidup berdampingan dengan kita. Saling hormat menghormati. Harta jiwa dan kehormatannya wajib kita lindungi. Inilah gagasan luar biasa dari ajaran Islam. Tidak sembarangan, tapi penuh kecermatan.

Bahkan ulama kita, Nahdlatul Ulama, dalam menjaga pluralisme itu, dalam konteks negara, tak melihat pentingnya pembedaan diksi kafir dan mu’min. Negara mempunyai idiologi dan UUD yang menjadi dasar kehidupan. Bukan kitab suci. Dalam dasar negara dan konstitusi, diksi kafir dan mu’min, tidak ditemukan. Yang ada adalah nama rakyat, warga negara serta tidak disebutkan agama dan keyakinannya.

Eufemisme ini penting, untuk menjaga kemaslahatan berupa keutuhan negara. Jika polarisasi berdasarkan SARA meningkat, maka itu akan menimbulkan eskalasi konflik yang berdasarkan agama dan politik, sehingga akan mengakibatkan konflik yang tak berujung. Ini akan membuat kerusakan, jatuhnya korban rakyat tak berdosa, serta hilangnya eksistensi NKRI.

Inilah, mengapa ulama kita concern dalam ide dan gagasan pluralisme. Mereka memandang dengan cara Tuhan, bahwa Dia menciptakan mahluknya secara beragam. Apalagi yang menempati wilayah Indonesia.

Disusun oleh: Toufik Imtikhani (KMNU Unpad)

You might also like
Comments
Loading...