SANTRI

Saat ini kata santri tidak lagi asing di kalangan masyarakat, terutama banyaknya pondok-pondok pesantren mulai dari ponpes modern, salafiyah, dan lain-lain yang mana dihuni oleh santri-santri. Santri secara umum adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama islam di pesantren. Menurut bahasa, istilah santri berasal dari sansekerta, ‘shastri’ yang memiliki akar kata yang sama dengan kata sastra yang berarti kitab suci, agama, dan pengetahuan. Istilah santri ini sangat mengikat dan berhubungan dengan pendidikan pesantren. Para ahli berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji. Potret pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisional dimana para siswanya tinggal bersama dan belajar ilmu-ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan kyai. Biasanya mereka tinggal berada di asrama dimana kyai bertempat tinggal. Dapat kita pahami bahwa pesantren memiliki tiga unsur yaitu santri, kyai, dan asrama. Hingga pada tanggal 22 Oktober ditetapkanlah sebagai Hari Santri Nasional, dimaksudkan untuk mengingat dan meneladani semangat jihad para santri merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang digelorakan oleh para ulama.

Merujuk pada peristiwa seruan yang dibacakan oleh Pahlawan Nasional KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945, seruan ini berisi perintah kepada umat islam untuk berjihad melawan tentara sekutu yang ingin menjajah wilayah Republik Indonesia pasca-proklamasi kemerdekaan. Namun secara garis besar kata santri tidak hanya diungkapkan dan diartikan secara sempit yang telah dijelaskan di atas. Siapapun adalah santri, siapapun bisa menjadi santri baik yang pernah mondok maupun belum pernah. Santri adalah seseorang yang belajar agama, mendengarkan nasihat-nasihat kyainya. Santri sejatinya adalah yang membumikan jiwa agama dan mampu berkembang dengan damai, tentram serta dapat berkontribusi dalam berbagai lapisan ekonomi, sosial, politik dalam berperan sebagai warga Indonesia dengan memberikan kedamaian di setiap ia berada, ia merupakan mukmin yang kuat mampu berdiri dimana saja tanpa menggoyahkan imannya. Menurut Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Pamekasan, kata SANTRI jika ditulis menggunakan huruf Arab (سنتري) terdiri dari lima huruf. Yakni, sin (س), nun (ن), ta’ (ت), ra’ (ر), dan ya’ (ي). Masing-masing huruf itu memiliki makna filosofi tersendiri.

  1. Salikun ilal akhirah (سالك إلى الأخرة), orang yang menempuh kepada kehidupan akhirat. 
  2. Naibun anil masyaikh (نائب عن المشايخ ), pengganti masyaikh. Artinya siap menerima estafet kepemimpinan dan perjuangan guru, kyai, dan ulama. 
  3. Taibun anidz dzunub (عن الذنوب تائب), bertaubat dari dosa. 
  4. Raghibun fil khairat (راغب فى الخيرات), senang kepada kebaikan. Artinya berusaha dirinya selalu ada dalam jalan kebaikan. 
  5. Yarjus salamah fid dunnya wal akhirah (يرجو السلامة فى الدنيا والأخرة), mengharap keselamatan di dunia dan akhirat.

Terlebih karena “Siapa yang mau mengurusi NU, saya anggap ia santriku. Siapa yang jadi santriku, saya doakan Husnul Khatimah beserta anak cucunya”. (Rais Akbar Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari).

Referensi:

Herman, H. (2013). Sejarah Pesantren di Indonesia. Al-TA’DIB: Jurnal Kajian Ilmu Kependidikan6(2), 145-158.

https://www.nu.or.id/post/read/82083/semua-akan-santri-pada-waktunya

https://id.wikipedia.org/wiki/Santri

https://www.nu.or.id/post/read/97721/definisi-santri-menurut-gus-mus

Disusun Oleh: Dhea Fathiya Nahda (KMNU UPI)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.