Letupan Badai dari Era Jahiliah

Jazirah Arab adalah satu semenanjung yang terletak di sebelah barat daya Asia. Secara geografis, Jazirah Arab merupakan padang pasir luas, yaitu hampir lima per enam daerahnya terdiri dari padang pasir dan bergunung batu. Ditinjau dari iklimnya, negeri Arab adalah salah satu negeri-negeri terkering dan terpanas di muka bumi. Walaupun negeri ini berbatasan dengan laut di sebelah timur dan barat, namun di daerah perairannya masih terlampau kecil untuk mengimbangi keadaan udara yang bertiup dari daratan Afrika dan Asia yang tak berhujan. Akibatnya negeri Arab sangat miskin, bumi yang tandus dan penduduk yang hidup dalam serba kekurangan. Inilah penyebab mereka pada jaman dahulu hidup dengan mengembara karena keterlangkaannya sumber daya alam yang bisa didapatkan.

Luas Jazirah Arab adalah 1.200.000 batu persegi atau 3.000.000 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mencapai antara 12-14 juta jiwa. Jazirah Arab terbagi menjadi 2 bagian yaitu bagian tengah dan bagian tepi. Bagian tengah merupakan bagian yang jumlah penduduknya sedikit dikarenakan curah hujan yang turun sangat rendah. Oleh sebab itu, suku yang mendiami di bagian tengah selalu berpindah-pindah, sedangkan bagian tepi adalah bagian yang memiliki curah hujan yang teratur karena merupakan pertemuan antara Laut Merah dengan Laut India, sehingga banyak penduduk menetap di bagian ini.

Di samping Jazirah Arab terdapat tanah yang subur, yaitu daerah Yaman, terletak di sebelah selatan Hijaz, di mana hujan turun dengan teratur pada setiap musim, sehingga Yaman menjadi tempat peradaban yang kuat. Daerah Yaman memiliki bendungan yang merupakan hasil dari air hujan deras dari pegunungan tinggi. Bendungan tersebut dibuat celah-celah guna mendistribusi air kepada masyarakat. Bendungan tersebut dinamakan bendungan Ma’rib. Bendungan ini menjadikan Yaman negeri makmur dan sejahtera.

Bangsa Arab sebelum islam telah menganut agama yang mengakui Allah sebagai Tuhan semesta alam mereka, agama tersebut disebut agama hanif. Kepercayaan ini didapatkan secara turun temurun dari Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s. Meskipun kepercayaan tersebut dijaga sampai datangnya Nabi Muhammad saw, bangsa arab mulai mengenal agama yang menyimpang dari agama hanif yaitu agama watsaniyah. Agama tersebut mencampurbaurkan dengan tahayul, kemusyrikan, dan menyekutukan Allah sebagai Tuhan mereka. Mereka menyembah dan memohon kepada jin, roh, hantu, bulan, matahari, berhala, dan sebagainya. Agama watsaniyah terdiri dari anshab (batu yang memiliki belum bentuk), autsan (patung yang terbuat dari batu), dan ashnam (patung yang terbuat dari kayu, emas, perak dan tidak terbuat dari batu).

Penyembahan pada autsan dilakukan sejak abad ke-1 SM, sedangkan penyembahan pada ashnam dilakukan sejak pada akhir abad ke-2 M. Pada masa itu Umar bin Luhyi yang merupakan tokoh terpandang di Mekkah mengadakan perjalanan dari Mekah ke negeri Syria. Di Balka sudah berdiri kerajaan Amaliqah, ia mendapati penduduk negeri itu sedang menyembah berhala yang dapat mencurahkan hujan dan memberikan pertolongan. Umar bin Luhyi meminta kepada penduduk untuk agar diberikan padanya sebuah berhala untuk dibawanya pulang. Penduduk memberikan berhala yang besar, berhala tersebut bernama Hubal. Sesampainya di Mekkah Umar bin Luhyi menyuruh bangsanya untuk menyembah patung itu. Hubal diletakkan di dalam Ka’bah, hubal terbuat dari batu akik merah berbentuk manusia. Sebanyak 360 berhala diletakkan di sekeliling berhala utama Ka’bah, Hubal, diantaranya: Manata yang berarti yang maha kuasa, Lata perlambang dari matahari, Uzza perlambang dari bunga, Waddan lambang kasih sayang, Nasran perlambang kekuatan dan kecepatan.

Kehidupan bangsa Arab sebelum datangnya islam disebut dengan bangsa Jahiliah, karena mereka belum mengenal peradaban. Dalam kehidupannya, mereka bersifat fanatisme, baik dalam hal keyakinan maupun kebudayaan. Perzinaan mewarnai setiap lapisan masyarakat, sehingga pada masa Jahiliah sudah dikenal poligami tanpa adanya batasan maksimal. Oran-orang Arab terlahir dalam kondisi alam yang kejam, maka dari itu tidak mengherankan jika terlahir beberapa watak atau sifat yang dianggap negatif, antara lain: sulit bersatu, merendahkan derajat wanita, gemar berperang, kejam, pembalas dendam, angkuh dan sombong.

Watak dan sifat itulah yang pada akhirnya bangsa arab setelah itu hidup dengan cara membentuk kelompok. Hidup dengan cara berkelompok akan sangat menguntungkan ditengah kondisi alam yang tandus dan kejam. Pada kelompok inilah yang nantinya akan melahirkan seseorang yang akan mengubah bangsa Jahiliah yang penuh dengan kesesatan menjadi bangsa yang penuh dengan kedamaian, akhlak yang mulia, serta watak dan moral yang bersifat positif bagi semua orang. (Dede Wiyanto/Eff)

___________________________________________________

Sumber :

Sulasman & Suparman. (2013). Sejarah Islam di Asia & Eropa. Bandung: CV Pustaka Setia

Susmihara. (2013). Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: Ombak

You might also like
Comments
Loading...