Belajar dari Pak Hasyim

Beberapa hari lalu tepatnya tanggal 16 Maret 2017 umat Islam Indonesia berduka atas kepulangan putra bangsa dan juga ulama umat Islam Indonesia. Beliau adalah KH. Ahmad Hasyim Muzadi, kelahiran Tuban, Jawa Timur pada 8 Agustus 1944. Beliau adalah mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang adalah tempat beliau mengabdikan diri dengan menjadi Pengasuh Pondok Pesantren tersebut. Tidak hanya berkecimpung dalam ranah agama, beliau juga pernah terjun di ranah politik, yakni digandeng oleh Megawati Soekarno Putri untuk menjadi calon wakil presiden dalam Pemilihan Umum Presiden 2004. Tak heran jika jika kepulangannya menghadap Yang Maha Kuasa membuat banyak orang terutama umat Islam kehilangan sosok ulama yang meneduhkan dan mengayomi.

Tahun 2016KBRI Malaysia beruntung karena kedatangan sosok ulama dari tanah air untuk mengobati kerinduan dan untuk mendapatkan ilmu serta nasihatnya kepada warga Indonesia yang ada di Malaysia. KBRI Malaysia mengadakan Pengajian Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Adapun sebagai pembicara, tampil KH. Hasyim Muzadi. Sebagaimana galibnya para Kiai NU, Pak Hasyim (panggilan akrab beliau) juga tampil dengan performa yang memukau. Artikulasinya jelas dan tidak ada keraguan. Beliau juga berbicara atas nama pengalaman, bukan hanya penelitian. Cara bicaranya tidak terlalu lama, tidak juga terlalu pendek, tidak terlalu ilmiah, namun juga tidak bisa disebut dagelan. “Iki pengajian lho rek,” ajaknya menenangkan gelak hadirin.

Ceramah Pak Hasyim tidak hanya menjangkau otak para intelektual, tapi juga menjejak pengetahuan orang awam. Saya kira, Pak Hasyim adalah di antara mereka yang diajak bicara Rasulullah Saw, “Kallim al-naas bi qadri uqulihim” (Nasihatilah manusia sesuai dengan tingkat pengetahuannya). Pokoknya, tidak ada yang cemberut ketika itu. Takwa dan tawa bercampur baur jadi satu. “Pokoke nyenengke,” kataku dalam hati.

Berdasarkan latar belakang pendidikannya yang relatif divergen, ia mampu membawa perbedaan NU (Nahdlatul Ulama) dengan Muhammadiyah sedemikian mudah dipahami. Sebagai contoh, tentang kasus kirim pahala dalam tahlilan. Orang NU melakukan tahlilan karena merasa bahwa pahala tersebut sampai kepada si mayit. “Pahala pasti sampai, wong kiriman ndak pernah mbalek (kembali),” tandasnya disambut ger-geran hadirin. Di saat yang sama, ia juga memberikan justifikasi bagi Muhammadiyah yang tidak mau tahlilan. “Gimana mau nyampek, lha wong nota pengiriman aja ndak ada,” lanjutnya memecahkan gelak ruangan.

Pendapat belaiu di atas juga tidak berarti beliau abu-abu. Posisi beliau cukup jelas. “Okgimana kalau Muhammadiyah ikut tahlilan dengan niat baca al-Quran saja, dan ndak usah diniatkan mengirimkan pahala?” himbaunya. Apapun bentuk dan substansinya, pendekatan seperti ini sangat baik. Meski tidak serta merta memuaskan kedua pihak, sekurang-kurangnya mampu mencairkan suasana.

Kita tentu tidak bisa mengesampingkan gaya ceramah serius ala Prof. Quraish Shihab, yang bisa katakan adalah pendekatan serius semacam itu punya segmen tersendiri. Gaya humor semacam KH. Anwar Zahid tentunya juga punya audience dengan kriteria khusus, tetapi bagi saya, pendekatan paling moderat adalah gaya semacam Pak Hasyim. Sekali lagi, bagi saya lho ya. Beliau berdiri di antara kedua aliran tersebut, dan karena “khair al-umur ausatuha (sebaik-baik perkara adalah moderasinya)”, maka saya kira gaya seperti inilah yang sesungguhnya paling diperlukan dalam dunia dakwah sekarang ini. Tidak terlalu banyak tawa, dan juga tidak terlalu serius. Orang –terutama para awam– tidak merasa bahwa mereka dicekoki pengetahuan-pengetahuan agama. Meskipun itu memang acara agama. Ajaran dan doktrin Islam masuk dengan sedemikian lembutnya.

Lewat gaya Pak Hasyim bicara, saya bisa mengambil kesimpulan, “Kalau mau ceramah anda menarik, bicaralah dengan gaya ngomong face to face, lepas, tanpa beban”. Bukan tanpa persiapan lho ya. Saya masih ingat ketika kecil. Ketika saya juara pidato di Ma’had. “Saya hampir tidak menganggap bahwa para audience lebih tahu dari saya.” Meski, ketika sekarang sudah besar, terkadang menjadi seorang pemalu. Intinya, kalau ingin pidato anda menarik, jangan bicara dengan beban yang nggandol (menanggung). Lepas saja. Meski di atas panggung.

Paginya di hotel, kami sempatkan bertemu dengan beliau lagi. Bersama-sama kawan-kawan KMNU, kami ingin melepas keberangkatan beliau ke Tanah Air. Dalam ruangan yang serba rapi dan hening, suara Pak Subhan memecah. Mantan Presiden PPI Malaysia ini mengaku, “Kami datang ke sini, ingin agar Pak Kiai bisa memberi kami wejangan dan nasehat agar kami menjadi lebih semangat.” Sekali lagi dengan respon humorisnya, “Tapi, saya takut (setelah dikasih nasihat) kalian malah lemes nanti, heheheee.” Pertemuan mulai cair. “Pak Hasyim ini memang guyon terus,” sangkaku dalam hati.

Dalam sejam pertemuan, beliau membicarakan NU sebagai orang tua, mengajari, mendidik, mengarahkan, dan menasihati. “Njobo njero pokoke (luar dalam),” kesanku. Tentang liberalisme, ”Itu mereka yang bosen jadi orang sholih gitu ajahehhe..” Syiah, menurutnya, harus betul-betul diwaspadai karena gerakannya sudah masuk, menyusup, dan menjalar ke mana-mana. Porsi besar diberikan terhadap komunisme, di mana ia dikategorikan sebagai tantangan terbesar NU, dan yang lain lagi, lagi, dan lagi.

Saya yang sedari awal suudzon terhadap Pak Hasyim karena gemar guyonnya, menjadi sadar. Betapa banyak tantangan yang ada di hadapan kita. Betapa sekian permasalahan perlu kita selesaikan. Betapa sesungguhnya kita tidak bisa memejam mata ketika menyadari semuanya. Kami sadar bahwa kita tidak sedang hidup di dunia yang serba ideal. Itu semua adalah tugas kita. Itu juga bukan berarti kita harus memusuhinya, tetapi kita mengajak mereka. Menuntun mereka dengan cinta, bukan dengan paksa. Kebaikan disebut kebaikan karena ada keburukan. Pendakwah pun dibilang pendakwah karena ada pendosa. Kebenaran terbukti benar karena ada yang terbukti salah.

Hmmm…bener ya peks, kok malah jadi lemes ya,” kata Robby, Si Bantany sahabatku. Wallahu A’lam.

(Aziz Ahmad/Eff)

You might also like
Comments
Loading...