Refleksi Hari Sumpah Pemuda

Telah dikatakan bahwa kemalasan disebabkan sedikitnya membaca tentang keutamaan ilmu. Oleh karena itu, hedaknya seorang murid menimbulkan kesungguhan dan ketekunan dalam dirinya dengan menelaah keutamaan ilmu, karena ilmu akan tetap kekal selama pengetahuan itu masih ada, sedangkan harta akan habis, seperti yang dikatakan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib: “Kami rela ketentuan Tuhan yang Maha Perkasa pada diri kami, kami memperoleh ilmu dan musuh memperoleh harta. Karena harta akan hancur dalam waktu dekat, sedangkan ilmu akan kekal selamanya.

Dengan ilmu yang bermanfaat seseorang mendapat pujian yang indah dan akan terus melekat padanya meski setelah ia wafat, karena ilmu adalag hidup kekal. Syaikh Al Imam Dhahiruddin Mufti para Imam Hasan bin Ali yang dikenal dengan nama Al Marghinani Rahimahullah menuturkan sebuah syair: “Orang-orang yang bodoh adalah orang mati sebelum kematian mereka, orang-orang yang alim meski telah meninggal tetap saja hidup.

Syaikhul Islam Burhanuddin menuturkan:

Kebodohan adalah kematian bagi pelakunya sebelum kematian mereka, Tuhan mereka menjadi kuburan sebelum mereka dikubur. Sesungguhnya seorang yang tidak hidup dengan ilmu adalah orang mati, dan dia tidak akan dibangkitkan saat hari kebangkitan.

Penyair lain berkata: “Orang yang berilmu akan tetap hidup setelah kematiannya, meski tubuhnya telah menjadi tulang belulang dalam tanah. Orang yang bodoh adalah orang mati sedangkan ia masih berjalan di atas tanah. Ia mengira dirinya termasuk orang yang masih hidup padahal ia telah mati.

Penyair lain berkata: “Hati itu akan hidup dengan ilmu, maka manfaatkanlah. Hati akan mati dengan kebodohan, maka hindarilah.”

Syaikh Syaikhul Islam Burhanuddin menuturkan:

Ilmu adalah kedudukan yang tertinggi, manusia yang tinggi kedudukannya adalah golongan berilmu. Orang yang berilmu kemuliaannya akan terus bertambah, sedangkan orang yang bodoh setelah meninggal tidak ada yang mengenalnya. Kedudukannya jauh lebih mulia daripada orang yang bergelar Raja dan panglima yang memimpin pasukan. Aku akan jelaskan padamu sebagian keunggulan ilmu, maka dengarlah karena aku tidak mampu menyebutkan seluruh keunggulannya. Ilmu laksana cahaya yang membimbing dari kebutaan, sedangkan orang yang bodoh selalu dalam kegelapan sepanjang masa. Ilmu laksana puncak gunung yang tinggi melindungi orang yang berlindung kepadanya dan berjalan dengan selamat dari kebanjiran. Seorang akan selamat dengan ilmu tatkala orang lain dalam kelalaian, ia akan selamat meski ruhnya berada dalam tanah. Dengan ilmu seseorang dapat memberi syafaat kepada pendosa, yang tempatnya di jurang neraka yang paling bawah. Barang siapa yang mencarinya berarti ia mencari segala-galanya. Barang siapa yang meraihnya berarti ia meraih segala keberuntungan. Wahai orang yang pandai ilmu adalah kedudukan tertinggi, bila engkau telah memperolehnya jangan risau bila engkau tidak meraih kedudukan duniawi. Bila engkau tidak memperoleh kenikmatan duniawi. Janganlah engkau hiraukan karena sebaik-baik pemberian adalah ilmu.

Diskusi interaktif bersama Kang M. P. W. Jati (MPO Nasional)

Sumpah pemuda, dimana para pemuda berada di tengah perbedaan, keanekaragaman, tetapi mereka mencari titik temu. Harus mempunyai titik temu supaya bisa bersatu. Kalau memang dilihat dari sumpah pemuda, berkumpulnya anak-anak muda dari bangsa barat – timur. Tentunya dapat kita bisa ambil pelajaran bahwa membutuhkan koneksi satu sama lain.

Pentingnya pemuda sebagai motor penggerak suatu hal, apapun itu. Ketika kita berbeda-beda nanti kita tidak bisa memperoleh kesuksesan, kecuali kita memperoleh kesepakatan, visi dan misi visi yang sama.

Bagaimana menjadi pemuda yang ideal?

Kenali diri sendiri, refleksi diri bahwa kita hidup di dunia ini di Indoneisa untuk apa, sebagai apa, dari situ kita bisa mengambil peran.

Refleksi sekarang, visi misi kita satu itu untuk bagaimana? Kalau dulu kan berjuang seperti perang, kalau sekarang bagaimana?

Tentunya sekarang kita adalah melanjutkan apa yang dilakukan para pendahulu, melanjutkan dengan versi kita, misal kita bisa mmeahami nilai-nilai Pancasila. Kita membutuhkan visi inovasi dan continuitas. Keduanya saling berjalan beriringan. Kita harus menilai bahwa peradaban di Indonesia ini Pancasila itu harus bertitik pada 3 nilai, karakter, tata kelola, dan kesejahteraan. Peran para pemuda harus memiliki tata nilai yang baik, akhlaq yang baik, etos kerja yang keras dan baik, tata kelola bagaimana kita berinovasi, mengerjakan sesuatu yang ada di depan kita.

Demi kesejahteraan, kita sebagai khalifah fil ardh (khalifah di bumi). Kita harus mengambil peranan bantu membantu, bahu membahu, saling menyejahterakan manusia. Kalau misal dalam tata nilai, kita melihat tata bahasa, karakter kesatuan. Setidaknya ada 3 nilai tersebut tadi.

Di zaman sekarang kita dihadapkan dengan pandemic covid-19, perkembangan zaman, sebenanya kita perlu membahas tentang bagaimana masa depan kita kelak. Kita tidak hanya belajar di amaliyah saja, jangan membahas perbedaan kita saja, tetapi mencari titik persamaan dan menuju Indonesia yang maju.

Sistem yang dibuat Nabi adalah system yang modern, terdapat berbagai suku, agama, perbedaam tetapi saling bergotong royong tanpa adanya perbedaan.

Melihat persatuan secara utuh sebagai umat manusia, juga tentang nilai-nilai continuitas, penyatuan, konsentris (tujuan kita sama tapi cara masing-masing yang efektif). Kalau kita melihat kembali, melihat para sesepuh kita dulu menggagas Pancasila itu dari berbagai macam agama, tapi mereka bisa memikirkan satu focus yaitu Pancasila. Dimana mereka tidak focus mengenai agama mereka, tetapi pada budaya Indonesia.

Untuk sekarang ini kita sebagai para pemuda harus melestarikan kesejarahan, karena itu sangat penting. Itu merupakan pondasi kita untuk mengahadapi modernitas sekarang.

Terkait sumpah pemuda, jadilah pemuda yang menjadi pemersatu bangsa, jangan jadi para pemuda yang pemecah bangsa , karena di tangan pemuda sekaranglah bagaimana nasib negara Indonesia ini ke depan. Dari sekarang kita harus semangat dalam belajar, mengaji, mengabdi dan membangun rasa nasionalisme.

Sumber : Kajian online kitab kuning Ta’limul Muta’allim KMNU Pusat tanggal 31 Oktober 2020

Pembicara: Muh. Adib R (Koor Kajian Kitab Kuning) Divisi Kajian dan Dakwah, Depnas 5 bersama Kang M. P. W. Jati (MPO Nasional)

You might also like
Comments
Loading...