Menjadi Santri dan Mahasiswa yang Baik, Prestatif, serta Organisatoris

Santri yang baik merupakan santri yang bisa mengamalkan ilmu yang didapat di pesantren. Ilmu yang didapat diamalkan di kedidupan sehari-hari. Misalnya diajarkan untuk bersikap tawadhu (rendah hati) terhadap sesama teman kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tantangan santri di era milenial ini di samping belajar ilmu agama, juga harus belajar ilmu umum yang lain.

Sudah banyak santri yang selain mengenyam pendidikan informal di pondok pesantren juga dibarengi pendidikan formal sampai di jenjang perguruan tinggi sehingga banyak ditemui seorang mahasiswa yang sekaligus menyandang status santri. Perlu adanya manajemen waktu untuk mahasiswa yang sekaligus santri, bagaimana waktu di pondok dan di luar pondok. Misalnya santri tahfidz dan kitab. Ketika ada waktu murojaah jangan sampai ditinggalkan demi kegiatan organisasi. Harus bisa membagi waktu dengan baik. Walaupun sudah kuliah dan berada di lingkungan yang berbeda, harus tetap menjaga adab, Selain itu adalah sikap tawadhu.  Jangan sampai menjadi orang yang sombong. Hiduplah kamu dalam keadaan mulia atau mati dalam keadaan syahid. Jangan sampai santri terlepas dari hati karena hanya menuruti modern. Tetaplah menjadi santri meskipun sudah dalam dunia yang modern ini.  Jangan sampai terbawa arus zaman dan juga ada pembatasan dalam bergaul, lebih menjaga dari lawan jenis.

Mahasiswa sekaligus santri juga harus memiliki prestasi dan cita-cita yang tinggi. Pokok kunci yang utama dalam keberhasilan adalah sungguh-sungguh dan cita-cita yang tinggi. Ketika ingin sukses, maka dibutuhkan kesungguhan dan cita-cita yang tinggi. Barang siapa yang bersemangat menghafal kitab Syekh Muhammad bin al Hasan dan disertai dengan kesungguhan, ketekunan, dan diiringiri dengan sungguh-sungguh dan istiqomah, dia akan menghafal sebagian besar kitabnya atau setengahnya. Sedangkan apabila dia bersemangat tinggi tetapi tidak bersungguh-sungguh, atau dia bersungguh-sungguh tetapi tidak bersemangat tinggi, makai dia tidak akan memperoleh ilmu kecuali sedikit.

Syekh al Imam Radhiyuddin an Naisaburi Rahimahullah menyebutkan dalam kitab Makarimul Akhlak berkata:

Ketika Zulkarnain berniat untuk melakukan perjalanan guna menguasai ufuk barat dan timur ia merundingkan hal ini kepada orang-orang bijak, ia bertanya: “Bagaimana aku akan melakukan perjalanan hanya untuk kerajaan yang sebesar ini saja? Karena dunia sangatlah sedikit dan segera hancur, dan kekuasaan duniawi adalah perkara hina, sudah pasti hal ini bukanlah termasuk semangat yang tinggi”. Orang bijak itu berkata: “Berjalanlah agar engkau memperoleh kerajaan dunia dan akhirat.” Ia menjawab: “Kalau yang ini lebih baik.”

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah mencintai perkara yang luhur (tinggi, bagus) dan Allah membenci perkara-perkara yang hina. Maka jadilah kita orang yang mulia. Kalau ingin mulia kita harus bertaqwa. Selama itu benar dan sesuai dengan syariat, insyaAllah akan diberi jalan oleh Allah, maka jalanilah saja.”

Tidak lupa pula dalam setiap usaha juga harus dibarengi dengan doa karena usaha dan doa adalah mutiara kehidupan. Jika menginginkan sesuatu maka janganlah tinggalkan keduanya. Ketika ingin mencapai cita-cita, tentunya diawali dengan niat, kemudian usaha proses yang sangat menantang, membutuhkan effort yang lebih. Jadi pintar-pintarnya membagi waktu. Berandai-andai sesuatu tanpa adanya usaha itu sangat sia-sia. Harus siap melewati kejenuhan, susah payah, pahit manis. Jangan sampai menginginkan sesuatu tanpa ada usaha karena pada dasarnya manusia itu lemah. Setiap orang tentu pernah merasakan kemalasan. Di fase seperti ini lebih baiknya menggerakkan hati sendiri untuk bangkit dan bersemangat lagi. Selalu berusaha dimanapun berada, rencanakan hidup, diiringi dengan doa, dan jangan malas-malasan. Dalam hidup harus selalu ingat bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Harus seimbang dan direalisasikan untuk tujuan yang ingin dicapai seperti membahagiakan kedua orang tua, sesama, dan lain-lain.

Janganlah tergesa-gesa dalam mewujudkan suatu urusan, bersabarlah (ulet) karena keuletan itu ibarat api yang dapat melunakkan tongkat dan besi. Apabila ingin berhasil, maka harus semangat dan jangan tergesa-gesa karena itu perbuatan syetan. Tetapi juga jangan terlalu santai karena itu bisa mengakibatkan kemalasan. Abu Hanifah pernah berkata kepada Abu Yusuf yang berbunyi: “Dahulu engkau orang yang bodoh tetapi engkau dibebaskan oleh kesungguhanmu, jauhilah kemalasan karena ia adalah perbuatan tercela dan musibah yang besar.

Syekh al Imam Abu Nasir Ash Shafar Al Anshari Rahimahullah berkata:

Hai jiwaku, janganlah engkau menunda-nunda waktu untuk melakukan perbuatan yang baik dan adil, karena setiap yang melakukan kebaikan selalu didamba, sedangkan orang yang malas berada dalam musibah dan kehinaan.”

Kemudian diambil juga pendapat dari Mushannif yang berkata:

“Wahai diriku, tinggalkanlah kemalasan dan sikap suka menunda-nunda. Kalau tidak, tetaplah engkau dalam kehinaan ini. Aku tidak pernah melihat orang yang malas mendapat bagian kecuali penyesalan dan terhalangi keinginannya”.

Santri sekaligus mahasiswa harus dapat menghilangkan rasa malas yang sering timbul. Harus ada paksaan dalam diri sendiri untuk menghilangkan rasa malas tersebut. Misalnya skripsi tidak dipaksa untuk dikerjakan, tidak akan selesai, malah tertunda-tunda. Maka dari itu perlu dipaksa. Berapa banyak rasa malu, kelemahan, dan penyesalan yang besar pada seseorang karena kemalasannya. Jauhilah kemalasan dalam perkara yang samar, tanpa engkau sadari keraguan yang telah timbul karena kemalasan. Kemalasan itu tidak ada hasil yang baik, tetapi hanyalah ada penyesalan di akhir.

Sumber : Kajian online kitab kuning Ta’limul Muta’allim KMNU Pusat tanggal 24 Oktober 2020

Pembicara : Muh Adib R (Koor Kajian Kitab Kuning Divisi Kajian dan Dakwah, Depnas 5) bersama Mbak Aniswatul Khasanah (Depnas 5 Divisi Kajian Ilmiah)

Comments
Loading...