Hasil Karya Lomba Cipta Puisi Regional Jatim Bali

Perjuangan Santri oleh Dewi Julia (KMNU Udayana)

Kisah melodi asrama santri tak pernah berhenti
Sungguh damai, menentramkan hati yang sunyi
Biarpun raga selalu terkekang,
dibalik pagar suci
Tak berarti jiwa melayang tanpa kendali

Menjadi santri adalah pilihan
Jalani hari penuh ketakwaan
Berjuang melawan nafsu juga emosi
Demi menerapkan syariat islami

Berjuang dan bertahanlah!
Langkahkan kaki pada tujuan pasti
Luruskan niat mengharap rida Ilahi
Dan, jadilah teladan untuk negeri ini.

Tahmid di Kala Fajar oleh Dito Afako (KMNU UB)

Kepada Allah-lah kami bersyukur tiada lelahnya
Atas segala anugerah yang Dia berikan
Kekuatan, kesehatan, dan akal sehat
Sungguh, mereka akan kembali kepada-Nya

Kepada Allah-lah kami bersyukur tiada lelahnya
Keberanian para pahlawan melawan kolonial
Membangkitkan semangat kebangsaan
Semangat itu semakin melekat di badan

Kepada Allah-lah kami bersyukur tiada lelahnya
Ilmu yang kita bawa
Kami jadikan itu sebagai pakaian
Untuk merawat akal dan nalar

Kepada Allah-lah kami bersyukur tiada lelahnya
Rasa keislaman dan Kenusantaraan
Kami jadikan sebagai pandangan
Dalam menjalankan kehidupan

Asa oleh Elsa Darma Pratiwi (KMNU UB)

Ingatkah kau Pemuda!
Bung Karno membakar semangatmu
Kau junjung tinggi merah putihmu
Bak tak kan ada kematian yang mengancamu

Ingatkah kau Pemuda!
Jasa mereka takkan pernah sirna
Menyulut semangat kebangsaan
Di negeri kita tercinta

Kiat-kiatmu kini diuji oleh bangsa sendiri
Kepatutanmu, keikhlasanmu, kebebasanmu untuk ibu pertiwi
Janganlah bertingkah kau tak peduli
Jutaan umatmu kan selalu menanti

Wahai Pemuda, hapuskan rasa takutmu
Genggam erat semangat juangmu
Bukankah kau sudah berjanji pada negerimu
Tuk tak segan berjibaku dan selalu pertumpu pada ilmu

Bukan lagi angan yang selalu terbanyang
Bukan pula kenangan yang selalu menyibukkan
Tapi, langkah kepastianmu yang kami butuhkan
Bismillahirrahmanirrahim

Sang Panji Negeri Rakus oleh Elsa Darma Pratiwi (KMNU UB)

Melihat Negeri ini…
Detik ini pun masih tampak gejolak disana-sini
Seolah hari-hari hanya penuh riuh dan gaduh
Saling beradu, tak hanya pikiran
Ujaran kebencian kian ringan
Bak santapan yang wajar adanya
Apakah negeri ini lupa jati dirinya?

Arus zaman kian kencang
Lika-likunya tak terelakkan
Menuntut pemukimnya memasang sabuk pengaman,
menanti datangnya perubahan
Menancapkan kuat-kuat buah Nurani yang masih murni
Adalah jalan kuasa dan tangan Ilahi
Tersisip cahaya yang menerangi
Dari para cendekiawan dan santri
Tindak-tanduknya mendamaikan hati
Tulus ikhlas perjuanganmu selalu dinanti
Baktimu selalu mengayomi
Santri,…. curahkan dirimu untuk negeri
Santri, kaulah Panji negeri kami

Nasihat Manis oleh Ika Wita Ersalina (KMNU UNAIR)

Seminar-seminar sibuk membakar generasi muda
Menjadi terdepan bagi arah perubahan bangsa
Menuju Indonesia Emas di tahun empat lima
Menggenapi seabad usia bangsa

Slogan from zero to hero dikencangkan
Jadi motivasi umum bagi santri di seluruh penjuru
Lagi-lagi diharapkan menjadi perubahan
Untuk meneruskan perjuangan yang dewasa lebih dulu

Angin malam keras menerjang pikiran
Mengguncangkan angan tunggal bayangan apa itu pahlawan
Bahwa pahlawan tak melulu nantinya yang terdepan
Ia bisa datang dari arah yang tak direncanakan

Seperti kawanku, tiba-tiba eksis
Hanya karena ia mengamalkan nasihat manis
Terus membagi, hingga kantong menipis
Sedikit-sedikit keburukan di sekitarnya terkikis

Juang oleh M. Syifa Zam Zami (KMNU UB)

Kami santri Indonesia, berjuang untuk tujuan yang satu, Indonesia yang merdeka.
Merdeka dari belenggu penjajahan apa saja
Penjajahan bangsa asing
Yang membuat kepala pusing
Ataupun penjajahan bangsa sendiri
Yang membuat kepala semakin nyeri
Apakah kami hanya membual saja selama ini?
Nyawa para ulama yang telah hilang terlalu mahal untuk kami sia-siakan
Harganya pun tak sanggup kami angsur walau dengan tenor yang lama
Silahkan pecahkan kami dengan pemukul besi
Tembak dengan meriam yang paling sakti
Bakar kami dalam lautan bara api
Niscaya kami tetap berdiri
Demi mewujudkan mimpi para ulama kami
Merdeka di negeri sendiri

Abdi Negeri oleh Mailul Munawaroh (IAIN Ponorogo)

Ragam tanah airku bersatu
Menggenggam erat panji yang selalu tertancap
Semangatku kan terus tersulut api
Hingga nyawa ini tiada di bumi

Ragam tanah airku bersatu
Menggenggam erat panji yang selalu tertancap
Semangatku kan terus tersulut api
Hingga nyawa ini tiada di bumi

Tak berjuang dengan tembak
Namun kajian kitab selalu beranak
Tiada senapan pun tak menjadi halangan
Bibir terbasahkan dengan do’a dan sholawat
Hingga pemberontak tak mampu mendekat

Sang kyailah sosok panutan
Menggenggam erat Indonesia yang tersayang
Do’a dan pengharapan terus mengalur
Demi Indonesia yang baldatun toyyibatun wa robbun ghofur

Berjuang dan Pertahankan oleh Maulana Wulida (KMNU UB)

Kala Indonesia bak berlian pengantin baru
Tak sedikit lirikan terlontar padanya
Bersinar emas dalam tubuhnya
Tak sedikit cakra untuk mengambilnya
Pancasila dasar negaranya
Gemah ripah loh jinawi tanahnya
Toto tentrem masyarakatnya
Mengundang negara tetangga untuk merebutnya

Kini Indonesia masih berjuang
Kala senja mulai hilang
Mentari berganti setiap pagi
Negara mulai dilawan oleh bangsanya sendiri
Berbagai paham masuk tak terkendali
Jatuh, bangun, sakit, dan masih bangkit
Ibu pertiwi masih kokoh dengan pancasilanya
Walaupun beragam budaya, masih tetap bersatu jua

Kini Indonesia masih bertahan
Dibalik hiruk piruknya calon pejabat
Yang mengemis tanpa malu pada rakyat
Toto tentrem pun masih melekat

Merajuk Tuhan Lewat Doa oleh Delvi Yurvila Nada (KMNU UNAIR)

Gemuruh takbir dan senyuman nan merekah
Allah hadir menebarkan berkah tak terhingga
Lihatlah
Tegap berdiri tak takut mati
Mengenggam tasbih melangitkan dzikir pada Illahi

Sorot matanya tajam penuh keyakinan
Langkahnya jelas terarah dan pantang menyerah
Mereka adalah manusia-manusia yang percaya
Bahwa gaungan doa di langit yang Maha Kuasa
Adalah jalan pintas meraih kemenangan membela negara

Mereka adalah pahlawan badaniyah
Mereka adalah pahlawan Ruhaniyah
Menjadi garda pembela tanah yang disebutnya negara
Hubbul wathon minal iman di hatinya
Namun tak seperti pujangga pada kekasihnya yang hanya omong belaka
Tajuk mereka adalah realita
Mereka adalah pahlawan negeri yang beriman pada Illahi Robbi

Santri Hiya Hiya Hiya oleh Delvi Yurvila Nada (KMNU UNAIR)

Tegap badan kokoh berdiri
Bersila santai menawarkan kopi
Menjadi garda pembela tanah yang disebutnya negeri

Santri
Begitu kebanyakan orang menyebutnya
Sarung pengikat perutnya
Peci menjadi ciri khasnya
Baktimu abadi kepada negeri
Cintamu suci pada Illahi Robbi

Ucapanmu sejuk seperti embun pagi
Menenangkan dan menuntaskan kegundahan
Berdakwah tanpa memaksa
Mengajak tanpa mengejek
Langkah hidupnya teratur

Tutur katanya lembut menyenangkan
Kepada negara saja mereka membela
Apalagi kepadamu
Wahai jodoh yang tak kunjung tiba
Hiya Hiya Hiya

Evolusi Santri oleh Siti Khalimatus Sa’diyah (Evolusi Santri)

Metamorfosis dari sebuah kebodohan
Mulai merangkak kearah garis kebenaran
Belajar berdiri dengan syariat yang ditekankan
Lalu berlari bersama tasawuf dalam dekapan

Santri, tak lagi tombak dan bambu runcing
Tak ada darah disertai tubuh terguling
Kini saatnya mengkaji, berkumpul kemudian berunding
Kemukakan aspirasi ditengah negara genting

Sosial media bukan ajang popularitas
Jari jemari suci bukan untuk menulis kata tak pantas
Izar dan khimar tetap menjadi identitas
Saatnya dalami semua ilmu dan lukiskan kreatifitas

Sepenuh Al-Fatihah oleh Sri Rahayuningsih (KMNU IAIN Ponorogo)

Pada pusara yang harum dengan aroma bunga
Dalam keheningan cahaya bumantara
Bijak bestari melangkahkan kakinya
Diikuti puluhan pasang kaki lainnya
Kemudian bersimpuh serupa duduk tasyahud
Membungkuk dengan khusyuk

Bayang-bayang 10 november silam
Berbondong-bondong melawan
Bambu runcing adalah bukti keberanian
Rasa sakit yang menembus
Getir pahit akibat senjata terhunus
Rasa manis akan merdeka
Atau mati menjadi syuhada

Sepasang tangan menangkupkan ruas-ruas jemari
Bibir-bibir mulai merapal nama-nama yang terpatri
Direngkuhnya dengan al-fatihah yang penuh
Dengan dada yang bergemuruh
Air mata yang enggan berteduh
Tubuh yang teramat rapuh
Rindu antara fajar dengan subuh
Dengan al fatihah yang akan terus tumbuh

Nusantara oleh Wisam Zuhdi Surya Nusantara (KMNU UB)

Dari sedalam palung sajak
Kusisihkan setetes air
Basuhkan dalam kesucian semesta
Demi kokoh tegak
Nusantara

Wahai santri harapan bangsa
Yang kian terkikis angkara

Mengapa….
Eksistensi nusantara mulai sirna
Karena arogansi kian menggila
Terbaur ego radikalisasi
Menancap liar tiada kendali

Bersandar jalan nirwana
Membakar tekad berpacu di dada
Melebur abadi nurani
Walau timah berjuta menghampiri
Sungguh, tak kubiar tetes kelam ibu pertiwi
jatuh kembali

Wahai kawula santri
Yang mulai menggores perih
Nanar mata kami tersipu, malu
Hingga kerikil kian menderu
Bangkitkan kesadaran bersama waktu
Perlahan mengiris pilu

Teriring Maha Asih
Dalam memeluk rasa bangga
Menjagamu untuk kokoh menegak
Nusantaraku

Sepuluh November oleh Wisam Zuhdi Surya Nusantara (KMNU UB)

Pada sepuluh November
Kubuka hikayat satu satu
Dalam untaian bait asma-Mu, meski sungguh nyenyat jiwaku

Pada sepuluh November
Sembari menyeret langkah dua dua
Dalam jahitan dosa menganga
Hamba berteduh di bawah naung ruhiyat agama

Pada sepuluh November
Kuazamkan diriku
Di bawah tiga tiga nasihat ilmu
Untukmu, negeriku

Pada sepuluh November
Kusimpulkan rantai janji empat empat
Dalam untaian akad yang tak sempat
Hingga kutemukan jalan yang tepat, berbekal syariat

Pada sepuluh November
Kurekatkan jemari lima lima
Hingga tiada bertepuk sebelah sisi sahaja

Menjadi kilas balik sepuluh November
Usai tuntas amanah sebagai fakir ilmu
Mengabdi demi bangsaku

You might also like
Comments
Loading...