Esensi Kegiatan Maulid AL Barzanji di Masyarakat Umum

Bab Memulai Belajar, Pengaturannya, dan Urutannya

Wajib bagi kita untuk diskusi dengan teman kita, apa yang kita pelajari, sama-sama kita bahas lagi, sesuaikan dengan kondisi masyarakat, misal ada problem, kita curhatkan kepada teman kita.

Maka sebaiknya, hal itu dilakukan dengan hati yang bagus, pelan-pelan, perlahan, tidak usah tergesa-gesa, menjaga dari hal-hal yang buruk, seperti marah karena sesungguhnya hal itu adalah musyawarah. Karena musyawarah itu untuk mencari jalan keluar.

Dan musyawarah bisa berhasil apabila tidak marah, sombong, berhati-hati, dan musyawarah tidak akan berhasil apabila dilandasi dengan marah-marah, dengan ambisi.

Akan tetapi diskusi yang tujuannya untuk mengalahkan, mempermalukan musuh, hal itu tidak boleh, tidak halal. Tetapi seperti boleh, apabila menunjukkan suatu kebenaran, misalnya kita dipertemukan dengan orang-orang yang mengharamkan tahlilan, dan sebagainya. Maka kita boleh berdebat, berdiskusi, memberikan kebenaran. Kita tidak diperbolehkan menyamarkan persoalan, membuat bingung.

Dahulu bila Muhammad bin Yahya menghadapi pertanyaan yang sulit dan tidak mendapat jawaban beliau berkata: “Apa yang kamu tanyakan masih perlu dijawab dan aku akan mencari jawabannya.” Kalau kita dihadapi dengan pertanyaan dan kita belum mantep, maka kita bilang saja belum tahu, atau mencoba mencari tahu lagi, tidak usah malu. Sebab diatas orang yang pandai masih ada orang yang lebih pandai lagi.” Syekh yahya menyadari diatas orang yang alim masih ada yang alim lagi. Ulama-ulama dahulu mengajari kita untuk tawadhu’ seperti itu.

Manfaat diskusi lebih kuat daripada belajar sendiri karena dengan diskusi seseorang mengkaji kembali pelajarannya bahkan mendapat tambahan ilmu.

Dikatakan: “Diskusi satu jam lebih baik daripada belajar sendiri selama sebulan tetapi bila diskusinya bersama kawan baik, wataknya slamet/ tidak sombong dan mau menerima”.

Jauhilah diskusi dengan orang yang keras kepala dan tidak baik tabiatnya karena tabiat atau watak bisa menular. Apabila berdekatan, kita akan tetap mendapatkan bekasnya. Dalam syair disebutkan oleh Al Khalid bin Ahmad mengandung banyak faedah, telah dikatakan: Termasuk syarat menuntut ilmu bagi yang mencarinya, ia harus melibatkan semua orang teman diskusinya. Kalau kita ingin ilmunya bertambah, maka kita ajak teman yang baik akhlaknya untuk berdiskusi, bukan punya ilmu untuk diri sendiri.

Hendaknya seorang murid dalam setiap waktunya membiasakan diri berpikir, mengamati ilmu yang sukar, karena ilmu yang suka dapat dipahami melalui pengamatan. Maka kita tidak akan rakus, tidak lupa dan sadar bahwa yang membuat langgeng di akhirat bukan seperti itu. Oleh karena itu dikatakan “Perhatikanlah niscaya engkau akan paham.”

Sebelum berbicara harus diamati dulu agar pembicaraannya menjadi benar karena tutur kata ibarat anak panah yang harus diluruskan dengan pengamatan yang jitu sebelum melepaskanya agar tepat sasaran. Sebelum kita menulis atau berkata-kata, kita harus berangan-angan dulu, apakah nanti akan menyakiti atau membuat bahagia orang.

Disebutkan dalam kitab ushul fiqih : “Inilah dasar utama yaitu ucapan seorang ahli fiqih yang akan berdiskusi harus berdasarkan pengamatan.” Dikatakan: “Otak yang pandai adalah ucapannya berdasarkan bukti dan pengamatan.” Dipikir yang mendalam, dipikir efek negatif dan positifnya.

Seorang penyair berkata:

Aku menasehatimu lima perkara dalam mengatur kata-kata, jika engkau menurut pada penasehat yang penyayang. Janganlah kamu lupa sebab pembicaraan, waktunya, caranya, ukurannya, dan tempatnya. Jadi orang yang cerdas itu bukan bahasanya yang ilmiah, tapi dia tahu siapa yang dia ajak omong, dia bisa bicara dengan aktif.

Hendaknya ia mengambil faedah dari siapapun di setiap keadaan, Rasulullah SAW bersabda:

Hikmah adalah barang berharga milik seorang mukmin yang hilang, dimana saja ia menemukannya ia akan mengambilnya. Dikatakan: “Ambilah yang baik dan tinggalkanlah yang buruk”. Apabila kita dipertemukan dengan seseorang, jangan kita ambil yang buruk, ambilah yang baik.

Dialog Interaktif bersama Kang Derry

Esensi, bisa disebut inti, adalah pokok dari suatu bentuk, misal dalam sholat pokoknya adalah doanya, kalau dalam sholawat adalah memuji Nabi Muhammad. Kegiatan itu bisa disebut dengan kebiasaan. Adat adalah sesuatu yang dilakukan masyarakat secara turun menurun.

Sejarah barzanji adalah karya Syekh Ibnu Hasan AL barzanji, berisi tetang prosa, sajak tentang biografi Nabi Muhammad. Kita patut mengetahui, siapa yang pertama kali memberikan kita pengetahuan harakat dalam bahasa arab, dsb. Ilmu prosa sebenarnya sudah ada sebelum adanya Nabi Muhammad.  Ilmu yang memodifikasi prosa atau sajak dikerucutkan sesuai dengan kaidah. Beliau yang memodifikasi adalah Syekh Khlail al Tarwidhi.

Sejarah Al Barzanji berasal dari Rasulullah SAW, ada 3 penyair yang khusus untuk mengarang untuk Nabi, mereka adalah Hasan Ibnu Tsabit, Abdullah bin Rowwalah dan Ka’ab Ibnu Malik.

Pujian kepada Nabi bukan berasal dari kaum sunni, tetapi pada dinasti fatimiyyah, mempunyai paham syiah. Setelah dinasti Fatimiiyah runtuh, kemudian dicetuskan lagi oleh Salahuddin Al Ayyubi. Kenapa? Karena saat beliau menjabat sebagi sultan pada zaman ayyubiyah beliau sedang dalam fase Perang Salib, dimana mempertahankan Baitul Maqdis, dsb. Siasat yang dimiliki beliau adalah mengumpulkan seluruh cendekiawan, dan para ulama yang alim dalam bidang sastra untuk membuat syair-syair dan yang dipilih oleh beliau adalah Syekh Ja’far Al Barzanji dengan kitab karangannya Iqdul Jawahir, Butiran Mutiara, sekarang Al Barzanji. Alasan Salahuddin Al Ayyubi itu adalah untuk meningkatkan semangat juang para kaum muslimin, karena saat perang Salib, kaum muslimin gugur lebih dari 70.000 orang.

Syaikh Ja’far bin Husein bin Abdul Karim bin Muhammad Al Barzanji, beliau adalah seorang hakim, yang terpercaya dalam ilmunya, beliau bermadzhab Maliki, dan bermukim di Madinah.

AL Barzanji itu merupakan suatu daerah di Kurdistan. Beliau mufti agung dari madzhab Madinah. Ulama yang terkenal lainnya adalah Syaikh Ath Thoilah.

Diantara maulid yang terkenal di Indonesia adalah Al Barzanji, Shimthu al-Durar karya al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi. Ada pula al-Burdah karya al-Bushiri dan al-Diba’ karya Abdurrahman al-Diba’iy, dan Dhiya’ Ulami karya Habib Umar bin Hafidz. Banyak orang mengharamkan maulid, kenapa? Karena mereka tidak tahu kalau itu merupakan karangan sejarah, cerita Nabi Muhammad. Dimana titik haramnya? Kan tidak ada. Kita membuat suatu pantun, kata-kata indah kepada yang kita cintai, mereka tidak mempermasalahkan, kenapa kepada Nabi Muhammad dipermasalahkan? Kita tidak berhak demikian.

Sumber : Kajian online kitab kuning Ta’limul Muta’allim KMNU Pusat tanggal 28 November 2020

Pembicara: Muh Adib R (Koor Kajian Kitab Kuning, Divisi Kajian dan Dakwah, Depnas 5) dan kang Dery (Divisi Kajian dan Dakwah, Depnas 5)

Notulis : Ima Khoirunnisa (Divisi Kajian dan Dakwah, Depnas 5)

You might also like
Comments
Loading...