BIJAK DALAM BERMEDSOS

Bab Tentang Bersungguh-sungguh, Tekun dan Cita-cita yang Luhur

Seorang murid harus memilki sikap semangat dan ketekunan

QS. Al-Ankabut: 69 (Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami)

Maksudnya adalah apabila seseorang ada niat atau kemauan untuk mencapai cita-cita mereka, insyaallah akan diberi jalan oleh Allah.

Telah dikatakan: Barang siapa yang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh, maka dia akan mendapatkannya, barang siapa yang mengetuk pintu dengan sungguh-sungguh, maka dia akan masuk.

Dikatakan juga “Tergantung kesungguhanmu engkau akan meraih keinginanmu

Belajar dan memperdalam ilmu fiqih itu dibutuhkan adanya kesungguhan dari ada 3 orang, yaitu murid, guru dan bapak

Intinya harus ada kesungguhan, maka akan ada jalan. Syekh imam Syadiduddin Asy Syairazi menuturkan suatu syair Imam Syafi’I kepada mushannif:

Kesungguhan dapat mendekatkan perkara yang jauh, dan kesungguhan dapat membuka sesuatu yang terkunci. Sungguh sangat banyak orang yang bercita-cita luhur bersedih, karena diuji dengan kemiskinan. Barangkali sudah menjadi suratan takdir dan keputusan Allah, bahwa banyak orang cerdas tapi miskin dan banyak orang bodoh yang kaya. Dan kedua hal tersebut tidak bisa dikumpulkan.

Penyair lain berkata: Kamu ingin menjadi ahli fiqih, tapi tidak mau sengsara (kerja keras), itu artinya kamu gila. Mencari harta pun tidak akan berhasil tanpa kerja keras, dan harus tahan menghadapi penderitaan. Begitu juga mencari ilmu tidak akan berhasil tanpa kerja keras (sengsara).

Dia semangat tetapi diuji kesempitan hidup, seperti di kampus atau pondok, ada orang yang kurang mampu tapi dia pintar, dan dia diuji dengan finansialnya, atau sebaliknya.

Abu Thoyyib berkata: Aku tidak pernah melihat suatu aib pada manusia. Seperti kekurangan orang-orang yang mampu untuk menyempurnakan. Maksudnya adalah sungguh naif orang yang mampu tapi tidak mau berusaha secara optimal.

Hendaknya seorang murid tidak boleh banyak tidur di malam hari, tetapi hendaknya begadang di malam hari untuk belajar, seperti yang dikatakan penyair.

Kemuliaan itu akan tercapai menurut kadar kesengsaraan. Barang siapa ingin mencari kemuliaan, maka harus meninggalkan tidur malam. Engkau menginginkan kemuliaan tapi engkau tidur di malam hari. Padahal orang yang mencari permata pun harus menyelam ke dalam lautan. Malam hari ibaratkan jalur khusus bagi seorang hamba untuk memohon atau berdo’a kepada Allah. Ibarat sinyal, malam hari itu merupakan sinyal yang paling kuat.

Derajat tinggi terletak pada semangatnya yang tinggi. Kemuliaan seseorang juga terletak pada begadang malamnya. Barang siapa yang menginginkan derajat tinggi tanpa susah payah (tidak bangun malam), maka ia menyia-nyiakan umur untuk mencari sesuatu yang mustahil. Para santri atau murid harus menggunakan waktu malamnya untuk belajar dan ibadah supaya memperoleh kedudukan tinggi di sisi-Nya.

Mushannif berkata dalam baitnya:

Barang siapa yang ingin tinggi derajatnya, hendaknya ia menjadikan malamnya sebagai unta untuk mengejarnya. Jangan banyak makan agar engkau tidak mengantuk dan bisa begadang, Hal itu jika kamu benar-benar ingin meraih kesempurnaan. Kuncinya adalah malam hari, jangan tidur yang tidak ada artinya, jadikan malam agar berarti. Dan supaya bisa bangun malam, jangan banyak makan, tetapi makanlah secukupnya.

QnA bersama Muhammad Adib dan Aminah Yunita Istriyani dengan tema “Bijak dalam Bermedsos”

Sosmed (Social Media) adalah media atau wadah kita untuk bersosialisasi, dengan bersosmed kita bisa berinteraksi dengan teman-teman kita. Kita dipaksa belajar untuk sosmed, apalagi sekolah atau instansi yang belajarnya menggunakan media sosmed.

Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam bersosmed:

Memperhatikan postingan-postingan kita, jangan sampai membawa unsur SARA, menyakiti orang lain, menyinggung pihak lain, berkonotasi negatif dan lain-lain. Seperti yang pernah dikatakan “Mulutmu harimaumu”. Tetapi kalau sekarang menjadi “Jempolmu adalah harimaumu” Kita perlu berhati-hati dalam bersosmed.

Memperhatikan bahasa dan kalimat kita. Jangan sampai kalimat-kalimat kita yang awalnya untuk sekedar bercanda, malah menyinggung perasaan orang lain.

Memilah konten-konten yang baik

Kita tidak boleh berkata kotor, menggunakan istilah-istilah kotor. Karena itu bisa dikenakan hukuman dan sebagainya. Maka dari itu kita harus bisa bijak dalam bersosmed dan memilah yang baik.

Bagaimana bersosmed menurut agama?

Ada yang namanya dosa jariyah, bukan hanya air atau kebaikan yang dapat mengalir, tetapi juga dosa bisa mengalir. Apakah menampilkan konten negative bisa dikatakan dosa jariyah karena memberikan peluang banyak untuk berbuat maksiat? Menampilkan konten negative seperti foto atau video p*rno yang berpotensi menimbulkan maksiat tergolong dosa jariyah dan mengalir dosanya.

Nah kita kan sering menggunakan medsos, apabila kita menampilkan konten yang buruk, kemudian ada orang yang meihatnya, maka kita juga ikut berdosa.

Dalam hadist dijelaskan: Barang siapa yang meninggalkan jejak keburukan kemudian diikuti orang setelahnya, maka ia mendapatkan dosa keburukan tersebut, dan dosa orang yang mengikuti setelahnya.

Bagaimana hukum seorang wanita yang mengunggah fotonya sendiri di medsos, sedangkan foto itu dapat menimbulkan lawan jenis tertarik?

Diperbolehkan, asalkan fotonya tidak menimbulkan syahwat. Harus menutup aurat, memakai jilbab yang lebar, tidak menggunakan pakaian ketat, dsb. Untuk para perempuan lebih baik jangan terlalu sering mengunggah foto kalau memang tidak urgent.

Dalam buku Jaddul Hayah, terdapat Bahsul Masail Pondok Lirboyo. Ada namanya Laila, dia cantik, sering mengunggah foto selfie di Instagram. Bagaimana hukumnya?

Hukum mengunggah foto di medsos, apabila diyakini kuat-kuat menimbulkan fitnah atau menjadikan kemaksiatan maka haram hukumnya. Apabila hanya sebatas keraguan maka hukumnya makruh. Bila yakin akan dugaan kuat tidak menimbulkan maksiat maka diperbolehkan. Yang dimaksud fitnah adalah ketertarikan hati atau dorongan atau muqoddimah atau awal. Sebelum kita zina pasti melihat orangnya, kemudian tertarik. Serta memandang atau membuat orang lain berkomentar negatif, seperti komentar tidak senonoh, maka itu tidak boleh.

Bagaimana kalau kebutuhan fotonya untuk promosi produk?

Kalau dalam bersosmed mempromosikan produk memang menguntungkan pribadi dan tentunya membantu orang lain agar produknya terjual. Nah, itu kembali lagi ke diri kita, jangan sampai barang yang dipromosikan mengandung unsur SARA, menimbulkan maksiat, dan lain-lain. Tetapi barang yang kita promosikan harus sesuai dengan syariat islam, tidak bertentangan dengan syariat.

Bagaimana kalau kita memosting foto, menurut kita biasa saja tetapi malah menurut orang lain tidak biasa saja (dapat menimbulkan syahwat)?

Sebelum kita memosting kita sebaiknya perlu bertanya dulu ke temen, apakah foto kita layak atau tidak, tetapi apabila kita sudah percaya diri, postingan kita baik dan sesuai dengan syariat islam, tidak menimbulkan syahwat, maka tidak apa-apa.

Bagaimana hukumnya orang yang mengabaikan chat kita padahal dia online, dan respon di grup lain?

Yang pertama, memang kita harus sabar. Apabila memang penting dan sangat urgent, maka sebaiknya kita telpon atau minta tolong orang lain untuk ngechat, dsb. Atau bisa kita chat pribadi lagi, tetapi harus Bahasa dengan sopan, jangan sampai menimbulkan pertengkaran atau perpecahan.

Salah satu menghormati orang lain yaitu ketika kita fast respon. Apalagi dalam hal penting dan hal kebaikan. Kecuali hal PDKT, mengajak pacaran. Kita slow respon sangat dianjurkan. Tetapi dalam hal penting seperti organisasi, belajar ilmu, bisnis, maka kita sebaiknya fast respon. Karena itu merupakan bentuk adab untuk menghargai orang lain, apalagi kalau kita sedang tidak repot.

Ketika chat an dengan lawan jenis, kita harus memperhatikan bahasa kita (stiker/emot). Jangan sampai menimbulkan penafsiran yang lain.

Didalam kita berbijak dalam bersosmed maka kita akan menemukan jalan yang terarah. Ketika kita pandai menggunakan sosmed kita dengan baik, maka kita akan mendapatkan jalan yang baik, mendapatkan relasi, lebih mudah dikenal, dan sebagainya. Maka intinya kita harus bijak dalam bersosmed dan menggunakan adab yang baik.

Tidak cukup cerdas dalam bersosmed, tetapi juga bijak dalam bersosmed. Jadikan gadgetmu sarana untuk lebih dekat Allah bukan malah sebaliknya.

Pembicara: Muh Adib R (Koor Kajian Kitab Kuning) Divisi Kajian dan Dakwah, Depnas 5 bersama Mbak Amina Yunita Istriyani
Sabtu, 10 Oktober 2020
Live Streaming Instagram Kmnu Pusat

You might also like
Comments
Loading...