TIGA HIKAYAT (UNTUK) PENANGGULANGAN PANDEMI

Oleh: Ahmad Rahma Wardhana, S.T., M.Sc.[1],[2],[3]

Untuk kesekian kalinya kita sebagai umat Islam mengalami Hari Raya dalam kondisi yang berbeda, yakni dua Idul Fitri dan dua Idul Adha. Kaitannya dengan hal tersebut tulisan ini mengisahkan kembali beberapa hikayat masa lampau, dengan harapan kita mampu menemukan hikmah di balik kisah-kisah tersebut. Potensi kita untuk mencari hikmah atas berbagai peristiwa di kehidupan kita merupakan amanat keilmuan dari Allah SWT sebagaimana termaktub di Al-Qur`an surat Âali ‘Imraan ayat 190-191,

إِنَّ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّہَارِ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّأُوْلِى ٱلۡأَلۡبَـٰبِ (١٩٠) ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمً۬ا وَقُعُودً۬ا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَڪَّرُونَ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلاً۬ سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ (١٩١)

“[190] Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. [191] (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allaah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi: “Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha-suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Oleh karenanya, tulisan ini akan mengetengahkan kembali beberapa hikayat masa lampau untuk kita renungkan bersama sebagai bagian dari perenungan para ulul-albab, orang-orang yang berakal, ketika menyaksikan fenomena di kehidupan, baik di masa kini maupun di masa lalu.

Hikayat Pertama: Dua Sahabat Mulia

Hikayat pertama mengisahkan tentang dua sahabat Nabi Muhammad SAW, yakni Sayyidinaa ‘Umar bin Khathab RA dan Sayyidinaa ‘Ali bin Abi Thalib KW. Keduanya pernah merasakan pengalaman yang berbeda, namun mempunyai hikmah serupa.

Suatu ketika Sayyidinaa ‘Ali KW hendak bersandar ke sebuah tembok, namun melihat tembok tersebut rapuh dan boleh jadi menurut beliau nyaris ambruk, beliau kemudian beralih tempat. Melihat kejadian tersebut, seorang sahabat bertanya kepada Sayyidina ‘Ali KW, “Apakah engkau lari dari takdir Allah?”

Pertanyaan yang sama juga diajukan kepada Sayyidinaa ‘Umar RA di sekitar tahun 17 Hijriyah. Saat itu Sayyidinaa ‘Umar RA berencana berkunjung ke Damaskus, namun membatalkannya karena mendengar kabar sedang terjadi wabah penyakit. Menyaksikan sikap Sayyidinaa ‘Umar RA, seorang sahabat bertanya, “Inikah sikap pemimpin yang lari dari takdir Allah?”

Pembaca yang budiman, jawaban atas kedua pertanyaan tersebut adalah sama, yaitu bahwa Sayyidinaa ‘Ali KW maupun Sayyidinaa ‘Umar RA membenarkan bahwa beliau sedang lari dari satu takdir Allah ke takdir Allah yang lain. Jika kedua sahabat Nabi SAW ini tidak menghindar dan menerima konsekuensinya (tertimpa tembok atau mengidap penyakit akibat wabah), maka kondisi ini merupakan bagian dari takdir Allah. Begitu pula ketika keduanya menghindar dan selamat dari marabahaya, maka keselamatan ini juga takdir Allah.

Menyakini takdir Allah Ta’ala merupakan bagian dari pokok-pokok iman yang enam jumlahnya. Akan tetapi, menyakini takdir bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar dengan menerima takdir apa adanya. Menurut Gus Mus, yang disebut takdir adalah ketika sesuatu telah terjadi, bukan sebelum kejadian. Artinya, Allah SWT juga memberikan kesempatan bagi kita untuk berupaya, berikhtiar, dan berusaha. Ketika usaha telah dilakukan dengan maksimal, barulah kemudian muncul sikap tawakkal, memasrahkan hasilnya pada keputusan Allah SWT. Inilah sikap yang sudah seharusnya mewarnai perjalanan kehidupan kita.

Hikayat Kedua oleh Imam Ibnu Hajar

Hikayat yang kedua disarikan dari kitab Badzlul-Ma’uun fii fadl-lith-thaa’uun karya ulama hadits masyhur, Ibnu Hajar al-Asqalani. Jangan dikira baru kali ini saja ibadah kita diubah karena pandemi. Catatan sejarah menunjukkan bahwa sejak 590 tahun lalu, peradaban dunia, termasuk umat Islam, telah berkali dihantam wabah dan pandemi. Sayangnya, kisah yang dari kitab Imam Ibnu Hajar ini merupakan kisah pilu.

Ibnu Hajar menulis bahwa pada tahun 764 Hijriyah atau 1363 Masehi, saat terjadi wabah di Damaskus, muncul inisiasi untuk mengumpulkan semua orang di tempat terbuka, melakukan doa bersama. Hasilnya, justru wabah semakin parah setelah doa dilakukan. Peristiwa serupa terjadi 67 tahun kemudian di Kairo, Mesir, dimana terjadi wabah yang menewaskan tidak lebih dari 40 orang. Inisiasi untuk doa bersama muncul lagi dan akibatnya, sebulan sesudah doa bersama dilakukan, wabah semakin mengganas dengan kematian lebih dari seribu orang per hari.

Mungkin muncul pertanyaan di dalam benak kita: apakah doa tersebut tidak bermanfaat dan menyebabkan parahnya wabah? Tentu tidak, masyarakat muslim saat itu, di masa belum munculnya, (1) ilmu pengetahuan tentang mikro-organisme (bakteri dan virus) sebagai sumber penyakit dan (2) ilmu penularan penyakit dari orang ke orang, maka menjadi wajar jika berkumpulnya manusia memperparah terjadinya wabah. Meskipun ilmuwan muslim di masa Abbasiyah dan Ayyubiyah telah menghasilkan berbagai teori bidang kesehatan yang beberapa di antaranya masih digunakan sampai sekarang (termasuk mendasari konsep mikroba sebagai sumber penyakit) namun ilmu tentang kuman ini belum mapan hingga dicetuskannya Postulat Koch pada tahun 1884 Masehi. Dan belakangan, seiring dengan semakin kokohnya ilmu mikroba dalam kesehatan, catatan Ibnu Hajar al-Asqalani beserta puluhan tulisan ulama muslim lain tentang berbagai wabah, menjadi bahan penting untuk mengembangkan ilmu kesehatan.

Pertanyaannya bagi kita di masa sekarang adalah: akankah kita mengulangi kecelakaan sejarah atau justru merangkul kemajuan ilmu pengetahuan untuk mengubah pola ibadah demi kelangsungan hidup bersama?

Hikayat Ketiga: Perjalanan Haji Pertengahan Abad ke-20

Hikayat ketiga dikutip dari buku Naik Haji di Masa Silam, sebuah kompilasi kisah muslim nusantara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand bagian selatan) ketika naik haji pada tahun 1482-1890 (Jilid I), 1900-1950 (Jilid II), dan 1954-1964 (Jilid III). Kompilasi dan pengeditan berbagai kisah tersebut dilakukan oleh Henri Chambert-Loire, sejarawan berkebangsaan Perancis yang sangat banyak meneliti dan menulis tentang Indonesia. Terdapat dua kisah menarik dari buku Jilid II, yang berkaitan dengan masa pandemi.

Pertama, kisah yang ditulis oleh Abdul Majid bin Zainuddin yang berasal wilayah yang sekarang termasuk negara Malaysia. Kisah Abdul Majid sebenarnya merupakan artikel berjudul “A Malay’s Pilgrimage to Mecca” yang terbit dalam Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society pada tahun 1926, tiga tahun sesudah menunaikan haji pada 1923. Abdul Majid menulis sebagai berikut

Pada hari keberangkatan kapal, sang jemaah ternyata harus divaksinasi sebelum diperbolehkan naik kapal uap... sebuah tindakan pencegahan yang dikenakan padanya oleh pihak berwenang untuk mencegah wabah cacar. Penyakit ini dan kolera kadang mewabah di tengah jamaah haji, sehingga setiap kapal haji diharuskan oleh undang-undang membawa satu dokter untuk tiap 1.000 jamah haji, atau sebagian dari jumlah itu. Dokter-dokter ini khususnya bertugas mencegah terjadinya wabah penyakit menular semacam itu selama jemaah haji berada di kapal.

Sebelum diperkenankan memasuki pelabuhan Jeddah, kapal-kapal harus singgah di Camaran, sebuah pulau yang terletak sekitar 500 mil dari Jedah. Di pulau ini setiap jemaah harus turun dari kapal dan menjalani karantina. Kalaupun ada surat keterangan sehat pada saat naik kapal, jemaah haji tetap harus menjalani karantina, yang terdiri dari mandi pancuran air garam, dan cuci uap suci-hama untuk pakaian mereka.
(Abdul Majid bin Zainuddin, 1923)

Kedua, kisah yang sumbernya dinisbahkan oleh seseorang yang misterius bernama KH Abdussamad. Misterius karena, (1) ia bukan seorang tokoh yang dikenal luas dan (2) naik haji pada tahun 1948, di masa revolusi, sementara pada tahun 1947 Hadldlratusy-Syaikh KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa tentang haji yang tak wajib bahkan haram, selama perang melawan Belanda masih berlangsung. Kutipan tulisan KH Abdussamad yang diberi judul dengan “Alamat Buruk” adalah sebagai berikut,

Alamat Buruk
Ada tersiar kabar dalam kapal ada orang kena cacar. Benar juga. Tanggal 31-8-’48 jam 5 petang seorang perempuan dari Palembang digotong ke kamar sakit di buritan kapal. Suaminya mengikut di belakang.

Kata doktor dia sakit cacar. Diperiksa bekas suntiknya tidak ada. Katanya sudah bersuntik tetapi tidak menjadi. Surat suntiknya ada.
Di tangga jalan keluar rumah sakit dipasang plakat, bunyinya, “Dilarang naik. Penyakit menular.”

Tuan doktor berpidato: Orang-orang dilarang naik mendekati rumah sakit. Kalau sampai ada ketularan, awas! 3 minggu kena karantina. Boleh jadi tidak sempat menunaikan haji.

Semua jamaah bermuram durja. Kalau sampai tidak sempat berhaji karena perempuan itu ... Ada yang mau mati syahid katanya.

Belakangan menurut keterangan, perempuan itu tidak betul sudah disuntik cacar. Boleh jadi suaminya main belakang dengan tukang suntik. Maklumlah ada orang sangat pantang istrinya disentuh laki-laki. ...
(KH Abdussamad, 1948)

Kaitannya dengan ibadah haji dan umrah, ternyata vaksin cacar menjadi syarat wajib di masa lampau; sedangkan di masa kini, yang wajib adalah vaksin meningitis; dan sangat mungkin dalam waktu dekat ini, vaksin COVID-19 akan menjadi syarat wajib haji dan umrah. Ini sesuai dengan kaidah fikih,

مَا لَا يَتِمُّ الْوَجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Perkara wajib yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka perkara itu menjadi wajib“.

Artinya, ketika untuk menunaikan ibadah haji yang sifatnya wajib bagi yang mampu disyaratkan untuk melakukan vaksinasi demi melindungi diri sendiri dan orang lain dari penyakit menular, maka syarat tersebut hukumnya sama wajibnya. Sama halnya dengan kegiatan penting lainnya, seperti sekolah dan kuliah untuk menuntut ilmu atau bekerja untuk menafkahi keluarga, yang sifatnya bertemu dengan banyak orang, maka demi keselamatan seluruhnya, vaksinasi menjadi syarat yang sifatnya penting dan wajib.

Takdir dan Ikhtiar Sains

Pembaca yang budiman, tiga hikayat masa lampau tersebut menggambarkan sikap-sikap yang harus kita lakukan sebagai umat Islam dalam menghadapi pandemi. Pertama, menyakini bahwa pandemi adalah bagian dari takdir Allah SWT. Kedua, menanggulangi pandemi adalah bagian dari takdir, yakni sebagai bentuk ikhtiar yang perlu disempurnakan dengan tawakkal kepada Allaah SWT. Ketiga, berikhtiar menanggulangi pandemi adalah dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan, karena sains merupakan hasil dari bersikap layaknya Ulul-Albab yang diisyaratkan Al-Qur`an, yaitu seimbang dalam mengingat Allaah SWT dan mengamati semesta alam. Tentu saja sains yang dimaksud adalah ilmu pengetahuan berbasis fakta empiris dengan analisis teruji, tanpa campur tangan opini tendensius yang berpotensi menutup karunia Allaah Ta’ala: pemahaman kita atas sebagian hukum alam-Nya.

Semoga Allaah SWT membuka hati kita semua untuk menjalankan amanat tersebut sehingga kita semua bersama-sama dapat segera lepas dari pandemi. Aamiin.


[1] Koordinator bidang penelitian dan pengembangan Pengurus Wilayah Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul ‘Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta

[2] Peneliti di Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada

[3] Sekretaris dan Peneliti di SUFI (Sustainable Food and Energy Initiative)

Referensi

Ahmad, Fathoni. 2020. Ketika Sayidina Umar dan Ali Dihadapkan pada Takdir. Diakses dari https://islam.nu.or.id/post/read/123546/ketika-sayidina-umar-dan-ali-dihadapkan-pada-takdir pada 9 Mei 2021.

Asqalani al-, Ibnu Hajar. 2020. Kitab Wabah dan Taun dalam Islam terjemahan dari Badzlul-Ma’uun fii Fadl-lith-Thaa’uun. Jakarta: Turos Pustaka.

Chambert-Loir, Henri (Editor). 2013. Naik Haji di Masa Silam – Kisah-Kisah Orang Indonesia Naik Haji 1482-1964 – Jilid II: 1990-1950. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Rohmad, Nur. 2020. Khutbah Idul Adha: Kurban dan Solidaritas Kita di Masa Pandemi. Diakses dari https://islam.nu.or.id/post/read/121804/khutbah-idul-adha–kurban-dan-solidaritas-kita-di-masa-pandemi pada 9 Mei 2021.

Shihab, M. Quraish. 2009. Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur`an – Volume 2. Tangerang: Lentera Hati.

Disusun oleh: Ahmad Rahma Wardhana, S.T., M.Sc. (Alumni KMNU UGM)

You might also like
Comments
Loading...