Terang Bayang

Oleh: Riko Sugiyanto (KMNU ITB)

Hari ini, senja terasa tak kunjung berpaling
Semu, gelapnya tak terlampau sempurna
Ditemani ketukan kulit perkusi yang sedang merajut makna
Bersahut syair rindu yang tak lekang oleh massa

            Aku lagi-lagi tersimpuh disini
            Kepalaku tertunduk tanpa daya
            Pandanganku terkaca-kaca oleh linanganku sendiri
            Hatiku, dia jauh lebih terhujam lagi oleh syairnya

Syair yang melabuhkanku pada seseorang
Yang jejak dan rupanya telah  terhapus oleh waktu
Hatta, waktu ini fana bahkan tak berarti apa-apa untukmu
Kau lah yang menangisi dosaku di 1400 tahun yang lalu

            Dikala surga sudah terjamin bagimu
            Tapi kau masih mencoba mengais umat dari kubangan dosa-dosa
            Dan termasuk aku pula
            Umat yang kini meradang rindu padamu

Sadarku dalam pikiran tersadar
Apakah dayaku ditemuimu
Bahkan sekelebat mimpi saja tak mau menghampiri
Hanya syair-syair mauled yang mengenalkanku padamu
Malang memang terlampau malang umatmu yang satu ini
Setinggi langit sedalam palung lautan
Anganku bukanlah perintah Tuhan
Tidak lebih dari  angan umat berdosa ditepi zaman
Sang syair, terbangkanlah rinduku padanya
Mahabbah yang tak ada siapapun bisa mengukurnya
Nurmu adalah terang dalam bayang dan gelapku
Dan kasihmu pula sudah terpatri dilubuk hatiku

You might also like
Comments
Loading...