TABLIG AKBAR IMAN PKN STAN MENYAMBUT PERINGATAN NUZULUL QURAN

Minggu, 25 April 2021 bertepatan dengan hari ke-13 ibadah puasa. IMAN PKN STAN menyelenggarakan acara Tablig Akbar menyambut peringatan Nuzulul Quran. Acara yang dilakukan via daring ini merupakan salah satu dari beberapa rangkaian kegiatan yang diadakan IMAN PKN STAN selama bulan suci ramadan. Kegiatan ramadan tersebut diantaranya pengajian kitab, Madrasah Terbuka, Khotmil Quran, webinar Al-Iman, santunan, dan kegiatan terbuka untuk umum lainnya. Tablig Akbar yang bertemakan “Nuzulul Qur’an, Implementasi Perintah Iqro’ Di Tengah Zaman Serba Instan”, terasa lebih spesial karena narasumber yang berkenan hadir tidak lain adalah K.H. Ahmad Muwafiq. Berbicara mengenai Nuzulul Quran, mungkin hal yang pertama kali kita pikirkan adalah turunnya wahyu pertama, malaikat Jibril, goa Hira, dan lainnya. Surah Al-Alaq:1-5 merupakan bukti otentik dari peristiwa pertama kalinya Al-Quran diturunkan di muka bumi. Pada ayat pertama berbunyi, “Iqra” berbentuk fi’il amr (kata kerja perintah) yang artinya “Bacalah”. Jika dilihat dari tahun kenabian Rasulullah SAW, sudah lebih dari 1.400 tahun sejak pertama kali Al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, maka dengan rentang waktu tersebut bagaimana relevansi implementasi perintah iqra di tengah zaman yang serba instan ini?

Acara yang dibawakan oleh Mas Vijey Hamdani dimulai dengan pembacaan ayat suci Quran Surah Al-Harsh:21 yang dibacakan oleh mas Restu Aziz. Acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh Kyai Dawud Arif Khan selaku Ketua Dewan Penasihat AL-IMAN (Alumni IMAN), beliau menyampaikan bahwa lulusan IMAN nantinya akan ditempatkan di berbagai kementerian di seluruh Indonesia. Harapannya Gus Muwafiq dapat memberikan ilmu dan semangat agar lulusan IMAN dapat mewarnai pengajian dan kegiatan di seluruh penjuru negeri dengan tetap membawa Islam ala Ahlussunnah Wal Jamaah, Islam Rahmatan Lil Alamin sehingga IMAN dapat selalu istiqomah dalam memperjuangkan apa yang sudah dilakukan selama ini. Sambutan kedua disampaikan oleh perwakilan dari Politeknik Keuangan Negara STAN, Bapak Tanda Setiya selaku Ketua Jurusan Manajemen Keuangan. Beliau menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besaranya kepada IMAN yang sudah mengadakan acara ini, keberadaan organisasi sosial kegamaan seperti IMAN ini sangat berarti bagi kampus, kementerian, dan tentunya Indonesia. Lebih lanjut lagi, beliau menuturkan bahwa Politeknik Keuangan Negara STAN sedang melakukan perubahan, salah satunya adalah pengasramaan mahasiswa di tahun-tahun yang akan datang. Beliau berharap Politeknik Keuangan Negara STAN dapat berdiskusi dengan Yayasan AL-IMAN dalam hal pembinaan keagamaan, semoga IMAN terus berkontribusi dalam pembinaan spiritual, leadership, dan sosio kultural mahasiswa, sehingga dapat mencetak ASN yang profesional, ber-akhlaqul karimah, dan tidak kalah penting sebagai perekat bangsa.

Tibalah pada acara inti yaitu mauidzoh khasanah dari narasumber kita K.H. Ahmad Muwafiq atau yang sering disapa Gus Muwafiq. Kyai 47 tahun dengan ciri khasnya berambut gondrong merupakan salah satu ulama Nahdlatul Ulama yang sudah familiar di kalangan warga Nahdliyin, beliau juga pernah menjabat sebagai asisten pribadi Gus Dur. Pada Tablig Akbar kali ini, beliau menyampaikan peristiwa turunnya Al-Quran ke muka bumi merupakan terhubungnya suatu hal yang bersifat uluhiyah. Pada dasarnya Al-Qur’an sendiri bilashoutin wal harfin (tidak dengan suara dan huruf). Namun kemudian termanifestasi menjadi teks-teks dan huruf-huruf karena akan disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada seluruh umat manusia sebagai pegangan. Berawal dari kegelisahan seorang manusia melihat keadaan kota Mekkah yang memprihatinkan. Rasulullah memutuskan untuk naik ke goa Hira untuk kemudian ber-khalwat. Sebagai seorang Rasul, Nabi Muhammad SAW juga memiliki basyariyah (sifat sebagaimana manusia biasa) sehingga kali pertama bertemu malaikat Jibril, Nabi Muhammad SAW ketakutan karena tidak mengenal sosok asing yang tiba-tiba hadir seraya berkata, “Bacalah!” Jawab beliau, “Aku tidak bisa membaca.” Kemudian berulang sampai ketiga kalinya dibacakannya surat Al-Alaq:1-5. Rasulullah bergegas turun pulang dalam keadaan menggigil, meminta istrinya Sayyidina Khadijah untuk menyelimutinya. Sampai kemudian dipanggilkan seorang tokoh Nasrani bernama Waraqah bin Naufal yang mempunyai kemampuan spiritual yang tinggi. Waraqah menjelaskan bahwa apa yang dialami Nabi Muhammad SAW di goa Hira merupakan proses turunnya wahyu.

Turunnya ayat pertama berbunyi, “Iqra” secara spesifik menjadikan Al-Qur’an berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya dalam beberapa hal. Peradaban yang akan dilalui Rasulullah dan umatnya merupakan peradaban membaca dan terbukti di era sekarang merupakan eranya membaca dan penguatan pengetahuan manusia. Kata “Iqra” sendiri mengemban dua misi membaca, yaitu membaca ayat-ayat qauliyah dan kauniyah. Pelaksanaan misi pada ayat qauliyah dilakukan dengan membaca ayat-ayat beserta terjemahannya sesuai dengan apa yang tertulis di Al-Qur’an, sedangkan misi membaca kedua adalah membaca keadaan dan pergerakan keadaan dari ciptaan Allah SWT. Dua makna inilah yang menjadi landasan bagi ulama-ulama tafsir dalam memaknai seruan “Iqra”. Melihat kemajuan teknologi, informasi, dan komunikasi di era milenial seperti sekarang hendaknya menjadi tantangan bagi kita semua untuk senantiasa membaca, belajar, dan berkembang menjadi fasilitator di setiap lini kehidupan yang berlandaskan pengetahuan dari Al-Qur’an. Berangkat dari sana maka akan terbentuk sebuah peradaban dari orang-orang yang membaca Al-Qur’an.

Pada sesi diskusi dan tanya jawab, Gus Muwafiq juga menyampaikan bahwa dalam zaman yang serba instan ini, dimana semua orang bisa mengakses literatur melalui internet, hal yang perlu diperhatikan adalah sumber dari literatur tersebut, pastikan kita bisa memilih dan memilah mana sumber yang baik untuk dibaca dan tidak. Selain itu, di lain pertanyaan Gus Muwafiq menuturkan bahwa dalam menyikapi derasnya arus informasi perlu adanya guidance dalam membaca, diantarnya adalah dengan membaca apa yang kita butuhkan dan tidak melakukan segala sesuatu secara berlebihan karena bukan kemajuan yang akan kita dapat melainkan kemunduran.

Pelajaran yang dapat dipetik dari Tablig Akbar ini adalah pentingnya membaca di era seperti sekarang. Bagaimana Allah SWT menurunkan ayat pertama berupa “Iqra” menegaskan kepada kita semua bahwa masih banyak rumus-rumus kehidupan dan pengetahuan yang perlu kita ketahui baik melalui ayat qauliyah maupun kauniyah. Perubahan yang terjadi di sekeliling kita merupakan hal yang tidak bisa kita hindari, justru hal itu seharusnya dapat dijadikan sebagai tantangan untuk kita menumbuhkan semangat belajar menjadi manusia yang lebih ber-akhlaqul karimah.

Disusun oleh: M. Satrio (IMAN PKN STAN)

You might also like
Comments
Loading...