KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

Smart Tech, Dumb People

Oleh: Fikri Aulyanor

Sebenarnya, alasan manusia menciptakan teknologi adalah untuk membuat segala pekerjaannya menjadi cepat, efektif, dan efisien. Setelah muncul otomasi dan Internet, dan sekarang ditambah AI (Artificial Intelligence), produktivitas manusia sangat meningkat pesat dengan effort yang sangat minimal. Jelas, kehidupan manusia sangat jauh lebih mudah dibandingkan sebelumnya. Maka dari itu, jika kita mendengar kata “teknologi”, otak kita selalu menganggapnya “baik“. Bagaimana tidak, siapa yang tidak ingin hidup mudah tanpa bersusah payah?

Namun, bagaimana jika teknologi ternyata merupakan suatu bentuk penyebab “kemalasan” manusia? Atau yang lebih ekstrem, teknologi diartikan sebagai “pelemahan” terhadap segala lini kehidupan manusia, termasuk intelektualitas. Dalam artian, kemudahan teknologi, membuat manusia menjadi enggan bekerja keras dan terbiasa mencari jalan pintas. Akibatnya, mereka tidak lagi belajar mengenai sisi-sisi kehidupan sebelumnya sehingga terdapat kemampuannya berkurang, bahkan hilang. Contohnya, orang-orang zaman dahulu rata-rata bertubuh atletis, mampu mengenal dan memahami lingkungannya, dan memiliki kemampuan bertahan hidup yang tinggi. Namun, sekarang justru terjadi dikotomi antara “otak” dan “otot”. Lihat saja bahwa tidak ada ilmuwan yang sekaligus menjadi atlet atau sebaliknya.

Anda mungkin mengernyitkan dahi membaca pendapat tersebut. Namun, batin Anda pasti menolak dengan argumennya masing-masing. Kata-kata “kemalasan” dan “pelemahan” terasa kontradiktif di benak kita. Kemalasan bukanlah akibat dari adanya teknologi, melainkan hanya kebiasaan buruk sebagian orang yang terlalu bergantung dengan teknologi dan tidak mau belajar hal yang lain serta berusaha. Teknologi tidak akan terwujud jika manusia sudah malas berpikir, apalagi tidak memiliki kecerdasan dan pengetahuan. Namun jika dipikir kembali, pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah, apalagi jika dihubungkan dengan kita di zaman ini dan teknologi masa depan.

Google dan search engine lainnya memudahkan kita untuk menanyakan segala hal lewat Internet. Facebook, Twitter, dan media sosial lainnya memudahkan kita untuk berteman dan membuat jaringan dengan semua orang di dunia. Go-Jek, Grab, Uber, dan transportasi online lainnya memudahkan kita untuk bertransportasi ke mana saja dan kapan saja. Bersama dengan contoh lainnya, teknologi tersebut awalnya hanya digunakan sebagai alternatif.

Hal yang konvensional tetaplah yang utama, contohnya seperti kasus berikut. Selain membaca buku dan jurnal, para siswa dan mahasiswa menggunakan Internet sebagai referensi alternatif. Misalnya, mereka menggunakan Internet untuk memperoleh gambaran dari topik yang dicari atau referensi-referensi mana yang sesuai dengan lebih cepat. Namun, sebagian guru dan dosen melarang referensi utama mereka bersumber dari Internet karena siapa saja dapat menulis di sana. Bahkan, jurnal ilmiah online pun tak luput dari stigma tersebut karena tidak berasal dari situs yang terkenal dan terpercaya.

Namun, pergeseran menuju hal yang alternatif dimulai. Karena kemudahan yang ditawarkan Internet, mereka pun semakin ketagihan. Akibatnya, kebiasaan membaca buku dan saling berdiskusi di perpustakaan tergantikan dengan kebiasaan membaca artikel-artikel singkat dan saling berbagi di chat media sosial.

Jika hal yang alternatif, menggantikan hal yang utama, maka efek samping itu akan menggejala. Jika misal kebiasaan membaca mulai tergantikan, maka mereka akan kesulitan dalam memahami suatu persoalan secara komprehensif dan akhirnya rentan dengan informasi yang salah atau hoax. Contohnya adalah framing-framing tidak tepat yang menyebabkan masyarakat dapat terpecah menjadi kubu-kubu yang sesuai dengan kubu media yang ditontonnya. Hal ini tidak akan terjadi, seandainya masyarakat sudah terbiasa membaca secara komprehensif, termasuk “membaca” suatu polemik, sehingga sudah memiliki pikiran dewasa dan terbuka. Inilah yang dimaksud dengan “pelemahan” atas kemampuan manusia, terutama intelektualitas.

Jika sebelumnya kita sudah “melemahkan” kemampuan fisik kita dengan otomasi, hal yang dikhawatirkan saat ini adalah perkembangan teknologi di zaman informasi ini dapat “melemahkan” kemampuan intelektual kita. Secara kolektif, kemampuan intelektual kita memang tak dapat dipungkiri semakin maju. Manusia semakin mendekati pengetahuan tentang “bagaimana Tuhan berpikir”, seperti kata Prof. Michio Kaku, seorang fisikawan terkemuka di dunia.

Namun, secara individu… entahlah, belum ada penelitian yang mengkonfirmasi tentang hal ini. Setidaknya kita dapat melihat secara umum bahwa hoax begitu mudahnya meracuni masyarakat dan bahkan ada oknum yang secara terang-terangan berani berkoar-koar tentangnya. Lihat saja para konspirator-konspirator bumi datar, antivaksin, terorisme yang berkedok agamis, dan isu-isu tidak jelas yang meresahkan lainnya. Tulisan ini bukan bermaksud untuk menghina dan menuduh mereka bodoh. Tetapi, bagaimana masyarakat yang seperti ini hendak diajak untuk membangun negeri di atas awan, berwisata ke Mars, ataupun sekedar hidup damai dan sejahtera di peradaban yang supercanggih dan modern nanti?

Jangan kira mereka hanyalah suatu entitas yang sialnya selalu ada dalam setiap komunitas, lantas kita menganggapnya wajar dan mendiamkannya. Kita sekarang hidup di zaman yang bebas dan egaliter. Semua orang berhak bicara, berkuasa, termasuk mempengaruhi orang lain. Tinggal keberuntungan sajalah yang menentukan baik-buruknya dunia, yang semoga dimenangkan oleh orang-orang yang baik.

Apalagi, di masa depan, akan semakin banyak pekerjaan baru yang tergantikan dengan teknologi. Bahkan, 60% pekerjaan baru akan muncul, seperti munculnya pekerjaan ojek online yang sama sekali baru muncul di dasawarsa ini. Terutama bagi Indonesia, yang digadang-gadang akan menjadi salah satu raksasa dunia dengan bonus demografi yang akan menyertainya. Namun, sayangnya tingkat penguasaan teknologi di sini belum merata. Memang diakui bahwa kemampuan penguasaan teknologi sebagian anak bangsa sangat mumpuni, baik itu dari akademisi maupun masyarakat umum. Namun, perlu diakui juga bahwa penguasaan teknologi dapat terimplementasi pada, setidaknya, sebagian besar masyarakat. Kalaupun itu pemerataan itu sudah terjadi, seharusnya konflik antara ojek online dan konvensional tidak pernah ada. Bahkan, jika memang Indonesia ingin benar-benar menjadi “raksasa”, seharusnya kemandirian teknologi juga dapat terbangun. Bayangkan Indonesia dapat membuat sendiri smartphone, industri AI, pariwisata luar angkasa, dan lain-lain. Namun, semua itu masihlah sebuah angan.

Di masa depan, yang benar-benar di depan mata, kita akan menghadapi distrupsi-distrupsi teknologi yang sudah tak mampu diprediksi lagi. Namun, setidaknya kita dapat merencanakan untuk meluncurkan teleskop terbesar di luar angkasa, James Webb Telescop, pada tahun ini. Pada tahun 2020, sebuah perusahaan bernama Bigelow Aerospace akan meluncurkan hotel luar angkasa.  Pada tahun 2026, Elon Musk akan mewujudkan cita-citanya untuk mulai mendaratkan rombongan manusia di Mars, disusul NASA pada tahun 2030. Di saat itu juga, Cina akan mengirim manusia ke Bulan, kemudian diikuti oleh Rusia pada tahun 2031. Pada tahun 2036, penjelajahan antarbintang akan dimulai melalui wahana Breakthrough Starshot yang melaju dengan kecepatan 15% kecepatan cahaya menuju ke bintang terdekat, yakni Alpha Centauri. Prediksi-prediksi yang lebih jauh dari itu sulit ditemukan, apalagi dengan adanya AI yang benar-benar dapat “menggantikan sebagian otak kita” ke robot.

Pengembangan teknologi bagi manusia adalah fitrah, seperti halnya aktivitas makan. Makan adalah hal yang baik. Namun, makan juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang buruk karena dapat membuat kita mengantuk. Memang tidak benar-sepenuhnya. Namun, ketika kita terus makan dan makan tanpa menyadari bahwa kita akan menjadi sangat mengantuk, kita tidak akan tahu apakah setelah makan kita dapat kembali beraktivitas atau tertidur pulas.

Akankah masa depan manusia semakin cerah seperti halnya peradaban kita yang begitu gemerlap dibandingkan peradaban 10.000 tahun lalu ketika peradaban awal dimulai. Ataukah kita justru menuju sebuah kepunahan yang lebih buruk daripada peradaban awal itu, yakni sebuah “kiamat” yang bertajuk technological singularity di mana otak kita pada akhirnya menyerah pada teknologi?

Referensi:

Kaku, Michio. “Is God Mathematician?”. Youtube (https://www.youtube.com/watch?v=D6XAkVA7RmY&list=PLE73E48C4D227E053)

Kurzgesagt. “Automation”. Youtube (https://www.youtube.com/watch?v=WSKi8HfcxEk)

Kurzgesagt. “What Happened Before Human History?-Human Origins”. Youtube (https://www.youtube.com/watch?v=dGiQaabX3_o)

Pidato Rektor ITB pada saat Sidang Penerimaan Mahasiswa Baru ITB Program Sarjana, 7 Agustus 2017.

RealLifeLore. “These Are the Events That Will Happen Before 2050”. Youtube (https://www.youtube.com/watch?v=hOFRbjjjwCE)

Terkait:

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3238241/jack-ma-ubah-pendidikan-agar-bersaing-dengan-robot

Comments
Loading...