KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

SENYUMANMU

Di sebuah bangku taman duduklah sepasang suami istri yang sudah berumur sekitar 70 tahun. Suami istri tersebut sangat bahagia melihat cucu-cucunya tertawa saling kejar-mengejar mengelilingi bangku yang sedang mereka duduki. Sedangkan anak-anaknya berada tepat 10 meter di depannya. Anak-anak dari pasangan suami istri tersebut sedang mempersiapkan makanan untuk makan siang keluarga. Acara piknik keluarga ini dilakukan setahun sekali untuk memperingati hari pernikahan pasangan suami istri tersebut. Sambil menguntai senyum, sang istri berkata pada suaminya”Tiada kebahagiaan selain berkumpul dengan anak cucu kita ya Mas”. Sang suamipun memegang tangan sang istri dan menatap wajah istrinya yang sudah keriput. Lalu sang suami berkata kepada istrinya “Terima kasih karena Adek telah setia mendampingi Mas hingga saat ini”. Dengan mata berkaca-kaca sang istri langsung memeluk sang suami dan berkata “Suamiku, Adek bertahan dalam semua keadaan karena dirimu Mas  yang selalu mencintaiku, dan selalu berusaha untuk membuat Adek dan anak-anak bahagia”. Sang suami lalu berkata “bagaimana bisa Mas menyia-nyiakan Adek, sedangkan untuk mendapatkan adek, mas harus berjuang meyakinkan kedua orang tuaku agar kita bisa bersatu dalam ikatan yang halal… hehe”… sang istripun tersipu malu mendengar ucapan suaminya.

53 tahun yang lalu, disebuah kampung hiduplah seorang gadis penjual susu. Setiap hari ia berkeliling kampung untuk menjual susunya. Sebut saja Yanah gadis penjual susu yang rajin… ia selalu berangkat pagi hari dan pulang sore hari. Disuatu pagi saat Yanah menawarkan susu di kampung sebelah. Yanah tertabrak sepeda yang dikendarai oleh Nandang. Nandang mengendarai sepedanya dengan cepat dan tidak menyadari bahwa didepannya ada Yanah yang sedang membawa kendil berisi susu di atas kepalanya. Tiba-tiba Braaaakkk… kendil tersebut jatuh dan susunya berhamburan di tanah… setelah kejadian itu Yanah langsung menangis… Nandang berusaha menenangkannya. Dengan muka yang bingung Nandang berkata “Aku minta maaf, tadi tak sengaja menabrakmu…” Yanah terus menangis dan mencoba menjawab pertanyaan dari Nandang sambil tersedu-sedu “Hari ini aku tak bisa menjual susu dan aku tak bisa pulang karena tak membawa uang sepeserpun”. Nandang terus berusaha meminta maaf agar Yanah berhenti menangis “maafkan aku, aku benar-benar tak tau kamu ada di depanku, aku terlalu asyik mengejek teman-temanku karena aku akan menang”. Yanah menyeka air matanya dan dengan tegas berkata “Kata maafmu tak berarti bagiku, karena kata maafmu tak cukup untuk memberi makan adik-adikku”. Nandang akhirnya mencoba  merogoh sakunya dan menghitung jumlah uang yang ia punya dengan harga susu yang ia pecahkan. Ternyata uang yang ia punya tak cukup untuk menggantikan susu yang ia pecahkan. Akhirnya ia mengumpulkan teman-temannya dan mendiskusikan masalah ini. Sebenarnya Nandang kasihan melihat Yanah yang sedari tadi terus menangis. Teman-teman Nandang juga merasa bersalah karena ikutan balap sepeda. Mereka sepakat untuk memberikan uang jajan mereka kepada Yanah. Nandang kemudian kembali mendekati Yanah yang masih menangis. Kemudian ia menyodorkan uang hasil iuran temannya kepada Yanah “Ini, buat mengganti susu yang kupecahkan tadi”. Yanah pun berhenti menangis dan terus menatap Nandang… kemudian Nandang menarik tangan Yanah untuk menerima uang yang diberikannya. Dari kejauhan, kawan-kawan Nandang memanggilnya “Oy Nandang cepatlah,,,,, Hari makin siang ni,,, nanti kita bisa ketinggalan lomba balap perahunya” Setelah memberikan uangnya, Nandang langsung pergi meninggalkan Yanah “Dah, aku pergi dulu, kawan-kawanku dah lama menungguku”. Yanah masih terpaku menatap Nandang, meskipun Nandang sudah pergi jauh meninggalkannya sendirian. Setelah Nandang dan kawan-kawannya tak terlihat lagi, barulah Yanah Sadar bahwa ia masih duduk di tanah dengan mata sembab dikarenakan menangis terus sedari tadi… lalu ia bergegas untuk pulang dan melihat kondisi adik-adiknya di rumah…

Sepanjang perjalanan pulang. Yanah tak sengaja memikirkan lelaki yang menabraknya tadi. Ia masih terbayang wajah laki-laki itu. Wajah yang penuh perhatian dan kasih sayang. Belum pernah Ia melihat wajah seperti itu setelah Ayahnya. Karena terpana melihat wajah yang sangat tampan dan penuh perhatian itu, Yanah sampai lupa kalau lututnya berdarah setelah tertabrak sepeda dan terjatuh. Kejadian itu membuat Yanah tertatih-tatih saat berjalan. Pagi hari berikutnya. Yanah tak lagi menjual susu di kampung Nandang tinggal. Ia memilih menjual susu di kampung yang lain. Karena Ia malu bertemu dengan Nandang. Pada saat yang sama Nandang malah memikirkan Yanah, gadis yang ia tabrak kemaren. Ia merasa bersalah karena meninggalkannya sendirian. Kemudian Nandang bergegas mengambil sepedanya dan berkeliling kampung mencari gadis penjual susu itu… namun ia tak berhasil menemukan gadis penjual susu itu. Ia pun memutuskan untuk pulang. Yanah seperti biasanya menawarkan susu dari rumah ke rumah… “Susu segar, susu segar,,,, ayo dibeli… dibeli” dia sangat ramah dan selalu tersenyum dengan setiap pembeli… dan dia terkenal dengan sebutan *gadis penjual susu yang ramah*. Hari terus berjalan dan seminggu berlalu… Nandang terus saja memikirkan gadis penjual susu itu… pada puncak kegelisahannya. Orang tua Nandang mengajak Nandang untuk menghadiri acara pernikahan saudara sepupunya di kampung sebelah… sesampainya disana… Nandang melihat gadis penjual susu sedang membantu mengantarkan makanan dan minuman untuk tamu undangan… Nandang pun tak bisa melepas pandangannya terhadap gadis penjual susu itu… Nandang terkagum-kagum dengan keramahan dan manisnya senyum gadis penjual susu itu… rasa bahagia pun menyelimuti hati Nandang. setelah acara nikahan selesai… Nandang bergegas mencari Gadis penjual susu itu… sebenarnya ia ingin meminta maaf agar ia tidak terus-menerus diselimuti rasa bersalahnya… setelah bertemu dengan gadis itu Nandang menjadi salah tingkah dan jantungnya berdegup lebih kencang daripada biasanya. Ia  mencoba menyodorkan tangannya untuk meminta maaf “aku minta maaf ya waktu itu meninggalkanmu sendirian, padahal waktu itu sepertinya kamu terluka karena kutabrak”. Gadis penjual susu tak menanggapi tangan Nandang… sambil melempar senyum ia berkata “tak apa, itu sudah berlalu,dan aku sudah melupakan semuanya, sebelum kamu minta maaf, aku sudah memaafkanmu. Jadi, jangan terlalu difikirkan”… Nandang sebenarnya malu karena tangannya dibiarkan menggantung di udara… dan untuk menghilangkan rasa malunya itu ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal… “oh iya aku belum tau namamu siapa, bolehkan aku tau namamu? Ngga mau kan kalau kamu aku panggil gadis penjual susu?”.. mendengar ucapan nandang itu si gadis pun tersipu malu dan mukanya berubah menjadi merah muda. Dengan malu-malu Ia mulai memperkenalkan diri, “Namaku Yanah dan aku si gadis penjual susu itu,,,, hehe kalau kamu?”. Dengan malu-malu nandang memasukkan tangannya ke saku celana dan memperkenalkan dirinya “Aku Nandang, jawara balap sepeda dari kampung sebelah, hehehe” Yanah tersenyum mendengar jawaban dari Nandang. “Yanah berasal dari kampung ini?” Yanah mengangguk pelan pertanda iya… Tiba-tiba dari kejauhan… kedua orang tua nandang memanggilnya dan mengajaknya pulang,,, karena hari semakin sore, takut kemalaman pulangnya. “Yanah aku pulang dulu ya, semoga kita bisa bertemu kembali, hehe” Yanah hanya tersenyum dan mengangguk. Sambil berjalan menuju kedua orang tuanya… pandangan mata Nandang Tak bisa lepas dari Yanah yang berjalan menuju dapur.

Sepanjang perjalanan pulang menggunakan kereta kuda, Nandang senyum-senyum sendiri dan terus membayangkan cantik dan ramahnya Yanah apalagi senyumannya. Ia sangat bahagia bisa melihat Yanah tersenyum. Kedua orang tua Nandang heran melihat perilaku anaknya yang sudah seperti orang gila senyum-senyum sendiri, padahal tak ada hal lucu atau apapun. Lalu sang ibu pun menggoda anak semata wayangnya ini yang sudah mulai bujang “kamu kenapa nak? Dari tadi Amak perhatikan kok senyum-senyum sendiri. Anak gadis mana yang membuatmu sebahagia ini? Hehehe”. Nandang pun mengelak dengan perkataan ibunya “ah Amak, bukan apa-apa Mak.. hehehe”. Sesampainya di rumah, Nandang tidak bisa tidur,,, ia terus membayangkan Yanah. Ia merasa bahagia saat bertemu dengan Yanah. Namun sekarang ia merasa gelisah saat jauh dari Yanah. Sepanjang malam Nandang berusaha untuk memejamkan matanya, namun tetap saja tak bisa, sampai fajar tiba ia masih saja terbayang-bayang senyuman manis Yanah. Ia pun memutuskan untuk menemui Yanah. Sepeda ontel setia  pemberian ayahnya menemani perjalannya menuju kampung sebelah. Kampung itu tidak jauh dari rumahnya. Karena rumahnya berada di perbatasan kampung. Sesampainya disana Nandang mencoba mencari informasi tentang Yanah. Ia berhenti di sebuah warung dan membeli es jeruk untuk menghilangkan rasa lelahnya setelah 15 menit mengayuh sepeda. Nandang mulai bertanya mengenai Yanah kepada Ibu pemilik warung dan beberapa pembeli yang sedang nongkrong disana. Nandang sangat senang mendengar jawaban dari pemilik warung itu. Penilaiannya tentang Yanah tidak salah lagi. Di Kampung itu Yanah memang terkenal dengan kebaikan hatinya, keramahannya, dan kedermawanannya. Meskipun Ia berasal dari keluarga kurang mampu Ia tetap peduli dengan orang lain yang lebih kurang mampu darinya, yang tidak kalah penting adalah Yanah tidak pernah berpacaran dengan siapapun dan dekat dengan lelaki manapun, karena Ia hanya fokus berjualan susu untuk menghidupi dirinya dan adik-adiknya, kedua orang tuanya meninggal saat usianya berumur 12 tahun. Setelah selesai meneguk es jeruk dan beberapa pisang goreng, Nandang pun melanjutkan perjalanannya keliling kampung itu. Dari kejauhan Ia tak sengaja melihat Yanah sedang berjalan membawa kendil berisi susu. Tiba-tiba didepan Yanah ada anak kecil yang terjatuh saat berlarian dengan teman-temannya. Anak kecil itu menangis sekencang-kencangnya. Yanah berlari menuju anak kecil itu dan mencoba menenangkan anak kecil itu. Perhatian dan penuh kasih sayang Yanah terhadap anak kecil itu membuat Nandang semakin jatuh hati dengan Yanah. Setelah Yanah selesai menenangkan anak kecil itu Nandang mendekati Yanah dan berkata sambil tersenyum “Dek mau beli susunya satu gelas”. Yanah yang tadi akan melanjutkan perjalalanan tiba-tiba dikagetkan dengan suara seorang pemuda yang akan membeli susunya. Saat membalikkan badan, Jantungnya berdebar dengan kencang dan mukanya menjadi merah muda. Dalam hati Ia sangat senang bisa bertemu Nandang, pemuda yang membuatnya terpana karena perhatiannya dan kelembutan tutur katanya. Yanah mulai menuangkan susu dari kendil kedalam gelas, tangan Yanah gemetar saat akan memberikan gelas berisi susu kepada Nandang. Nandang terus memperhatikan Yanah meskipun sedang minum susu. Yanah hanya tersenyum membalas senyuman Nandang. Kemudian Yanah memberanikan diri untuk bertanya “Kak Nandang, kenapa kakak ada disini?” sambil tersenyum nandang menjawab pertanyaan yanah “ehem,,, ehem,,, aku kesini ingin tau kabarmu gimana,,, hehehe”… wajah Yanah semakin merah mendengar jawaban Nandang dan Ia berkata “seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja saat ini,,, hehe”. Nandang tersenyum mendengar jawaban Yanah. Setelah puas melihat wajahnya Yanah. Sebelum pulang Nandang mengucapkan kata-kata terakhirnya. “Yanah, terima kasih karena kehadiranmu membuat hari-hariku menjadi lebih berwarna. Semoga kita bisa bertemu lagi ya”. Yanah hanya mengangguk dan melempar senyum kepada Nandang. Setelah itu Yanah pun melanjutkan berjualan dan Nandang pun pulang ke rumahnya.

Malam hari setelah Nandang selesai melaksanakan Sholat Isya,,, Ia pun melanjutkan shalat istikharah untuk menguatkan jawabannya,,, karena Ia tidak ingin mencintai seseorang karena Nafsu, Ia ingin mencintai karena Allah. Setelah selesai Ia pun tidur,,,dan Ia pun tak menyangka bisa bertemu Yanah dalam mimpinya. Yanah terlihat sangat anggun dengan gamis warna biru muda dan kerudung panjang motif bunga yang Ia pakai… saat terbangun ternyata sudah sepertiga malam dan Ia pun melaksanakan shalat Tahajud. Ia memanjatkan doa untuk kebaikan dirinya dan orang tuanya. Ia pun tak lupa memohon untuk dipersatukan dengan pujaan hatinya. Pagi harinya saat abahnya pergi ke kebun. Nandang menghampiri Amaknya yang sedang menyiram tanaman hias di pekarangan. Ia pun meminta kepada Amaknya untuk masuk ke dalam rumah karena ada sesuatu yang ingin Ia sampaikan. Setelah amaknya masuk dan duduk di sebelahnya. Nandang mulai membicarakan apa yang Ia rasakan selama ini terhadap Yanah. Nandang menceritakan semuanya mulai dari Ia menabrak Yanah, perasaan bahagia saat melihat Yanah tersenyum, kekagumannya saat melihat Yanah menenangkan anak kecil dengan penuh kasih sayang, dan jawaban dari shalat istikharahnya. Setelah mendengar pernyataan anak bujangnya itu sang ibu pun menanyakan kembali keputusan anaknya itu “Nak, apa kamu yakin dan benar-benar menyukai gadis itu?” Nandang dengan penuh semangat menjawab “iya Mak Ananda sangat yakin Yanah bisa menjadi pendamping hidup yang baik buat Ananda, seperti yang Ananda sampaikan kepada Amak tadi, Ananda sudah mencari tahu semuanya Mak, izinkan Ananda menikah dengan Yanah Mak” Sang Ibu kemudian memegang erat tangan anaknya dan berkata “Yasudah,,, nanti Amak coba bicarakan dulu dengan Abah ya, kamu berdoa saja semoga Abah mau menerimanya Ya, Amak akan selalu berusaha agar Anak semata wayang Amak ini bahagia” Nandang pun sangat senang mendengar jawaban Amaknya dan mencium tangan Amaknya sebelum Ia kembali ke kamar untuk melaksanakan Shalat Dhuha.

Sore hari ketika Abah pulang dari kebun, Amak mulai berdiskusi dengan Abah… saat mendengar pekerjaan sang gadis sebagai penjual susu. Abah tak menyetujui jika anak semata wayangnya menikah dengan gadis penjual susu itu… “Mak, kita ini kan keluarga terpandang, perkebunan tebu yang berhektar-hektar, dan beberapa pabrik gula harusnya dikelola dengan orang yang sepadan dengan kita, bukan orang biasa apalagi hanya gadis penjual susu” tegas sang Bapak. “Tapi Bah, Nandang sudah sangat yakin dengan keputusannya,,, sampai-sampai Ia melaksanakan shalat istikharah untuk memantapkan pilihannya Bah”. Sang Ibu berusaha meyakinkan. “Tidak Mak, sekali Abah bilang tidak ya tidak”. Kata Sang Bapak dengan nada yang tinggi. Setelah berkata seperti itu, Bapak langsung meninggalkan Ibu sendirian di ruang tengah… Dibalik tirai ternyata Nandang mendengar pembicaraan kedua orang tuanya… tetes-tetes air mata pun mulai berjatuhan di pipi Nandang. Ia pun langsung masuk kamar dan membanting pintu dengan keras… mendengar suara bantingan pintu, sang ibu pun mendekati kamar anaknya dan mendapati pintu yang sudah terkunci. Sang Ibu kembali ke kamar dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir… sang ibu bisa merasakan kesakitan sang anak… karena separuh jiwanya ada pada sang anak… semalaman sang anak tak keluar dari kamar… sesuap nasi pun tak masuk kedalam mulutnya… sang ibu menjadi sangat khawatir dengan kondisi anaknya… sang Ibu mencoba mengetuk kamar anaknya untuk mengajak sarapan, namun tak ada jawaban. Sang Ibu pun kembali ke kamar dengan deraian air mata. Sang Ibu mencoba menenangkan diri dengan melaksanakan Shalat Hajat dan berdoa agar keluarganya diberi kedamaian dan ketentraman. Ketika sang Bapak pulang dari kebun, sang ibu pun menarik-narik tangan suaminya dan berkata “Bah, Nandang sedari kemaren malam belum makan apa-apa. Ibu khawatir Nandang kenapa-napa”. Sang Ibu terus mengetuk-ngetuk pintu kamar Nandang,,, tapi tetap saja tak ada jawaban… hal tersebut membuat sang Ibu semakin khawatir… “Bah… bagaimana ini Nandang tidak mau keluar kamar”. Sang Bapak tanpa berkata apa-apa langsung mendobrak pintu kamar Nandang… melihat kondisi Nandang yang lemah terkulai diatas kasur…. Sang Ibu langsung memeluk anaknya…. “Nak suhu badanmu panas sekali, ayok kita ke rumah sakit” sang anak menggelengkan kepala kemudian pingsan… sang ibu menjerit dan mengguncang-guncangkan badan anaknya… Sang ayah langsung membawanya ke rumah sakit agar Nandang mendapatkan perawatan… Saat sang ibu hendak keluar kamar,,, terdapat secarik surat di atas meja… Ia pun mengambil surat itu dan membaca isinya,,,, air mata sang ibu terus mengalir dengan derasnya setelah mengetahui isi surat itu “Amak, Abah, Nandang sangat menyayangi dan menghormati Amak dan Abah,,,, tapi Nandang juga sangat mencintai Yanah gadis penjual susu itu. Nandang merasa bahagia berada di dekat Yanah. Nandang tak peduli Yanah terlahir dari keluarga miskin, karena itu bukan salah Yanah. Nandang mohon Amak dan Abah merestui hubungan ini. Karena Nandang yakin Yanah bisa menjadi istri yang baik buatku dan ibu yang baik buat anak-anakku kelak. Semakin Nandang jauh dari Yanah semakin sakit pula raga ini Mak Abah”. Dengan muka yang sembab, sang ibu berlari menuju rumah sakit menyusul suami dan anaknya… sesampainya disana sang ibu langsung menyodorkan secarik surat kepada suaminya yang berisi ungkapan rasa sayangnya kepada kedua orang tua dan gadis yang amat ia cintai… sang ibu terus memohon kepada sang suami agar mengizinkan anaknya menikah dengan gadis penjual susu itu “Bah, Amak mohon izinkan Nandang menikah dengan gadis itu. Abah tidak ingin kan anak semata wayang kita kenapa-napa?” Abah terus terdiam dan menunduk merenungi nasib anaknya yang sedang berjuang antara hidup dan mati… tiba-tiba dokter keluar dan mengatakan kondisi Nandang semakin kritis. “Pak, Bu sebelumnya Kami mohon maaf, Kami sudah berusaha semaksimal kami, namun kondisi anak Bapak dan Ibu semakin kritis, Ia terus menyebut-nyebut Nama Yanah. Siapakah gerangan?. Saran Saya ajak Yanah untuk menemui Nandang. Mungkin itu cara terbaik untuk menyembuhkannya”. Sang Bapak pun bangun dari tempat duduknya dan berkata kepada istrinya “Baiklah Mak, demi Nandang Abah rela Nandang menikah dengan gadis itu”. Sang ibu pun sangat bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Kemudian Ia bergegas memanggil pelayannya untuk menjemput Yanah yang berada di Kampung sebelah untuk dibawa ke rumah sakit menemani Nandang. Keesokan harinya Yanah pun sampai di rumah sakit dan menemani Nandang yang terbaring lemas diatas ranjang. Ketika Yanah mulai berbicara “Nandang, ini aku Yanah, cepatlah sembuh agar aku bisa melihat wajahmu yang senyum manismu itu”… mendengar ucapan Yanah…. perlahan-lahan kondisi Nandang mulai membaik… berhari-hari Yanah di rumah sakit menemani Nandang sampai sembuh total. Seminggu setelah Nandang keluar dari rumah sakit berlangsunglah acara pernikahan Nandang dengan Yanah. Acara pernikahan ini berlangsung dengan mewah dan dihadiri banyak tamu undangan… dengan gaun warna putih dan kerudung panjang Yanah terlihat sangat cantik bagai bidadari yang baru turun dari surga… (Tamat)

Design by  M. Bustomi Farid Bayu Aji (KMNU Undip)

You might also like
Comments
Loading...