Senandung Rindu di Bumi Satria

Sebuah cerpen islami penggugah semangat bersholawat kepada Sang Nabi

Oleh: Musa/ KMNU Unsoed

Sore itu, langit menampakkan kesuramannya. Lereng Gunung Slamet ditutupi awan pekat pertanda sebentar lagi hujan akan turun. Begitulah kebiasaan alam di Kota Purwokerto, kota yang menjadi maskot di daerah Jawa Tengah bagian selatan dan berjuluk Kota Satria. Sore yang sendu itu sedikit membuat hati kami resah, karena di malam harinya ada Perayaan Maulid Nabi di Pondok Pesantren Bani Malik Kedungparuk. Turunnya air hujan sebenarnya adalah rahmat, namun di mata sebagian para jamaah dianggap sebagai penghalang semangat menghadiri majelis.

Kami tinggal di sekretariat masjid kampus. Di tempat yang berukuran 4×7 meter itulah kami berlima  menyiapkan masadepan, sembari mengumandangkan adzan dan menjadi imam Sholat ketika waktu sholat tiba. Selain itu, tugas kami adalah memakmurkan masjid dengan kajian dan majelis sholawat yang kini mulai disenangi warga kampus. Banyak yang menyebut kami Takmir Masjid, namun kami mempunyai sebutan sendiri yaitu Hifdzu Baitullah (Penjaga Rumah Allah).

Suara Kang Fatta mengagetkanku saat menyeterika baju yang akan ku pakai khusus untuk malam nanti

“Kang Wildan, jadi berangkat Perayaan Maulid atau tidak nanti malam?” tanya Kang Fatta

“ Hah? InsyaAllah jadi Kang”, jawabku kaget

“Tapi sepertinya mau hujan, Kang” lanjut Fatta

Ngalap berkah iku kudu wani berkorban Kang Fatta” tukas Kang Dede yang dari tadi asyik membaca tafsir Kitab Maulid Simtuddurror.

“ya sudah Kang, ayo berangkat” tegas Fatta

Begitulah perbincangan yang sering kami lakukan di sekretariat masjid kampus. Beberapa menit setelah perbincangan tersebut, hujan turun tiada terkira. Tetesan air dari langit tersebut tidak seperti biasanya, butiran air hujan yang biasanya sebesar biji kopi berubah menjadi seperti butiran salju bagaikan kerikil. Derasnya hujan membunyikan atap sekretariat, membisingkan para penghuni yang ada di dalamnya. Ucapan Kang Dede tadi bagaikan doa yang langsung dikabulkan oleh Allah melalui perantara Malaikat Mikail.

“Hujan semakin deras nih Kang,  kalau tidak reda sampai malam bagaimana?” tukas Fatta

“semakin deras hujan semakin besar pengorbanan kita Kang, jadi berkahnya InsyaAllah semakin besar”, jawabku untuk meyakinkan Kang Fatta yang sedari tadi masih ragu-ragu.

Kata-kata ku tersebut ternyata benar-benar membius Kang Fatta sehingga membuyarkan keraguannya untuk menghadiri Perayaan Maulid tersebut. Memang sebetulnya sudah menjadi tradisi, ketika perayaan Maulid Nabi di Kedungparuk hujan pasti turun. Terkadang dari pagi hingga malam langit seakan tidak ada hentinya menurunkan airnya ke bumi. Bahkan Kang Fatoni, salah satu pengurus Pondok Pesantren Bani Malik Kedungparuk pernah bilang, “berkat berkahnya Mbah Malik langit tidak tahan melimpahkan rahmat Allah ke Kedungparuk, jadi jangan ditanyakan ketika hujan selalu turun di Perayaan Maulid ini, karena hujan adalah bentuk dzohir dari rahmat Allah”.

Hari beranjak petang, setelah menjalankan sholat maghrib, saya, Kang Wildan, dan Kang Fatta pun bersiap. Kami ingin berangkat lebih awal agar bisa sholat isya di Pondok Bani Malik. Mengenai tugas imam sholat isya di masjid kampus kami serahkan kepada Kang Arif yang katanya mau menyusul saja.

Suasana di lingkungan Pondok Pesantren Bani Malik sangat ramai, ratusan orang berbondong-bondong dari penjuru Kota Satria untuk menghadiri majelis yang luar biasa itu. Bahkan ada yang berangkat sekampung dengan menyewa truck, bis, dan ada beberapa  rombongan dengan mobil pickup beratap terpal. Hatiku terkagum-kagum ketika melihat para jamaah tersebut, meskipun dari tempat yang jauh mereka rela menerjang hujan demi menghadiri majelis tersebut (subhanAllah).

Sehabis sholat isya dilaksanakan, grup hadrah terbaik dari Kota Pekalongan kelihatannya sudah siap bersenandung sholawat, Az-Zahir nama grupnya. Jamaah terus berdatangan bagaikan mata air yang terus mengalir. Saya terkesima dengan suasana malam yang indah itu. Malam bersama ratusan jamaah yang memiliki wajah sumringah. Tak seorangpun kujumpai dari mereka yang berwajah pucat ataupun pasi. Semua raib dalam kebahagian yang terpancar pada malam yang penuh berkah, walaupun kami tak tahu entah kapan hujan reda.

Panitia penyelenggara kelihatannya sudah mempersiapkan dengan baik. Terlihat dengan tertatanya tempat parkir kendaraan jamaah, Pasukan Banser yang siap sedia berjaga dan tenda-tenda yang sudah terpancang di sepanjang jalan masuk Pondok, dibagian atas tenda terdapat hiasan kata-kata mutiara dari Mbah Malik dan ulama-ulama yang sungguh menyentuh qolbu. Antara jamaah Pria dan Wanita pun diberi batas penghalang. Segerombolan jamaah Putri berkerudung merah marun yang anggun lewat di depan kami. Ternyata satu diantara jamaah putri tersebut adalah Ning Ifa, Ifadatul Khoiriyah nama lengkapnya, seorang Mahasiswi Fakultas Kedokteran yang pernah Nyantri di Jombang. Wanita pujaan hati  Kang Dede yang katanya sehabis wisuda mau dilamar.

“Kang, Ifa Kang” sahutku

“Mana Kang, mana?” balas Kang Dede

“Tuh, lihat, yang berkerudung merah marun”

“owh iya ya, kamu awas bener ya kalau lihat akhwat”

“hehe, tapi cantik ya Kang”

“sudah, jangan dilihatin terus! Dosa.!”

“ iya Kang, maaf”

Begitulah Kang Dede, beliau paling tua diantara kami. Tua baik usia maupun pemikirannya. Kami melanjutkan langkah, dengan percaya diri kami duduk dibarisan terdepan dengan harapan semoga semakin banyak berkah yang kami dapat. Puncak dari perayaan Maulid tersebut menurut saya adalah ketika pembacaan Maulid Simtuddurror. Yaitu sebuah Risalah Nabi yang dikarang oleh Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi. Disaat mahalulqiyam ketika jamaah berdiri seakan benar-benar kami merasakan dahsyatnya the power of Love pada diri kami. Kekuatan cinta  pada manusia utusan Tuhan yang patut utuk dicintai, seakan kami benar-benar merasakan kehadiran Rasulullah di setiap Qolbu kami. Kami yakin, inilah Islam yang dirindukan Nabi. Islam yang berkembang tanpa memaksa. berkolaborasi dengan budaya. Menghargai perbedaan lahiriyah dengan semangat persatuan dalam menggapai cintaNya dan cinta kepada rasulNya. Sungguh, senandung rindu pada malam hari ini benar-benar menjadi air penawar di padang dahaga. Semoga kita mendapatkan cintaNya kelak dalam naungan syafaatNya. Acara dilanjut dengan Mauidhoh Hasanah dan ditutup Doa. Dengan beriringan, jamaah kembali ke tempat tinggalnya masing-masing, Begitupun kami. Kepulangan jamaah disertai dengan redanya hujan, kami tidak tahu mengapa hujan seakan-akan berhenti disaat kami pulang. Aku coba menanyakan Kang Dede, tapi tak ada jawaban pasti darinya, kucoba untuk berfikir sendiri sampai tak sadarkan diri bahwa aku sudah terlelap.

Wallahua`lam bisshawab.

Purwokerto, 25 Desember 2017

You might also like
Comments
Loading...