Sejak Kapan Berita Hoax Muncul?

Beberapa tahun silam saat Husni Mubarak didemo oleh ribuan rakyatnya yang menuntut agar dirinya turun dari kursi kepresidenan, Azhar dengan wibawa dan kearifannya menahan rakyat dan menyatakan untuk tidak ikut serta. Kaidah “pemimpin fajir lebih baik daripada tidak ada pemimpin” naik daun dikalangan ahli fiqh. Persis dengan sikap Nahdlatul Ulama kemarin.

Waktu pun berlalu, benar saja. Setelah Husni Mubarak lengser, intrik politik merebak. Perebutan kekuasaan terjadi hingga berakhir pada kudeta Mursi. As-Sisi mengambil alih kuasa dan menduduki jabatan presiden. Demo besar-besaran pun terjadi. Untuk kesekian kalinya Azhar, yang kali ini diwakili oleh Mufti Agung Mesir (As-Sabiq) Syaikh Ali Jum’ah, meminta rakyat menahan diri.

Sebagaimana yang dituturkan dari Syaikh Nazrul Nasir Al-Azhari daripada gurunya Syaikh Ahmad Mamduh Al-Azhari daripada gurunya Syaikh Ali Jum’ah, bahwa pendapat Imam Al-Haramain menjadi pijakan kali ini. Pemimpin yang menjabat tidak boleh dilengserkan walau dia mendapatkan kepemimpinannya dengan cara yang tidak sah.

Di belahan bumi yang lain, Suriah, negeri yang penuh dengan berkah juga turut dilanda kekacauan yang sama. Hanya saja, sepertinya 80% dukungan rakyat saat pemilu berpengaruh besar dan menjadi bukti bahwa rongrongan terhadap kekuasaannya hanya berasal dari sedikit rakyat yang agak “rewel”, namun, bara api demonstrasi menjadi besar dengan keikutsertaan negara-negara lain. Sampai di sini saya tidak mau berkomentar. Saya hanya mau menyoroti sikap para ulamanya.

Saat awal kekacauan terjadi, Mufti Agung Suriah, Syaikh Muhammad Sa’id Ramadlan Al-Buthi terlihat menenangkan rakyat. Sikapnya yang seakan terlihat melindungi Assad membuat geram sebagian pihak. Apalagi bagi mereka yang tidak memahami jalan pikiran Syaikh nan Agung ini. Singkatnya, saat seperti ini dimanfaatkan oleh sebagian pihak untuk menjatuhkan mereka para pewaris Nabi. Muncul berita bahwa Grand Syaikh Al-Azhar bukan ulama, melainkan boneka pemerintah. Macam-macam tuduhan dilemparkan kepada beliau, saya pun tak berani menulisnya dalam status ini. Sangat menyakitkan hati.

Syaikh Ali Jum’ah juga tak lepas dari hal yang sama. Dituduh sebagai pembunuh karena dianggap mengeluarkan fatwa bolehnya membunuh demonstran. Terus-menerus berbagai tuduhan tidak berdasar dilemparkan kepada beliau hingga beliau pernah berkata dalam sebuah halaqah – nya, “aku telah menginfakkan nama baikku kepada para jurnalis”.

Lebih parah lagi yang terjadi pada Syaikh Sa’id, beliau dituduh mengeluarkan fatwa menyembah Assad. Aneh bin ajaib memang. Tapi itulah kenyataan. Apakah setelah itu fitnah berhenti, tentu tidak. Orang-orang yang tidak suka dengan beliau semakin menjadi-jadi. Memiriskan hati jika menulis satu demi satu tuduhan mereka.

Saat yang riskan inilah tampil para “penggoreng” isu. Membuat berita-berita yang diada-adakan. Akibatnya, mereka para ulama jatuh hina dihadapan umat. Mereka memanfaatkan kebodohan umat terhadap ilmu agama untuk kepentingan pribadi. Pernahkah umat mengetahui proses ijtihad para ulama yang telah saya sebutkan namanya diatas? Tidak. Ya, memang tidak. Ulama kita pun tidak pernah panjang lebar menjelaskan. Sebab itu merupakan proses yang sangat rumit dan ulama kita tidak mau membebani umat.

Jangankan Al-Azhar, Mufti Mesir, atau pun Mufti Suriah, kita para santri saja yang pernah melakukan bahtsul masail membutuhkan waktu berhari-hari untuk menjawab sebuah permasalahan “medium”. Coba bayangkan jika masalah yang anda hadapi sama rumitnya dengan mereka.

Saya pribadi pernah menghabiskan waktu hampir sepekan bersama kawan-kawan santri lainnya yang sudah melanglang buana ke IIUM, Al-Azhar, dan lainnya (yang notabene ahli dalam yurisprudensi Islam) hanya untuk menjawab satu pertanyaan singkat. Apa hukum biaya administrasi di perbankan syariah, halal atau haram?

Pernahkah anda tahu sulitnya mengeluarkan bahts tentang larangan salat Jum’at di jalanan? Tahukah anda petapa rumitnya mengeluarkan sikap syariat mendukung pemerintah dalam kasus Freeport? Pernahkah anda tahu betapa “njlimet“-nya mengeluarkan khittah untuk netral dalam Pilkada yang diikuti oleh non-muslim? Dan masalah-masalah lainnya. Ini bukan hal yang mudah, kawan.

Semua harus ditelaah dari semua aspek, tidak hanya benarnya penggunaan ushul fiqh, penelusuran turats, dan penyelarasan ‘illat, tapi juga harus melihat segi politik, ekonomi, budaya bahkan sosial demi terwujudnya fatwa yang paling mashlahat. Ini membutuhkan keahlian yang tidak gampang, tidak dengan hanya sekali duduk sambil minum kopi. Tak heran sebagian berpendapat bahwa ahli jawatan fatwa itu adalah bakat, bukan hanya keahlian. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Syaikh Ali Jum’ah.

Anehnya, hasil jerih payah itu tak dihargai sedikit pun oleh sebagian pihak. Tuduhan antek komunis, mufti bayaran, Kiai duit, dan kalimat-kalimat keji lainnya menjadi dzikir dan wirid mereka. Ditambah lagi para ulama kita adalah sosok-sosok manusia tulus yang memang tidak mengharapkan dunia dan penghargaan manusia. Mereka tak pernah sedikit pun “menolong” diri sendiri dengan menjawab hoax-hoax tersebut. Padahal jangankan dibayar, ucapan terima kasih atas jerih payah mereka pun tak mereka dapatkan. Mereka hanya memimpikan sosok umat yang berperadaban, maju, aman, damai, dan hidup rukun. Itu saja, tak lebih.

Ah, sudahlah. Saya takut tulisan ini terlalu panjang.

Santri yang mengharap ridhla gurunya. (Adhli Alqarni)

You might also like
Comments
Loading...