Secuil Kisah Hikmah Abu Bakar Asy Syibli

Diceritakan dari KH. Lukman Hakim dalam suatu kesempatan dalam kitab Tadzkirul Auliya’ bahwa Abu Bakar As Syibli adalah seorang yang terkenal cerdas. Beliau diangkat menjadi bendahara hingga sampailah dia menjadi gubernur dan dianugerahi jubah kehormatan oleh sang khalifah di zamannya. Setelah dilantik dan meninggalkan istana, Abu Bakar As Syibli bersin dan membersihkannya dengan jubah tersebut. Hal tersebut diketahui oleh prajurit istana dan dilaporkan kepada khalifah. Abu Bakar As Syibli memenuhi panggilan khalifah. Sang khalifah ingin tahu kebenaran akan hal tersebut. “Apakah benar setelah bersin engkau membersihkannya dengan jubah yang aku beri?” tanya sang khalifah. “Benar Baginda,” jawab Abu Bakar. Abu Bakar As Syibli kemudian berkata “Jubah yang engkau berikan itu kotor wahai khalifah, maka dari itu aku gunakan untuk membersihan bersin.” Merasa direndahkan, sang khalifah pun memecatnya dari jabatan gubernur.

Abu Bakar As Syibli kemudian mengembara dan berguru kepada Imam  Junaidi Al Baghdadi. Ia berniat membeli mutiara dari Sang imam. Kemudian Imam al Junaidi berkata, “Tidak mungkin engkau dapat membelinya dengan uang yang kau punya, engkau tahu betapa bernilainya mutiara ini? Apabila aku memberikannya secara cuma-cuma padamu, engkau tidak akan tahu betapa berharganya mutiara ini. Untuk itu, engkau jadilah gelandangan selama dua tahun setelah itu menghadaplah kepadaku”. Setelah beberapa waktu, Abu Bakar As Syibli tiba di suatu pasar. Ia menyusuri sepanjang pasar kemudian menemui beberapa orang. Orang-orang ada yang menganggap Abu Bakar As Syibli itu tidak waras, hilang akal, gila dan sebagainya. Namun Ia malah senang dikatakan seperti itu.

Dua tahun berlalu, Abu Bakar As Syibli kembali menemui Imam Al Junaidi. Menurut sang imam, dia harus kembali menjadi gelandangan selama dua tahun lagi sebab masih ada secuil kesombongan pada diri Abu Bakar As Syibli (artinya Abu Bakar As Syibli malah berbangga menjadi gelandangan). Setelah melaksanakan tugas Ia kembali menemui gurunya, Imam Al Junaidi. Kemudian Imam Al Junaidi memberikan mutiara berupa pedang terbaik dan sangat tajam.

Suatu ketika sampailah ia di suatu daerah dan kemudian mengatakan bahwa siapa saja yang berucap Allah maka aku akan penggal lehernya. Masyarakat resah dan mengadukannya kepada khalifah. Ketika ditanya khalifah “Bagaimana bisa orang yang mengucapkan lafadz Allah engkau akan penggal lehernya? Berikan penjelasan akan hal tersebut”. Abu Bakar As Syibli menjawab “Bagaimana mereka tidak berfikir dan tidak beradab terhadap  Dzat yang Maha Agung dan Maha Suci itu. Allah yang merajai segalanya dan Maha Mulia disebut dari mulut yang sangat kotor dan hina. Apakah pantas orang yang melecehkan Allah Subhanahu Wa ta’ala seperti itu dipenggal lehernya?”. Seketika itu, khalifah mengutus pengawalnya untuk membebaskan Abu Bakar As Syibli karena dia memang benar.

Hikmah yang dapat kita ambil dari kisah ini adalah betapa para ulama dan sufi begitu tawadlu’ dan wira’i. Untuk mencapai tingkatan ma’rifat dan taqarrub dengan Alloh tidaklah didapat dengan cara yang mudah. Namun dengan cobaan dan ujian yang berat. Hanya orang-orang yang bertaqwa dan teguh imannya lah yang mampu mencapainya. Semoga bermanfaat.(Iqbal Muzakki)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.