KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

SANTRI BLUSUKAN : Peran Generasi Santri Millennial dalam Mempertahankan Tradisi dan Kebhinekaan melalui IPTEK

Oleh : Alis Mukhlis

Istilah generasi millennial memang sedang akrab terdengar. Istilah tersebut berasal dari kata millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe. Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini. Namun, para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980-1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya (Republika, 2016). Mereka inilah masa depan bangsa Indonesia yang akan menjadikan domografi sebagai bonus pembangunan.

Di era millennial, nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal sudah mulai ditinggalkan. Padahal nilai-nilai itu memiliki peran dalam mengikat kebhinekaan. Tradisi dan kearifan lokal mampu merekatkan kerukunan dan persatuan antar segala etnis masyarakat. Paham-paham modernis yang mulai merasuk dan bercampur baur dengan budaya bangsa perlahan menggerus nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal. Dan juga ideologi-ideologi trans-nasional yang mulai menjamur perlahan mengancam nilai-nilai kebhinekaan. Apabila nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal mulai ditinggalkan maka hal tersebut dapat mengancam kebhinekaan. Pentingnya melestarikan nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal untuk memperkokoh Bhinneka Tunggal Ika yang dititipkan oleh para leluhur bangsa Indonesia.

Permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam merawat kebhinekaan ini salah satunya adalah meruncingnya intoleransi. Menurut survei Wahid Institute, 7,7 % responden bersedia melakukan tindakan radikal, dan itu setara dengan 11 juta penduduk di Indonesia. Hal tersebut diungkapkan Policy and Research Senior Officer Wahid Institute Alamsyah M. Djakfar, dalam forum Rembuk Nasional: Intoleransi Ancam Kebhinekaan (TRIBUNNEWS.COM, 2017).

Kegamangan negara tersebut menyebabkan kebudayaan tidak berkembang dan mengancam ide-ide pluralisme dan kebhinekaan yang selama ini menjadi perekat bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Di era milennial, IPTEK juga memiliki peran yang signifikan dalam pertumbuhan generasi muda untuk segala lini aspek kehidupan. Jika IPTEK ini digunakan dengan baik, maka efeknya pun akan baik. Mempertahankan tradisi juga bisa dengan melalui IPTEK. Nah, dengan mempertahankan tradisi maka kebhinekaan akan terjaga. Dengan demikian dibutuhkan peran santri milennial yang mampu mengoptimalkan secara baik IPTEK dalam menjaga nilai-nilai tradisi dan  kebinnekaan.

Program “Santri Blusukan” bisa menjadi salah satu solusi dan trobosan baru dalam mempertahankan tradisi dan kebhinekaan, misal dengan “Gerakan Da’i Aswaja” dengan menerjunkan langsung para santri senior yang terlatih dan mumpuni secara keilmuan ke masyarakat, sosialisasi kepesantren-pesantren untuk memperkenalkan gerakan tersebut, dan tak lupa mempublish semua kegiatan “Gerakan Da’i Aswaja” ini di media sosial. Program ini bisa di laksanakan secara berkelanjutan.

  1. IPTEK di Era Millennial

Seiring perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, teknologi telah mengubah segalanya. Teknologi membuat masyarakat mengandalkan media sosial untuk mendapatkan informasi aktual dari sebuah peristiwa. Saat ini, media sosial telah menjadi platform pelaporan dan sumber berita utama bagi masyarakat. Tentu semuanya tidak terlepas dari nilai positif dan negatif, itu semua tergantung sikap bijak dari individu masing-masing.

Hal-hal kecil dan sepele bisa saja menjadi besar ketika media sosial membesar-besarkannya. Dan demikian juga sebaliknya, permasalahan besar bisa saja menjadi kecil dan bahkan lenyap terlupakan oleh masyarakat ketika media masa membungkamnya.

  1. Tantangan Tradisi dan Kebhinekaan di Era Millennial

Para founding fathers bangsa ini menyadari bahwa kita adalah bangsa yang bhineka, bangsa yang majemuk, heterogen dan plural. Masyarakat di Indonesia terdiri dari berabagai suku, ras, agama, etnis, bahasa, kesenian, adat, budaya dan tradisi yang beragam. Keberagaman adalah jati diri bangsa Indonesia.

KH. Husaen Muhammad mengutip kata-kata Gus Dur tentang Kebhinekaan dalam bukunya Sang Zahid: Mengarungi Sufisme Gus Dur, “Keberagaman adalah keniscayaan alam semesta, keniscayaan hukum Tuhan atas alam ciptaan-Nya. Keberagaman adalah anugerah Tuhan. Keberagaman akan terus ada sepanjang kehidupan ini belum selesai.

Keberagaman atau kebhinekaan adalah sunnatullah. Merusak kebinekaan berarti melawan sunnatullah dan melawan sunnatullah merupakan kedzhaliman. Dalam pandangan Islam, kebhinekaan atau keberagaman merupakan hukum alam (sunnatullah) yang tidak akan berubah dan tidak bisa ditolak. Secara jelas Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia memang diciptakan dalam berbagai bangsa dan suku (QS. al-Hujurat: 13). Karena itu, pluralisme harus diterima sebagai kenyataan yang mesti dihargai dan dipandang secara optimis dan positif sebagai salah satu tanda-tanda kekuasaan Tuhan (QS. al-Rum: 22). Bahkan, Al-Quran menyatakan bahwa perbedaan tidak harus ditakuti atau ditiadakan tetapi justru harus dijadikan titik tolak untuk berkompetisi menuju kebaikan (QS. al-Maidah: 48).

Kita semua berkewajiban untuk merawat kebhinekaan. Bukan sekedar karena kebhinekaan ini adalah bingkai pemersatu bangsa Indonesia, tetapi lebih dari itu. Keberagaman adalah nilai kemanusian yang universal.

Adapun ancaman bagi kebhinekaan bukan isapan jempol semata, intoleransi atas perbedaan menyebabkan kegelisahan dan kecemasan. Kasus-kasus intoleransi agama di Indonesia pada umumnya didominasi oleh kekerasan dan penyerangan, penyebaran kebencian, pembatasan berpikir dan berkeyakinan, penyesatan dan pelaporan kelompok yang diduga sesat, pembatasan aktivitas atau ritual keagamaan, pemaksaan keyakinan, dan konflik tempat ibadah.

Intoleransi agama juga diwarnai dengan munculnya fundamentalisme atau gerakan-gerakan Islam trans-nasional, yang menyatakan diri sebagai anti-demokrasi dan mengusung ideologi intoleran seperti khilafah dan takfiri. Sebagian besar umat Islam di Indonesia yang tertarik terhadap kelompok Islam trans-nasional ini adalah dari kalangan akademisi. Mudahnya orang-orang pintar dan potensial ini tertarik pada kelompok Islam trans-nasional menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak sendirinya menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang Islam, dimana doktrin-doktrin keislaman tidak cukup memadai jika diartikan secara harfiah.

  1. Santri Blusukan: Peran Generasi Santri Millennial

Pesatnya arus perkembangan teknologi menyebabkan tergerusnya nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal. Maraknya paham-paham ideologi trans-nasional membuat sebagian kalangan masyarakat terpengaruh dan tidak sedikit yang kemudian malah meninggalkan tradisi-tradisi yang sudah lama dilestarikan.

Santri sebagai kaum religious, berilmu, berakhlak dan berintelektual harus bisa memainkan perannya di era millennial ini. Santri harus bisa memberikan sumbangsih pemahaman Islam yang ramah, sejuk  dan damai kepada masyarakat. Pentingnya peran dari para santri turut membantu dalam mempertahankan tradisi dan kebhinekaan. Maka dalam hal ini, santri harus bisa memberikan pemahaman yang lurus kepada masyarakat. Salah satu bentuk terobosan baru yang bisa menjadi salah satu solusi yaitu dengan di bentuknya “Gerakan Da’i Aswaja”.

“Gerakan Da’i Aswaja” merupakan sebuah gerakan dari para santri yang terjun langsung kemasyarakat, memberikan pemahaman kepada masyarakat baik pemahaman keislaman maupun pemahaman kebhinekaan dan cinta tanah air.

Gerakan ini harus dipelopori oleh seorang tokoh yang berkharisma, berilmu dan berwibawa. Yang mana nantinya bekerjasama dengan lembaga-lembaga dakwah yang memang kokoh mempunyai prinsip dalam menjaga tradisi dan kebhinekaan bangsa ini, missal Lembaga  Dakwah Nahdllatul ‘Ulama (LDNU), Lembaga Dakwah Muhammadiyyah dan lain sebagainya. Peroses pembentukan gerakan ini sebagai berikut.

a. Membentuk Tim Pelopor Gerakan Da’i Aswaja

Sebelum memulai gerakan ini, harus terbentuk dulu tim pelopor penggagas, yang bakal memperaksarai lahirnya “Gerakan Da’i Aswaja”.

b. Sosialisasi Ke Pesantren

Setelah tim pelopor penggagas “Gerakan Da’i Aswaja” ini terbentuk baik secara visi misi maupun struktur kepengurusan, kemudian tim ini melakukan silaturrahmi dan sosialisasi ke berbagai pesantren untuk menyampaikan visi misi dan tujuan dari gerakan ini. Kemudian jika pihak pesantren mendukung dan menyetujui, tim penggagas meminta beberapa dari perwakilan santri-santri senior dari pesantren tersebut untuk mengikuti dan berpartisipasi dalam gerakan ini.

c, Madrasah Aswaja

Menyelenggarakan “Madrasah Aswaja”, yang merupakan sebuah wadah pelatihan dan pembekalan pematangan keilmuan bagi para santri senior ketika nanti terjun dan mengatasi problem di masyarakat. Santri yang bisa mengikuti pelatihan ini terdiri dari santri-santri senior perwakilan dari berbagai pesantren yang secara keilmuan sudah cukup mumpuni.

Dalam “Madrasah Aswaja” ini, tidak hanya keilmuan semata yang akan diberikan, tetapi juga terkait teori dalam berdakwah, pelatihan public speaking dan retorika yang baik dalam menyampaikan/ berdakwah.

d. Program Rutinan

Setelah para santri selesai mengikuti pelatihan dan pembekalan melalui “Madrasah Aswaja”, para santri bisa langsung terjun ke masyarakat-masyarakat yang nilai-nilai keislamannya masih kurang atau masyarakat yang rentan akan radikalisme dan intoleran sesuai dengan rekomendasi baik dari pihak pesantren maupun rekomendasi dari tim Gerakan Da’i Aswaja. Sebelumnya harus ada pemetaan tempat yang akan dijadikan objek dakwah. Para santri terjun ke masyarakat secra rutin sesuai waktu yang telah disepakati dan ditentukan untuk menguatkan ke Islaman dan kebhinekaan di masyarakat tersebut.

e. Publikasi di Sosial Media

Semua kegiatan-kegiatan gerakan ini harus selalu dipublish di akun sosial media “Gerakan Da’i Aswaja” supaya masyarakat umum bisa mengetahui, mengingat sekarang adalah era digital-millennial yang hampir mayoritas kehidupan masyarakat tidak terlepas dari yang namanya media sosial. Dan bisa jadi mereka meminta di daerah masing-masingnya untuk di adakan dan dibentuk “Gerakan Da’i Aswaja” tersebut.

Dengan demikian, peran generasi santri millennial sangat penting dalam mempertahankan tradisi dan kebhinekaan dalam menjaga keutuhan NKRI.

You might also like
Comments
Loading...