Sanad Musalsal bil Jawiyyin

Mungkin kita sudah biasa mendengar Sanad Musalsal Bil YamanMusalsal Bil Maghrib, atau pun Musalsal Bil Makki. Ya, itu karena periwayatnya disetiap generasi adalah orang Yaman, Maghrib (Maroko), atau Makkah. Tapi tahukah anda, ternyata kita sebagai orang Nusantara punya juga lho. Itulah yang disebut Sanad Musalsal Bil Jawiyyin, yakni sanad yang perawinya disetiap generasi adalah orang Jawi (Nusantara). Sanad ini dipegang oleh Al-‘Allamah Al-Mu’ammar KH. Maimoen Zubair (Sarang, Rembang, Jawa Tengah) dan keluarga Tarmasiyyin (keturunan Syaikh Mahfudz Termas di Jawa Timur). Sanad ini meriwayatkan kitab Ithaf As-Sādah Al-Muttaqīn Syarh Ihyā’ Ulumuddīn. Adapun sanadnya dari jalur Kiai Maimoen sebagai berikut.

Al-‘Allamah Al-Mu’ammar KH. Maimoen Zubair dari KH. Zubair Dahlan (ayah Kiai Maimoen) dari KH. Faqih Maskumambang dari Syaikh Mahfudz At-Tarmasi dari KH. Abdullah (ayah Syaikh Mahfudz) dari KH. Abdul Mannan (kakek Syaikh Mahfudz) dari penulis kitab Al-Hafidz Al-Murtadla Az-Zabidi. Diantara kelebihan kitab ini dibanding kitab Syarh Ihya’ yang lainnya adalah Az-Zabidi melakukan takhrij yang tidak bisa dilakukan orang sebelumnya, yakni As-Subki. Bukan karena As-Subki tidak pandai melakukan takhrij, tapi memang beliau tidak mendapati haditsnya. Tapi Az-Zabidi malah bisa menemukannya. Demikian kerangan dari Al-Muhaddits Syaikh Usamah Sayyid Al-Azhari. Memang, Az-Zabidi dikenal sebagai orang yang hebat dalam takhrij hadits. Disebutkan bahwa Syaikh Muhammad Al-Hafidz At-Tijani pernah mengumpulkan takhrij yang dilakukan Az-Zabidi untuk kemudian dicetak. Cetakan tersebut mencapai 90 jilid dan itu belum semuanya dicetak. Kitab tersebut diberi judul Nūrul Yaqīn.

Az-Zabidi dikenal juga sebagai Al-Hafidz, yakni orang yang telah menghafal lebih dari 100.000 hadits baik sanad maupun hukum matannya, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Mahmud Sa’id Mamduh dalam Tazyīn Al-Alfādz Bi At-Tafāim Tazkirah Al-Huffādz. Bahkan dalam kitab Al-Mujaddidūn karya KH. Maimoen Zubair, Az-Zabidi disebut sebagai Mujaddid dikurun 12.

Sebagai orang Nusantara kita patut berbangga bahwa ulama-ulama kita bukanlah ulama sembarangan. Mereka adalah ulama yang sambung-menyambung rantai keguruannya hingga sang Maha Guru, Rasulullah Muhammad SAW. Masihkah anda lebih memilih internet daripada Kiai?

Mudah-mudahan Allah memperpanjang usia kita dan Kiai Maimoen agar kita dapat berjumpa dengan beliau dan mengambil ilmu dan periwayatan kitab ini dan kitab-kitab lain. Āmīn yā Rabbal ‘Ālamīn. (Adhli Alqarni)

You might also like
Comments
Loading...