Saat Ulama Kita Dilukai

Warga Indonesia yang mayoritas memeluk agama islam kembali lagi digentarkan dengan kasus penganiayaan terhadap ulama, baru-baru ini yaitu kasus penusukan oleh seorang pemuda bernisial AA (24) dengan korbannya yaitu Syekh Ali Jaber, seorang ulama penghafal Al-Quran (Hafiz). Kejadian tersebut terjadi ketika Syekh Ali Jaber menjadi pembicara dalam pengajian di Masjid Falahuddin, Bandar Lampung pada Minggu (13/09/2020). Pelaku merupakan warga setempat yang pada saat itu dengan sengaja menaiki panggung dan menusuk korban dengan menggunakan senjata tajam

Berbagai perspektif terhadap korban bermunculan, salah satunya diungkapkan oleh orang tua korban yang menyatakan bahwa korban memiliki gangguan kejiwaan. Pernyataan tersebut sontak mengundang berbagai komentar dari warganet yang merasa terdapat kejanggalan atas hal tersebut, karena diketahui bahwa pelaku masih aktif menggunakan sosial media layaknya orang normal lainnya. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penyelidikan polisi terkait kondisi kejiwaan korban, polisi belum menemukan kartu tanda pasien RSJ Kurungan nyawa. Artinya, pelaku belum pernah memiliki riwayat perawatan di rumah sakit jiwa (kompas. com, 15/09/2020).

Menurut The American Psychological Association, berikut ini tanda-tanda mendasar seseorang yang mengalami gangguan jiwa :

  • Perubahan kepribadian, jika seseorang bertindak seperti orang yang sangat berbeda, tidak bertindak atau merasa seperti diri mereka sendiri, ini adalah tanda peringatan.
  • Kecemasan, kemarahan, ataupun mood swing, perubahan emosi yang parah adalah peringatan yang harus segera ditangani, terutama jika ini berlangsung selama terus-menerus.
  • Penarikan sosial dan isolasi, jika seseorang menutup diri secara sosial, membatalkan keterlibatan sosial, ataupun menghabiskan terlalu banyak waktu sendirian, ini juga jadi gejala serius seseorang memiliki masalah pada kesehatan emosional atau mentalnya.
  • Kurang perawatan diri dan melakukan perilaku yang beresiko, orang-orang dengan gangguan jiwa sering kehilangan perhatian terhadap kesehatan dan kesejahteraan mereka sendiri. Ini juga termasuk dengan terlibat dalam perilaku berisiko seperti minum dan menggunakan narkoba
  • Rasa putus asa, orang-orang yang mengalami gangguan jiwa kerap mudah menyerah, lekas putus asa, dan tidak semangat dalam menjalani hidup.

Hasil  lain  dari pemeriksaan, tersangka belum memberikan informasi yang jelas mengenai motif penusukan. Tersangka hanya mengaku bahwa ia merasa dihantui oleh korban. Terkait pernyataan tersebut, menimbulkan beberapa tertanyaan baru yang membutuhkan tindakan analisis yang lebih lanjut. Tersangka dikenakan pasal berlapis yaitu Pasal 340 KUH-Pidana juncto Pasal 53 KUH-Pidana subsider Pasal 338 KUH-Pidana juncto Pasal 53 KUH-Pidana dan Pasal 2 Ayat 1 UU Darurat No 12 tahun 1951. Lanjutan dari penyelesaian kasus ini yaitu penyidik kepolisian telah menerbitkan SP2HP atas kasus tersebut dengan tujuan sebagai transparansi dan bukti bahwa kepolisian terus melanjutkan pengusutan kasus (kompas.com 18/09/2020).

Selain permasalahan terkait motif pelaku yang belum juga terungkap, beberapa pihak malah menyoroti terkait kehadiran negara untuk melindungi para ulama. Kasus serupa juga terjadi pada bulan yang sama yaitu kasus yang menimpa Ustaz Abdul Rahman. Ia ditusuk saat mengimami salat Subuh di Masjid Darul Muttaqin, Sawangan, Depok. Keresahan publik tersebut salah satunya disuarakan oleh Anggota Komisi VIII DPR Hasani Bin Zuber ketika menggelar sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan kepada civitas akademika Ma’had Ali Nurul Cholil di Kabupaten Bangkalan yang menyatakan bahwa polisi harap segera menyelesaikan kasus penusukan yang menimpa Syekh Ali Jaber dengan cepat agar  tidak  menyisakan kecurigaan sedikit pun kepada pemerintah terutama kepada para penegak hukum (Liputan6.com, 19/09/2020).

Hal tersebut juga mengarah  pada desakan kepada pada pengampu kepentingan untuk menyelesaikan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) perlindungan Ulama, yang kini masuk program legislasi nasional (Prolegnas) prioritas tahun 2020 dengan harapan kedepannya yaitu segala penyelesaian hukum terkait kasus serupa dapat lebih terusut serta tidak terjadi kembali kasus penganiayaan terhadap ulama dan tokoh agama lainnya. Pada giliranya Kasus penusukan seperti ini sudah ramai diperbincangkan sejak 2018 lalu dan sering kali menuai narasi politik yaitu Rezim yang ingin kriminalisasi Ulama terutama saat menjelang Pilpres 2019 lalu. Sebagai Mahasiswa, Kader KMNU dan juga Warga negara beragama muslim  berikut  kami memiliki tips dan cara bersikap dalam menghadapi isu serupa, agar dikemudian hari kita tidak bingung harus bersikap seperti apa :

  • Bersikap empati kepada korban penyerangan atau yang dituju korban. Tentu ini adalah sebuah etika dasar dalam bersosial dimana kita harus memikirkan apa yang dirasakan korban dan ikut turut merasakan duka yang dialaminya.
  • Bersikap adil dan bijaksana. Ini adalah konsep paling ideal karena kita harus fokus kepada pelaku dan juga mengawal proses hukum yang berlangsung kepada si pelaku agar benar-benar sesuai dengan perbuatan yang ia perbuat. Tentu melalui persidangan dan proses penyidikan yang diperlukan sehingga bukti serta kronologinya jelas.
  • Jangan mudah terbawa narasi politik, opini masyarakat yang tidak memiliki dasar yang kuat dan berita yang sifanya menyudutkan atau berusaha memframing ke pada isu tertentu. Memang beropini dan menyatakan pendapat adalah hak dalam demokrasi namun alangkah bijaknya opini dan pendapat yang kita nyatakan tidak membuat gaduh dan spekulasi yang justru membuat fitnah bertebaran dimana-mana. Saran jika ada opini seperti itu lebih baik ditampung terlebih dahulu kecuali sudah disertai bukti yang kuat dan analisis dari keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan misal Kriminologi, Psikologi dan keilmuan lainnya.
  • Mendoakan para ulama agar senantiasa diberikan keselamatan dan juga keamanan karena kita yakin bahwa tidak ada sebaik-baiknya pelindung selain Allah SWT. Para ulama memiliki peran penting dalam dakwah islam ini sehingga sebagai warga muslim yang baik tentu membantu mendoakan keselamatan beliau bukanlah hal yang berlebihan.
  • Ikhtiar lebih dalam aspek penyelenggaraan acara. Prinsip mencegah lebih baik dari pada mengobati ada benarnya karena nyawa tidak bisa dibeli di toko. Lebih baik waspada panitia sebelum acara mungkin bisa membantu mengecek barang jamaah apakah membawa senjata tajam atau alat yang membahayakan. Kemudian menyediakan pihak keamanan walau sedikit yang secara formasi ada di dekat Ulama/penceramah sehingga jika tiba-tiba ada oknum ingin menyerang/menusuk bisa dicegah. Hal diatas hanya contoh sebagian kecil bentuk ikhtiar kita sisanya bisa dikembangkan lebih lanjut oleh pihak penyelenggara acara demi keselamatan ulama kita.

Pada intinya kita sepakat dan tentu mengutuk keras tindakan kekerasan kepada ulama namun tentu bentuk sikap dan rasa empati kita harus disalurkan dengan cara yang benar dan tidak menimbulkan mudharat yang lainya.

Sumber : Buletin Mahabbah (KMNU) Edisi 7

Comments
Loading...