Refleksi Hari Santri : Tanah Air Ruhaniyyah

Refleksi Hari Santri : Tanah Air Ruhaniyyah

Sekian ribu ahli akan mengungkapkan sebuah definisi yang selalu berbeda-beda hanya untuk satu kata. Hal demikian dikarenakan latar belakang pendidikan dan ideologi dari ahli tersebut. Tidak serta merta semua definisi tersebut dapat diterima oleh kebanyakan orang, ada pula definisi khusus yang disampaikan untuk disiplin ilmu tertentu.

Dalam sebuah Mau’idhotun Hasanah, Habib Novel Alaydrus mengungkapkan definisi dari pemaknaan sebuah perkataan, “Hubbul Wathon minal Iman” atau cinta tanah air merupakan sebagian dari iman. Beliau menjelaskan dari definisi yang diberikan oleh Shulthonul Auliya Sayyidina Sayikh Abdul Qodir Al Jailaniy QS. Ahli Sufiyyah pada zamannya, sultannya para Wali Allah.

Habib Novel mengemukakan bahwa menurut Shulthonul Auliya, kata “Wathon” tersebut mengandung arti tentang negeri asal dari manusia yaitu ruhaniyyah. Hal ini diperkuat dengan sambungan dari kata terkenal ini yaitu Iman. Pada ranah Iman tersebut akan mempunyai hubungan vertikal dengan Allah SWT, sehingga pendefinisian pada Negeri Ruhaniyyah merupakan hal yang tepat.

Dalam definisi tersebut, tentu saja tidak kemudian menjadi konsumsi masyarakat awam, karena berkaitan dengan pola-pola tingkat keimanan seorang muslim. Terdapat maqomat-maqomat tertentu yang menjadi pertimbangan definisi tersebut memang dipelajari terbatas oleh kalangan tertentu. Misalkan kalangan Thoriqoh dan kaum terdidik oleh ilmu yang memadahi.

Senada dengan hal tersebut, KH Ahmad Muwafiq dalam Mau’idhotun Hasanahnya juga menekankan aspek Cinta Tanah air menurut versi Syaikh Abdul Qodir Al Jailani. Menurut beliau, dalam ranah tasawuf yang menjadi pijakan praktek tawasul, sesungguhnya tawasul itu sendiri sedang menjalankan asas Hubbul Wathon minal Iman. Karena siapa saja yang dikirimi bacaan Al Fatihah pada dasarnya menggunakan jaringan ruhaniyyah atau alam ruh.

Lebih lengkapnya, prinsipnya bacaan Al Fatihah ataupun bacaan lainnya baik itu Surat Al Quran hingga Manaqib pasti terkirim atau sampai di tujuan. Tatkala mengirimkan hadiah bacaan kepada Sunan Ampel maka hal tersebut akan sampai di Ampeldenta. Atau kepada Sunan Giri, maka ia akan sampai ke Gresik. Begitu pula dengan Manaqib yang dikirim kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani RA, akan sampai di Baghdad.

Konsepsi Wathon yang disampaikan oleh Shulthul Auliya pada akhirnya juga merujuk pada Tanah Air sesungguhnya, meski dalam ranah sufiyyahnya menggunakan jalur ruhaniyyah. Hal ini sebagai penguatan tradisi dari Ahlussunah Wal Jamaah yang notabene menggunakan alur sanad pada segala macam aspek. Sehingga adanya keterkaitan bagaimana konsep cinta tanah air bisa menjadi bagian dari iman.

Pada saat Hadhrotusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Fatwa Jihad-nya, secara otomatis konsep dari Syaikh Abdul Qodir Al Jailani ini dijalani. Fakta ini dibuktikan dengan gerakan yang serempak dilakukan oleh para Alim pada zaman tersebut. Penguatan ruhaniyyah yang Ulama lakukan menjadi sebuah semangat tersendiri bagi pejuang untuk merebut kemerdekaan.

Bahkan ada cerita berkembang bahwa terdapat tiga lapisan perang pada masa perebutan kemerdekaan. Lapisan pertama adalah para penyerang yang dilakukan oleh para tentara dan suka relawan jihad atau santri. Lapisan kedua adalah para pemikir strategi hal ini seperti halnya Panglima Besar, Presiden dan lainnya. Lapisan ketiga adalah para ulama yang melakukan mujahadah.

Bahkan dapat ditarik kesimpulan menarik, seseorang yang mencintai negeri ruhaniyyah ia akan dipastikan mencintai tanah air dalam bentuk realita. Sehingga para santri yang memang dikader dalam wacana Hubbul Wathon minal Iman mempunyai daya berkebangsaan yang tidak ditawar lagi. Bagi santri, Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah merupakan bentuk final dan harga mati. (Mazdan).

Referensi :

  1. Mau’idhoh Hasanah Habib Novel dalam Tabligh Akbar di Masjid Fakultas Teknik UGM 2013
  2. Mau’idhoh Hasanah KH Achmad Muwafiq dalam Majlis Dzikir Maulidurrasul SAW di Masjid Agung Manunggal Bantul 2014
You might also like
Comments
Loading...