Refleksi Hari Ibu “Perempuan Hebat, Negara Kuat”

Bab Tawakal

Agar diketahui bahwa perjalanan menuntut ilmu tidak lepas dari kepayahan, karena ilmu adalah perkara yang sangat besar dan ia lebih utama daripada berjihad menurut pendapat kebanyakan ulama, pahala yang diperoleh tergantung dari kepayahannya.

Barangsiapa yang mampu bertahan ia akan merasakan kelezatan yang melebihi seluruh kenikmatan duniawi, oleh karena itu Muhammad bin Al Hasan begadang semalaman memikirkan satu masalah ilmu, bila masalah ini telah terjawab, beliau berkata: “Apa nilainya kenikmatan anak-anak raja bila dibanding dengan kenikmatan ilmu?”

Hendaknya seorang santri tidak sibuk dengan apapun selain ilmu terutama ilmu fiqih. Muhammad bin Al Hasan Rahimahullah berkata: “Sesungguhnya pekerjaan kami ini sejak kami masih di ayunan sampai di liang lahat, barangsiapa yang ingin meninggalkan ilmu kami meski sesaat, sudah saatnya ia pergi meninggalkannya. Ada salah seorang ahli fiqih mengunjungi Abu Yusuf yang sedang sekarat, ia menghiburnya lalu Abu Yusuf bertanya: “Mana yang lebih baik lempar jumrah dilakukan sambil berkendara atau berjalan? Lelaki itu tidak mengetahui jawabannya, lalu beliau sendiri yang menjawabnya. Begitulah sepatutnya seorang ahli fiqih menyibukkan diri dengan ilmu fiqih di setiap waktunya, karena kalau demikian ia akan merasakan kelezatan yang tiada duanya dalam hal ini.

Dialog Interaktif bersama Neng Hibrul Ummah (Peraih beasiswa Tahfidz 30 Juz, Prodi Kedokteran Umum, KMNU Unissula)

Orang yang sholeh itu apakah karena orang tuanya? Bagaimana caranya agar anak kita kelak menjadi sholeh sholehah?

Itu sudah terbukti, kita bisa memandang dari putra putri ulama, sejak dari kandungan itu ada tirakatnya. Ada beberapa faktor dari seorang ibu, misalnya seorang ibu memiliki prinsip mendidik anaknya agar rumah tangganya kelak baik, dan lain-lain. Lingkungan ketika anak diasuh itu juga berpengaruh sekali. Seorang ibu bisa memperoleh anak yang sholeh sholehah memang sulit.

Tirakat itu paling penting, apabila sudah ada rahim diperut seorang perempuan. Sebaiknya setiap hari didengarkan dengan bacaan Al-Qur’an, sholawat, dan hadir untuk majelis. Dengan tirakat yang sungguh-sungguh itu merupakan kiat agar kelak anak kita menjadi sholeh sholehah. Bisa kita sebut dengan cara nyicil. Seorang anak akan mudah nurut dengan orang tua apabila orang tua melakukan hal yang sama. Jadi kita tidak perlu menyuruh anak untuk sholat, tapi kita menirukan atau memberi contoh kepada anak kita, agar kemudian penasaran dan ingin melakukannya.

Misalnya dalam menyelesaikan masalah, contoh yang ringan, apabila anak kesulitan membuka tutup botol, hendaknya bagi seorang orangtua membantu untuk membuka, bukan malah berkata seperti “masa buka botol saja tidak bisa”. Itu bisa membuat anak menjadi tertekan dan sebagainya.

Negara kita mengalami banyak kerusakan moral, bagaimana menyikapi sebagai seorang perempuan?

Asal mula perempuan sangat berpengaruh dalam kemerdekaan. Yaitu dibalik laki laki yang kuat terdapat perempuan yang hebat, memberikan semangat, motivasi, dan sebagainya karena wanita mengedepankan perasaan daripada logika. Sedangkan laki-laki sebaliknya. Banyak para wanita di luar sana mudah memberi harga dirinya, mungkin karena untuk kebutuhan hidupnya, ada yang mendasari beberapa faktor. Ada 2 faktor, yang pertamanya yaitu faktor internal dari dirinya sendiri, seberapa kuat imannya dan prinsipnya. Kemudian faktor eksternalnya, misal lingkungannya tidak mendukung, banyak laki-laki, akhirnya membuat perempuan ikut arus di sekitar. Akhirnya mindset-nya akan terbawa dengan sendirinya.

Bagaimana menjadi sosok ibu yang baik dan benar?

Ketika kita menghadapi anak-anak yang nakal, jangan sekali-kali melontarkan kata-kata kasar, tetapi mendoakan dimana doa tidak ada tandingannya untuk meluluhkan hati seorang anak. Kunci menjadi ibu yang baik adalah sabar, rela tersakiti oleh anak, banyak doa.

Bagaimana cara mengahadapi anak yang mulai aktif-aktifnya?

Yang pertama, ketika anak berada di masa aktifnya, kita tidak boleh membatasi gerak jalannya, biarkan dia mau apa, kemana, pegang apa, kita tugasnya cukup mengawasi dan menemani. Kita cegah anak apabila melakukan hal yang buruk, dan menasehatinya.

Memang kita membuat pola asuh anak, tidak semua kita atur atau kita larang. Kita butuh sebuah hukuman kepada anak, tetapi tidak membuat mentalnya down yang akhirnya akan membuat anak jera dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Kembali lagi ke orang tua, orang tua ingin mencetak anak yang seperti apa. Itu membutuhkan kesabaran, perjuangan yang tidak lama.

Hendaknya kita terus berbakti kepada ibu kita. Baik yang anak maupun dewasa, sudah menikah, kita wajib membahagiakan, merawat mereka.

Gus Kafa Lirboyo pernah berkata “Seorang istri harus mau dinomer 5 kan oleh suaminya”, kemudian seorang santri bertanya “Kenapa?”. Beliau menjawab “Karena yang pertama adalah ibunya sendiri, yang kedua ayahnya sendiri, kemudian ibu mertua, lalu bapak mertua, dan yang kelima baru istrinya sendiri.”

Itu menunjukkan seberapa kita harus birrul walidain kepada ibu kita, sekalipun kepada suami kita sendiri. Kita memang harus taat kepada orang tua, selama orang tua kita tidak melanggar agama. Karena kita pasti akan dihadapkan latar belakang orang tua yang berbeda-beda. Ketika kita dihadapkan perintah orang tua yang tidak sesuai, maka kita harus tetap taat.“Di masa muda sekarang ini kita sebaiknya berbakti kepada orang tua. Nanti insyaAllah anak kita akan berbakti kepada kita.”

Sumber : Kajian online kitab kuning Ta’limul Muta’allim KMNU Pusat tanggal 19 Desember 2020

Pembicara: Muh Adib R (Koor Kajian Kitab Kuning, Divisi Kajian dan Dakwah, Depnas 5) dan Neng Hibrul Ummah (KMNU Unissula)

Notulis : Ima Khoirunnisa (Divisi Kajian dan Dakwah, Depnas 5)

You might also like
Comments
Loading...