Refleksi Hari HAM Internasional

Aku mendengar bait salah seorang penyair: “Aku bergaul dengan orang-orang dari masa ke masa, yang aku lihat hanyalah pengkhianat dan pemarah. Aku tidak pernah melihat bencana yang lebih berat dan lebih sulit dari memusuhi orang-orang, aku seringkali merasakan pahitnya segala perkara tapi tiada yang lebih pahit dari meminta-minta.”

Bahwa di dunia ini banyak godaan dan banyak orang yang memusuhi, diusahakan jangan menjadi orang yang meminta-minta tapi memberi. Karena tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah.

Janganlah engkau berprasangka buruk kepada orang beriman karena itulah permulaan timbulnya permusuhan. Hal ini tidak diperbolehkan, karena Nabi saw bersabda: “Berprasangka baiklah terhadap orang-orang beriman”. Hal ini tumbuh karena niat yang buruk dan hati yang jelek, seperti yang dikatakan oleh Abu Thayib: “Jika perbuatan seseorang itu jelek, jelek pula dugaannya, ia membenarkan kebiasaan dugaannya.” la memusuhi para pecintanya dengan melontarkan kata-kata yang menyebabkan permusuan, la berada dalam keraguan seakan-akan dalam kegelapan malam karena suudzon, bisa membuatkan banyak permusuhan. Alm. Mbah Maimun Zubair pernah berkata: “Jangan sering-sering suudzon, karena bisa membuat hati gelap.”

Aku pernah mendengar syair sebagian ulama:”Jauhilah perbuatan buruk dan jangan menginginkannya dan orang yang telah kamu perlakukan dengan baik, tambahkanlah kebaikan itu.”

Perbuatan buruk, maksiat harus kita hindari. Kalau kita sudah berbuat baik kepada seseorang, maka pertahankan, atau tambah semakin baiklah kepada orang tersebut. Niscaya engkau akan terlindungi dari tipu daya musuhmu, bila musuhmu melakukan tipu daya janganlah kamu berbalik menipunya. Apabila kita disakiti orang, jangan balas dengan dendam. Seperti halnya Rasulullah dulu dilempari batu dan kotoran, tetapi beliau tidak membalasnya, malah mendoakannya.

Dibacakan di hadapanku syair Syaikh Abul Fatah Al Busti Rahimahullah:

Orang yang berakal tidak akan terhindar dari orang bodoh yang sengaja menjahilinya dan menentangnya. Lebih baik ia memilih damai daripada melawan, tidak menjawabinya bila ia mencela. Di dunia ini pasti ada yang tidak suka dengan kita, kalau ada orang yang bodoh menghina kita kemudian kita membalasnya. Sikap yang seperti itu malah membuat kita ikut terlihat bodoh.

Bab Mengambil Faedah

Hendaknya seorang santri selalu siap setiap saat untuk mengambil ilmu agar ia mendapat kemuliaan. Cara memperolehnya setiap saat ia harus membawa pena agar ia bisa menulis ilmu yang ia dengar.

Maka sebaiknya bagi para pencari ilmu selalu membawa pena dan buku kecil, agar bisa mencatat hal-hal penting atau kata-kata mutiara. Kalau di zaman milenial ini minimal menggunakan notes di gawai.

Dialog Interaktif bersama Neng Nilah Wati (Kadiv Kaderisasi Regional Bandung Raya)Tema : Refleksi Hari HAM Internasional

HAM di dalam KBBI, artinya kebebasan. Peran kita di dalam organisasi terutama di bidang agama dan NU, terkait hal LGBT sebaiknya kita tidak boleh mendeskriminasi. Secara tidak sadar orang-orang menganggap LGBT itu harus ditiadakan, padahal mereka kaum LGBT punya kebebasan dalam hidup mereka. Sumber kebenaran yaitu subjek dari pengalaman dan sumber kebenaran dari wahyu Tuhan.

Bagaimana langkah-langkah atau kegiatan menegakkan HAM di KMNU? Mengenali jumlah komunitas di Indonesia. Kemudian memilih komunitas mana yang kita ingin bergabung, lalu berkontribusi baik didalamnya.

Bagaimana dengan HAM? Adanya HAM itu membuat kita bebas dalam hak, seperti hak hidup, hak bernafas, dan yang lainnya. Manusia itu pada umumnya  akan berkelompok pada orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama, memiliki warna kulit yang sama. Itu merupakan hak manusia untuk berkelompok, tetapi secara tidak langsung, mereka telah membuat kelompok baru dan munculnya perbedaan, sehingga hak-hak mereka harus dipenuhi oleh kelompok lain, padahal mereka yang telah membuat kelompok tersebut.

Ketika kita ingin memperjuangkan hak rakyat, coba tanya pada diri sendiri, apakah kita sudah mampu me-manage hak kita sendiri? Apakah kita egois pada diri kita sendiri atau tidak.

Misalkan di kampus, kita mempunyai gagasan atau pendapat yang harus disampaikan, tetapi setelah ada sanggahan, kita cenderung berpura-pura untuk tidak tahu, dan itu merupakan perbuatan tidak menghargai orang lain. Hak itu diawali kita menghargai orang lain. Sebaiknya kita perbanyak memberi pujian kepada orang lain, bukan ingin mendapatkan pujian.

Pilar-pilar HAM adalah diri kita sendiri, me-manage hak kita. Langkah awal adalah menyadari kita terbatas. Apabila tidak dihargai orang maka perjuangkan atau terima dengan ikhlas. Rasulullah sangat menghargai terkait hak manusia, dan di dalam Al-Qur’an juga disebutkan tidak ada paksaan dalam beragama. Rasulullah juga tidak memaksa manusia untuk masuk islam, tetapi mengajak.

Dengan kaum Yahudi dan Nasrani beliau sangat menghormati, alhasil mereka kemudian menghormati Rasulullah dan mau masuk islam.

Agama itu sejalan dengan kehidupan kita, tetapi ada juga yang sebaliknya. Misalkan hak Manusia itu sendiri, apa yang kita lakukan itu diperjuangkan, diuntungkan oleh hak tersebut tanpa kita sadari. Kita dibatasi oleh Allah hidup dan dibatasi dengan kematian. Sebagai individu, mampukah kita menekan ego kita untuk hak-hak kita di lingkunagn sekitar? Siapa yang menjamin akan hak kita? Hak kita dijamin oleh diri kita sendiri.

Kalau kita ingin memperjuangkan HAM, dan kita ingin bergabung disuatu komunitas, sebaiknya kita bergabung dengan komunitas hukum, seperti LSM dan lain-lain. Di dalam komunitas itu terdapat benar-benar kelompok minoritas pejuang HAM. Supaya kita tidak hanya memperjuangkan HAM tanpa mengetahui hukum, justifikasi, dan lain-lain. Karena kalau kita berjalan memperjuangkan HAM sendiri, kemungkinan besar kita tidak akan didengar, kekuatannya kecil.

Kita sebagai mahasiswa dibekali ilmu dan agama, jadi kita ingin bertindak, maka harus dilandasi dengan pengetahuan atau dalil yang benar. Karena itulah yang akan menjadi tanggungjawab kita. Berjuang itu bersama-sama bukan sendiri. Berusahalah menjadi orang yang selalu berbuat baik kepada orang lain, jangan sampai menyakiti, lebih baik kita yang tersakiti tetapi kemudian memaafkannya.

Sumber : Kajian online kitab kuning Ta’limul Muta’allim KMNU Pusat tanggal 26 Desember 2020

Pembicara: Muh Adib R (Koor Kajian Kitab Kuning, Divisi Kajian dan Dakwah, Depnas 5) Bersama Neng Nilah Wati (Kadiv Kaderisasi Regional Bandung Raya)

Notulis : Ima Khoirunnisa (Divisi Kajian dan Dakwah, Depnas 5)

You might also like
Comments
Loading...