Ramadhan dan Petaka Umat Islam

Ramadhan dan Petaka Umat Islam

“Semua menunggu segarnya MARJAN” Begitulah kira-kira dialog yang sering kita dengarkan di TV setiap tahunnya. Selain menggunakan metode hisab dan ruqyatul hilal untuk menentukan awal bulan Ramadhan, kita bisa menggunakan metode ruqyatul marjan untuk menentukan awal bulan ramadhan, kurang lebih begitulah selentingan-selentingan yang biasa diucapkan masyarakat Indonesia dalam menentukan dan menyambut bulan suci Ramadhan. Ramadhan merupakan bulan yang mana ibadah puasa diwajibkan kepada seluruh umat islam, bulan ini sekaligus momentum bagi umat islam untuk berbondong-bondong melakukan amal kebaikan.
Dalam Al-Qur’an, terdapat dua kata yang digunakan untuk memahami makna puasa di bulan Ramadhan. Pertama “shiyam” dan yang kedua adalah “shaum”. Dua kata tersebut berasal dari akar kata yang sama, yaitu “shama-yashumu” yang bermakna menahan diri. Ulama bersepakat bahwa penafsiran dari kata menahan diri dalam konteks ini adalah menahan diri dari segala hawa nafsu yang ada. Tidak terkecuali menahan nafsu dari melakukan tindakan overconsumption (konsumsi berlebih) terutama ketika menyiapkan menu berbuka puasa.
Menurut data yang dikumpulkan oleh kementrian keuangan dari 2011-2015, menunjukkan bahwa inflasi Indonesia selalu mengalami peningkatan, terutama di bulan Ramadhan. Dimana terjadi kenaikan inflasi pada bulan ramadhan rata-rata >0.5% disetiap tahunnya. Kenaikan inflasi ramadhan tertinggi terjadi pada tahun 2013, dimana kenaikan mencapai titik 2.26%, hal ini terjadi karena peningkatan inflasi Ramadhan dibarengi dengan peningkatan harga BBM.

Ada dua jenis penyebab kenaikan inflasi :
1) Cost push inflations, sesuai namanya inflasi ini disebabkan oleh dorongan kenaikan biaya produksi. Cost push inflations terjadi terutama karena imbas kebijakan pemerintah, seperti pengurangan subsidi pada barang faktor produksi atau peningkatan pajak pada barang faktor produksi, kebijakan tersebut membuat harga pokok penjualan meningkat, sehingga para produsenpun menaikkan harga penjualan barang.
2) Demand pull inflations, inflasi ini disebabkan oleh adanya peningkatan permintaan pada waktu tertentu tanpa diimbangi dengan peningkatan penawaran. Inflasi jenis ini murni akibat terganggunya keseimbangan pasar.
Peningkatan inflasi pada bulan Ramadhan disebabkan oleh faktor yang kedua, yaitu karena adanya peningkatan permintaan barang, terutama bahan-bahan pokok seperti beras, bumbu dapur, sembako dan lain sebagainya. Peningkatan permintaan ini disebabkan oleh budaya konsumtif muslim Indonesia sebagai bagian dari semangat perayaan atas datangnya bulan Ramadhan. Hal ini sesuai dengan teori Kotler (1995), bahwa perilaku konsumen dipengaruhi oleh faktor sosial, pribadi, psikologis, dan budaya. Diluar itu, mekanisme ekonomi yang terbangun di Indonesia juga menudukung terwujudnya budaya konsumtif muslim pada bulan Ramadhan, seperti pemberian THR ( Tunjangan Hari Raya) atau banyaknya potongan harga yang ditawarkan produsen pada konsumen.
Fakta tersebut menjadi bias bila disandingkan dengan konsep Ramadhan yang sering digaungkan oleh umat islam. Dimana konsep yang digaungkan mengajarkan bahwa muslim Indonesia harus mampu menahan diri dan hawa nafsu (baik nafsu jasmani maupun nafsu rohani) di bulan Ramadhan. Fakta membuktikan, bahwa yang terjadi justru sebaliknya, peningkatan inflasi tertinggi justru terjadi pada bulan Ramadhan. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat muslim Indonesia melakukan over consupmtions, yang mana ketika over consumptions dilakukan serentak oleh seluruh orang, maka hal tersebut akan menyebabkan demand pull inflations.
Hal ini menjadi ironi bagi umat muslim, dimana ketika bulan Ramadhan seharusnya berbondong-bondong menahan diri dari hawa nafsu demi mendapatkan keberkahan yang hanya bisa didapat pada bulan Ramadhan. Umat islam Indonesia justru melakukan konsumsi yang berlebihan. sehingga umat islam sendiri sudah melupakan esensi dari bulan Ramadhan yang setiap hari mereka gaungkan. Bulan Ramadhan yang seharusnya menjadi bulan penuh berkah denga segala janji-NYA berubah menjadi bulan yang membawa petaka bagi umat islam Indonesia. Sampai saat ini, Ramadhan menjadi momok besar dalam peningkatan keimanan umat islam Indonesia. Karena pada bulan inilah, mayoritas umat islam beramai-ramai mengkhianati agama mereka, ibadah mereka, serta ucapan-ucapa mereka bahkan tanpa diri mereka sadari. Dalam perilaku mereka telah mengkhianati esensi dari ideologi agama mereka sendiri.
Oleh:
– Makara abu-abu (KMNU UI)

Sumber gambar: https://www.facebook.com/Ramadhan2018hijri1440/

You might also like
Comments
Loading...