PUISI-PUISI NUSANTARA

The global pandemic has forced believers to contemplate a fundamental question: what is the purpose or benefit of ritual and worship? Is it something performed only to serve God, no matter the situation? Or is its purpose to make you and your loved ones happy and safe?

Those who believe that ritual is intended primarily to serve God will put public worship ahead of concerns over Covid-19. They challenge other believers with difficult questions: “Why you are afraid of the virus? You should be afraid of God.” They oppose government regulations forbidding them to organise mass prayers in holy places, such as mosques, churches or temples. (dikutip dari Indonesia at Melbourne terbitan University of Melbourne tulisan Sujiwo Tedjo)

Menarik memang dengan topik pandemi ini namun sangat menjemukan. Jenuh dengan suara penantang virus. Hari ini kubulatkan tekad menelisik puisi-puisi Nusantara. Ya sekedar sebagai perayaan kecil-kecilan hari puisi tanggal 28 April kemarin.

Berbicara tentang puisi, identik dengan sang penulis “Aku” yang tak seorangpun bisa merayu bila sampai waktunya. Tepat sekali si Chairil. Pemuda lusuh saudara Perdana Menteri Sutan Sjahrir ini sudah menjadi kapten puisi Indonesia. Wajahnya jadi ikon dunia puisi Indonesia saat ini. Sebetulnya sejarah puisi yang lahir dari pemikiran anak bangsa kita jauh lebih tua dari tuanya puisi Chairil.

Dulu, puisi tak hanya sekedar sebagai sarana mengungkapkan rasa cinta seorang laki-laki kepada gadis idamannya—seperti laki-laki zaman sekarang yang suka menulis puisi pendek hanya demi membuat gadis idamannya tersenyum sumringah setelah membacanya.

Sebut saja beberapa nama besar seperti R. Ng. Ranggawarsita, Haji Hasan Mustapa, dan Pangeran Diponegoro yang menggunakan puisi sebagai menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai ketuhanan.

Geguritan 1 Dhandhanggula:

“Bareto mah aing atoh meunang kejo, ayeuna mah atoh meunang kejo jeung seubeuhna, bareto mah aing atoh meunang cageur, ayeuna mah atoh meunang jeung bageurna, bareto mah aing atoh meunang baju alus, ayeuna mah atoh meunang jeung alusna, bareto mah aing atoh meunang samak angel, ayeuna mah atoh meunang jeung tunduhna, bareto mah atoh meunang kahirupan, ayeuna mah atoh meunang jeung betahna, bareto mah aing atoh meunang elmu, ayeuna mah atoh meunang jeung ngamalkeunnana”.[1]

“Kalau dulu aku senang mendapat nasi, sekarang senang mendapat nasi sekaligus dengan kenyangnya, kalau dulu aku senang mendapat sehat, maka sekarang senang mendapat dengan sejateranya, kalu dulu aku senang mendapat baju bagus, maka sekarang aku senang mendapat dengan bagusnya, kalau dahulu aku senang mendapat tikar dan bantal, maka sekarang aku senang mendapat tikar dengan kantuknya, kalau dulu aku mendapatkan kehidupan, maka sekarang aku senang mendapat dengan betahnya, kalau dulu aku senang mendapatkan ilmu, maka sekarang aku senang dengan mengamalkannya. ”

Geguritan 2 Sinom:

“Beu naha aing bet lancing suaban teuing, ti bareto waniwani nyaksian, euweuh deui sembaheun kajaba ti Gusti Alloh!, kumaha lamun aya nu nanya: ti mana nya nyaho?, meureun ngan bisa ngaJawab, da ceuk kolot!da ceuk bapak!, kumaha piandeuleunnana!, aya saksi putus ku ceuk bejabae!, //tah numatak aing keukeuh peupeujeuh ulah jeung henteu, hayang tepi ka nyatana, cara ditanya, maneh nyaho rupa cabe?ngaJawab, puguh nyaho mah da geus ngasaan, bet lada! Maneh nyaho di gula? Puguh nyaho mah da geus ngasaan, bet amis! Maneh nyaho di uyah?ngaJawab, puguh nyaho mah da geus ngasaan, bet pangset! Moal ngaJawab, da ceuk bapak!

Terjemahnya:

“Aduh mengapa aku terlalu lancang, sejak dulu  berani beraksi bahwa tiada lagi yang wajib disembah kecuali Allah!, bagaimanakah seandainya ada yang bertanya: dari mana kamu mengetahu hal itu? Paling-paling aku hanya bisa menjawab: kata orang tua! Kata ayah! Bagaimana mungkin bisa dipercaya saksi yang hanya mengandalkan bertanya saja! Oleh karena itulah, tidak boleh tidak, aku harus sampai pada pengenalan yang sebenarnya: sehingga biladitanya: kamu tahu rasa cabe? Aku bisa menjawab: tentu saja tahu karena aku pernah mencicipinya, ternyata rasanya pedas! Ketika aku ditanya: kamu tahu rasa guala? Aku bisa menjawab: tentu saja tahu karena aku pernah mencicipinya, ternyata rasanya manis! Ketika aku dinya: kamu tahu rasanya garam? Aku bisa menJawab: tentu saja aku tahu karena pernah mencicipinya, ternyata rasa asin! Aku tidak akan menjawab kata ayah![2]

Puisi Nusantara sebelum angkatan Chairil memiliki rima dan aturan bait. Orang Jawa menyebutnya guru lagu dan guru wilangan. Keunikan ini menimbulkan ketakjuban sendiri bagi penulis. Ketika kebebasan puisi dibatasi aturan bait dan rima, akan tetapi pujangganya masih bisa memberi nyawa pada puisinya. Masih ingat mengenai pantun? Kurang lebih seperti itu. Indah, unik, bermakna namun terikat aturan rima dan aturan bait.

Haji Hasan Mustapa adalah ulama Sunda yang ahli dalam sastra Sunda. Pernah menjadi rekan ulama palsu Abdul Ghaffar alias Snouck Hurgronje di Mekkah, membuat Haji Hassan ditawari menjadi penghulu besar Aceh kemudian Bandung. Haji Hassan juga merupakan dari kyai yang jadi tempat putra-putri Snouck nyantri.

Beranjak dari H. Hassan Mustapa, mari kita selami puisi-puisi Panglima Perang Jawa. Sultan Ngabdulhamid Cokro Amirul Mukminin Sayyidin Panotogomo Khalifatulla Tanah Jawa begitu puitis di pengasingan di Makassar. Pangeran sepuh menulis autobiografinya dalam aksara pegon dan bahasa Jawa. Autobiografinya ditulis berbentuk puisi dalam tradisi Jawa (baca : tembang macapat). Autobiografi ini digadang-gadang sebagai autobiografi pertama di Nusantara.

Apan maksih aneng jroning kitha iki
Menadho punika
wallahu aklam ing benjing
karsanya Allah Tangala.

Namung ingkang Sinuhun ing siyang ratri
mring Allah Tangala
kalawan supangatneki
Jeng Rasulullah punika.[3]

Dalam bait terakhir yang ditulis Pangeran sepuh tahun 1831 lalu sungguh menggambarkan beliau adalah tokoh yang ikhlas dan pasrah akan kehendak dari Allah SWT. Secara pribadi, penulis mengagumi Panglima Perang Jawa tahun 1825-1830 M ini. Selain sebagai panglima perang beliau juga seorang cendekiawan dan layak disebut pujangga.

Tokoh selanjutnya yang berpengaruh pada puisi-puisi Nusantara adalah R. Ngabehi Ranggawarsita. Pengarang kitab Paramasastra—nahwunya bahasa Jawa—ini terkenal dengan ramalan “Zaman Edan”nya. Sebagai pujangga istana, Ranggawarsita sangat produktif menulis sastra. Berikut puisi jawa yang sarat akan makna ketuhanan yang ditulis Ranggawarsita selama hidupnya.

Teks Alih aksara Terjemah bebas
amênangi jaman edan |
ewuh aya ing pambudi |
mèlu edan nora tahan |
yèn tahan mèlu nglakoni |
boya kaduman melik |
kalirên wêkasanipun |
dilalah karsa Allah |
bêkja-bêkjane kang lali |
luwih bêkja kang eling lawan waspada ||[4]
(Jenis Sinom)
Hidup di zaman edan
Gelap jiwa bingung pikiran
Turut edan hati tidak tahan Jika tahan tidak ikut
Batin merana dan penasaran Tertindas kelaparan akhirnya
Tapi janji Allah itu pasti
Seuntung-untungnya orang yang lupa (daratan)
Lebih berutung (selamat) orang yang selalu ingat dan waspada

Selain serat Kalatidhanya yang sering dikaitkan dengan konspirasi ketika pemilu. Ranggawarsita sering kita kenal dengan ilmu ghaibnya. Beliau bisa meramal kapan tanggal kematiannya sendiri dalam puisinya.

Teks Alih AksaraTerjemah bebas
amung kurang wolung ari kang kadulu |
êmating pati patitis |
wus katon nèng Lokilmakpul |
angumpul nèng madya ari |
amarêngi ri Buda Pon ||
Kurang delapan hari lagi
Saat kematian yang pasti
Terlihat di Lauhul Mahfuz
Jauh saat tengah hari
Pada hari Rabu pon ino
tanggal kaping lima antaraning luhur |
sêlaning taun jimakir |
sangara winduning pati |
tolu uma aryang jagur |
nêtêpi ngumpul saênggon ||
Tanggal lima di waktu dhuhur
Bulan Dzulkaidah tahun Jimakir
Wuku Tolu-Paringkelan Jagur
windu sengsara saat kematian
memenuhi janji kembali
cinitra ri Buda kaping wolu likur |
Sawal ing taun Jimakir |
candraning warsa pinetung |
nêmbah muksa pujăngga ji|
ki pujăngga pamit layon |
(Jenis Tembang Megatruh)
Ditulis Rabu tanggal dua delapan
Bulan Syawal tahun Jimakir
Bertanda tahun candrasengkala[5] nêmbah muksa pujăngga ji
Sang Pujangga pamit mati.

Mengenai bait terakhir ini, penulis berpendapat Ranggawarsita orang yang khusus dan bisa jadi beliau adalah kekasih Allah. Beliau diberi anugerah oleh Allah mengenai kapan waktu kematiannya tiba. Sungguh luar biasa.

Demikian puisi-puisi Nusantara. Terlepas dari jauhnya masa puisi ditulis sampai ke masa sekarang, tak ada buruknya kita sedikit membaca dan mengingatnya. Banyak pelajaran budi dan ketuhanan yang dapat kita petik. Sekian.

Selamat memperingati hari puisi. Sudahkah anda menulis puisi hari ini?

Disusun oleh: Deva A Supardi (IMAN PKN STAN)


[1] Rosidi, Ajip, 1989 Haji Hasan Mustapa jeung Karya-Karyana. Bandung: Pustaka.

[2] Rosidi, Ajip, 1989 Haji Hasan Mustapa jeung Karya-Karyana. Bandung: Pustaka.

[3] Dipanegara. 1831. Babad Dipanegara Ing Nagari Ngayogyakarta Adiningrat.Surakarta. Diakses melalui e-resource-perpusnas.go.id

[4] Ranggawarsita, R Ng. Sêrat Jaka Lodhang tuwin Sêrat Kalatidha, Prawiradiarja, Bagian no. 1498. Surakarta. Diakses melalui sastra.org

[5] Menurut adat dalam susastra Jawa, angka tahun ditulis tidak harfiah angka. Angka tahun ditulis dengan sifat huruf yang diwujudkan dalam kebendaan. Misal angka 1 ditulis dengan hal yang berwujud satu seperti Gusti, Allah, Jagad, dan lain seterusnya.

You might also like
Comments
Loading...