KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

PERJALANAN ILMIAH MEMPELAJARI BACA-TULIS ALQURAN

 

Sedikit aku ingin bercerita proses kami dulu belajar alquran. Setidaknya ada lima jenis ilmu yang kami pelajari sebagai santri quran pemula. Dua diantaranya berkaitan dengan tulisan, dan tiga lainnya berkaitan dengan bacaan.

Dua ilmu lagi yang berkaitan dengan tulisan, yakni imla’ dan ilmu khat. Kedua ilmu ini sudah saya ceritakan pada tulisan saya yang lalu.

Adapun ilmu yang berkaitan dengan bacaan ada tiga, yaitu ilmu qiraat, ilmu tajwid, dan ilmu nagham. Ilmu qiraat dibagi dua, qiraat pemula dan qiraat mahir. Qiraat pemula hanya mempelari satu jenis qiraat quran beserta bacaan-bacaan gharibnya dengan cara talaqqi bil musyafahah dari sang guru. Tentu qiraat yang digunakan adalah Qiraat Hafsh Thariqah Syatibi, sebab itu yang lazim di Makassar. Biasanya ilmu ini dipelajari bersamaan dengan ilmu tajwid. Jadi, saat datang ke madrasah kami langsung talaqqi sekitar satu atau dua ruku’ bacaan (kadang disebut ‘ain). Setelah itu kami akan mendapat materi Ilmu Tajwid, mulai dari kitab matan Hidayatus Sibyan, Tuhfatul Atfal, dan Jazariyah. Jangan lupa, kitab-kitab matan ini harus dihafalkan.

Setelah qiraat pemula selesai, yakni ditandai dengam khatam quran dengan qiraat Hafsh thariqah syatibi, kemudian pelajaran tajwidnya juga beres maka pindah ke tahap berikutnya. Yakni tahapan qiraat mahir. Ini lebih sulit lagi, biasanya diperkenalkan thariqah-thariqah bacaan lain dalam qiraat Hafsh. Ini belum qiraat sab’ah lho. Nah, pada tahap ini santri ditekankan untuk menghafal quran, sebab talaqqi tidak boleh lagi membawa mushaf. Harus dengan hafalan.

Tahap qiraat mahir ini dipelajari bersama dengan ilmu nagham (atau kadang kami sebut ilmu tilawah). Hanya sayang, saya sering bolos dipelajaran ini. Paling mentok nilainya B. Hahaha. Ilmu ini mempelajari macam-macam lagu, mulai dari Bayati, Nahawand, Jiharka, Shoba, Rast, Hijaz, dan Sika. Setiap lagu punya turunan, seperti Bayati ada Bayati Qarar, Nawa, Jawab, Jawabul Jawab, Nuzul, dan Shu’ud. Jangan tanya apa bedanya, aku tak ahli dalam ilmu ini.

Nah setelah selesai semua, kita baru dianggap mahir “membaca” alquran. Bagi mereka yang punya ketertarikan lebih dengan alquran, maka boleh mengambil takhassus dengan sang guru untuk mempelajari ilmu qiraat sab’ah. Saya belum pernah belajar, sebab keburu dapat beasiswa di Gorontalo.

Itulah kira-kira perjalanan ilmiah agar bisa membaca dan menulis quran. Apakah ini sudah berakhir? Langsung jadi ustaz? Tentu tidak. Masih ada seabrek ilmu alat yang harus dicicipi. Mulai dari nahwu, sharaf, mantiq, balaghah, ushul fiqh, kalam, fiqh, musthalah hadits, dan kawan-kawannya. Ini banyak, tapi tidak sulit. Asalkan mempelajarinya dengan cara yang benar dan dari orang yang benar.

Ok, inilah secerca kisah perjalanan ilmiah kami (hanya untuk) membaca dan menulis alquran. Betapa mulianya quran dengan segala keluasan ilmunya. Sampai sini dulu ya. Wassalam.

Bogor, Rabiul Anwar 1439
@adhlialqarni / Nur B.

You might also like
Comments
Loading...