Peran Seorang Generasi Milennial Nahdliyyin dalam Mengembangkan Nahdlatul Ulama

Ada dua organisasi islam besar yang dianggap mewakili muslim santri di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) yang sering dianggap mewakili golongan tradisionalis dan Muhammadiyah yang dianggap mewakili golongan modernis. NU adalah organisasi ulama tradisional yang tidak bisa dilepaskan dari keberadaan pesantren, mengingat sebagian besar pendiri dan pendukung utamanya adalah para kiai yang berasal dari dan memimpin pesantren. (Effendy, Djohan. 2010)

Sejak mulai berdiri pada tahun 1926, Nahdlatul Ulama telah banyak mewarnai perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara Republik Indonesia—sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga era reformasi, terlebih ketika Gus Dur masih ada. Banyak dinamika terjadi di tubuh NU ketika itu. Salah satunya adalah ketika cucu pendiri NU ini menyatakan permintaan maaf atas peristiwa kelam yang terjadi pada tahun 1965 yang melibatkan NU di dalamnya, sesuatu yang menunjukkan jiwa besar yang dimiliki NU. NU ini aset negara, aset bangsa. Aset negara/bangsa ini harus kita manfaatkan sebesar mungkin bagi kemaslahatan hidup sekarang, untuk menata dunia materiil kita baik-baik, agar—sekali lagi—kita hidup pantas, dan layak dalam ukuran umum, baru kemudian mengurus hal-hal megah tapi ruwet dan belum merupakan prioritas penting bagi NU sebagai organisasi. (Sobary, Mohamad: 2010)

Dari definisi di atas, tentunya dapat kita ketahui bahwa Nahdlatul Ulama merupakan sebuah organisasi yang sudah cukup tua dan cukup besar di negeri ini. Namun, bukan berarti karena sudah besar tidak menyisakan berbagai kelemahan dan permasalahan yang ada pada tubuh NU sendiri. Berikut ini adalah beberapa pendapat dari para tokoh mengenai Nahdlatul Ulama, yaitu.

  1. Dr. Anton Lukas, sejarawan, mengemukakan pendapatnya yang dikutip dalam Buku “NU dan Keindonesiaan” bahwa

NU has enormous influence among muslims in Indonesia not only because of its mass membership but because of the way decision making is decentralised—maybe Gus Dur used the NU model for national regional autonomy! Decisions made at the level are not always followed by local branches and the reverse is also true, the central leadership doesn’t always agree with local decisions, which reflect the issues and priorities of local branches. In Jepara, for example, local NU branch leaders issued a religious ban (fatwa haram) on the construction of the Mt. Muria nuclear power plant which the central NU leader declared as “arbitrary advice”. May the new NU leader continue to foster a plurality of views and democracy in decision making in NU are often more influential are not made at the…

  1. Menurut Agus Maladi Irianto, dosen Undip Semarang, dalam buku “NU dan Keindonesiaan” juga mengatakan bahwa orang-orang NU selama ini secara kultural akrab dengan lingkungan pertanian. Mereka seolah-olah menjadi bagian lain yang tak terlibat menentukan dinamika sosial-ekonomi di Wonosobo. Dengan alasan tak mampu mengakses para pekerjaan “priayi” itu, mereka terpaksa hijrah ke kota-kota besar untuk mengisi pekerjaan yang tak membutuhkan persyaratan formal.
  2. Menurut Eva Sundari, anggota DPR RI, dalam buku “NU dan Keindonesiaan” menyatakan bahwa fakta adanya gap pada isi-struktur-kultur organisasi yang inklusif merupakan persoalan klasik NU dan semua organisasi masyarakat keagamaan tradisional lainnya. Terlebih ketika dihadapkan pada tantangan moralitas baru global, misalnya HAM perempuan. Pengalaman menunjukkan, komitmen pemimpin merupakan faktor fundamental bagi transformasi organisasi (dan sosial) terhadap terwujudnya kesetaraan gender dalam masyarakat. Di sinilah peran pentingnya komitmen politik, bukan sekadar komitmen moral berupa statemen para pemimpin formal NU.

Nah, lantas timbul pertanyaan dalam benak diri kita sebagai generasi milennial nahdliyyin, bagaimanakah peran kita dalam mengembangkan NU supaya luwes dan bisa terus beradaptasi dengan perkembangan zaman? Seperti yang kita ketahui bahwa generasi millennial segera menjadi angkatan kerja terbesar di Indonesia. Berdasarkan data BPS di tahun 2016, dari total jumlah angkatan kerja di Indonesia yang mencapai 160 juta, hampir 40% di antaranya tergolong millennial – sebesar 62,5 juta. Terbanyak kedua setelah generasi X yang mencapai 69 juta, dan jauh di atas generasi Baby Boomers yang hanya tersisa 28,7 juta. (https://www.dbs.com/spark/index/id_id/site/pillars/2018-ubah-cara-kerja-untuk-membuat-generasi-millennial-mau-bertahan-di-perusahaan.html , diakses pada 29/08/2019)

Menurut pendapat saya peran seorang generasi milennial nahdliyin dalam mengembangkan Nahdlatul Ulama dapat dibagi menjadi empat bidang, yaitu:

  1. Sosial Kebudayaan

Di era globalisasi ini, tentunya sosial media mempunyai peran yang cukup dominan dalam memengaruhi pola pikir dan gaya hidup masyarakat. Sebagai generasi milennial tentunya kita harus memanfaatkan sosial media sebagai media dakwah ala NU yang mengepankan prinsip at-tawasuth (sikap tengah-tengah), at-tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleransi). Harapannya kita sebagai generasi milennial NU mampu menjadi barisan terdepan untuk melakukan social shock therapy dalam membuat konten-konten media sosial sebagai upaya untuk melawan berita-berita hoaks, ujaran kebencian, pornografi dan konflik-konflik yang berbau SARA.

  1. Politik

Dewasa ini, isu-isu politik merupakan isu yang rawan untuk dijadikan faktor pemecah persatuan dan kesatuan bangsa. Sebagai generasi milennial Nahdliyyin, tentunya kita harus cerdas dan tidak mau diadu domba oleh pihak-pihak yang mempunyai maksud jahat. Setiap orang tentu mempunyai pilihan yang berbeda-beda, kita harus menghormati pilihan masing-masing supaya suasana tetap kondusif dan dapat tercapainya cita-cita bangsa untuk memiliki pemimpin yang sesuai dengan kriteria.

  1. Ekonomi

Untuk memperkuat basis ekonomi para nahdliyyin tentunya peran seorang generasi milennial Nahdliyyin adalah menciptakan lapangan kerja dengan inovasi-inovasi baru. Di era teknologi yang serba canggih sekarang ini, banyak hal yang bisa dikembangkan dalam dunia bisnis. Tentunya generasi milennial dituntut untuk selalu kreatif dalam menjangkau strategi pemasaran sebuah produk yang bermanfaat bagi masyarakat. Di samping itu, kita juga harus proaktif dalam mengikuti kepelatihan-kepelatihan yang dapat menambah nilai dan keahlian.

  1. Kenegaraan

Dalam hal ini, sikap dan peran seorang generasi milennial Nahdliyyin adalah menunjukkan konsistensi terhadap sikapnya sebagai kelompok pendukung utama pluralisme dan multikulturalisme mengawal paradigma pembangunan negeri. Kita dituntut untuk selalu kritis terhadap masalah-masalah yang terjadi, tetapi bukan selalu mengkrtisi atas setiap langkah pemerintah. Di samping itu, kita harus selalu menjunjung tinggi ideologi Pancasila dan rasa persatuan dan kesatuan Indonesia dari ancaman yang datang dari mana saja.

Berdasarkan dari paparan yang telah diuraikan di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa Nahdlatul Ulama memang organisasi sosial keagamaan yang paling besar di Indonesia. Tentunya banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi. Oleh karena itu, sebagai generasi penerus bangsa kita harus selalu meningkatkan keahlian dan keilmuan kita supaya dapat memajukan dan mengembangkan NU lebih baik lagi dan bertahan dengan selalu beradaptasi dengan perkembangan zaman demi kemakmuran rakyat dan NKRI.

Sumber:

  1. Sobary, Muhammad. 2010. NU dan Keindonesiaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  2. Effendi, Djohan. 2010. Pembaruan Tanpa Membongkar Tradisi. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
  3. https://www.dbs.com/spark/index/id_id/site/pillars/2018-ubah-cara-kerja-untuk-membuat-generasi-millennial-mau-bertahan-di-perusahaan.html, diakses pada 28 Agustus 2019.

Ahmad Reza Azizi

Mahasiswa Ikatan Mahasiswa Nahdilyyin (IMAN) Politeknik Keuangan Negara STAN

You might also like
Comments
Loading...