KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

Peran Kader KMNU di Dunia Kerja

Di Indonesia, organisasi keagamaan sangat banyak sekali terutama ormas Islam. Ormas-ormas tersebut menyebar di berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia kerja. Dengan kondisi demografi Indonesia, Nahdlatul Ulama adalah ormas Islam termasuk terbesar di Indonesia dan terbilang terbesar di dunia. Namun jarang terlihat gerakan dakwah Nahdlatul Ulama di dunia kerja. Seharusnya dengan jumlah anggota yang sangat banyak NU bisa mengisi setiap bidang dalam dunia kerja.

Di tengah kondisi radikalisme dan terorisme yang semakin marak di Indonesia. Nahdlatul Ulama harus bisa menanamkan pola pikir atau ideologi Islam Ahlus sunnah wal jamaah, wa rohmatal lil alamin untuk semua masyarakat Islam Indonesia. Melalui penanaman ideologi tersebut tidak akan ada satu pun warga Indonesia  mengancam keutuhuan NKRI. Di sinilah Nahdlatul Ulama termasuk sangat berperan penting dalam melawan radikalisme dan terorisme untuk menjaga keutuhan NKRI.

Di instansi perusahaan, hampir rata-rata dakwah keagamaan Islam sudah dikuasai orang Salafi Wahabi yang mana ajarannya sudah terjerumus dalam Faham Tasybih (menganggap Allah memiliki anggota tubuh dan sifat seperti manusia) dan Tajsim (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Hal ini sudah menyimpang dari aqidah Ahlus sunnah wal jamaah.

Strategi dakwah mereka sangat rapi dan militansi dakwah mereka sangat kuat. Padahal dilihat dari segi jam’iyyah jauh lebih sedikit dari Nahdlatul Ulama. Yang menjadi pertanyaan, mengapa kader-kader NU utamanya KMNU masih minim mengisi dakwah di instansi kerja Indonesia? Di antaranya adalah Pengetahuan NU-an serta keaswajaan masih kurang di samping militansi kader yang juga masih kurang, sehingga masih minder di tengah-tengah dakwah salafi wahabi. Oleh karena itu, pengetahuan NU dan Aswaja serta militansi NU harus kita perkuat sebelumnya, saat mondok atau pun masa pengkaderan KMNU yang di dalamnya ada materi ke-NU-an dan keaswajaan. Selain itu kader NU harus Memperkuat amaliyah keseharian NU dan memperkuat ‘pola pikir nahdliyyah’, dengan dua karakteristik dasar yaitu: moderat dan dinamis. NU harus mengembangkan pemikiran-pemikiran  yang moderat dan juga dinamis (NU dan peran keumatan, Rais Aam PBNU KH. Dr. (HC) Ma’ ruf Amin ,2015 ).

Hal ini sebagai pondasi untuk membentengi aqidah kita dari maraknya militansi dakwah aqidah salafi wahabi. Mengapa harus KMNU? Karena KMNU merupakan organisasi eksternal kampus di non struktural NU yang masih eksis dalam dakwah ahlus sunnah wal jamaah di kampus, yang harapannya bisa paralel diteruskan dakwah di dunia kerja. Sebagai nahdliyin, jangan minder untuk mengamalkan amaliyah khas nahdliyin seperti tahlil, istighosah di lingkungan kerja yang mana saat ini cenderung dikuasai salafi wahabi.

Untuk ke depannya kader-kader NU khususnya KMNU harus bisa mengisi dakwah semua bidang dalam dunia kerja. Kita harus melepaskan zona nyaman untuk dakwah NU selama ini yang masih terpusat di kampus. Melakukan pembaharuan dakwah ahlus sunnah wal jamaah yang belum terjamah oleh NU khususnya alumni-alumni KMNU di dunia kerja.

Selain itu, sebagai langkah pembaharuan strategis alumni KMNU harus bisa mengisi posisi kepemerintahan dalam bidang teknologi, pendidikan, riset, sosial, agama, budaya, dan sebagainya. Sesuai bidang yang ditekuni saat perkuliahan. Karena hal ini sangat berpengaruh sekali dalam akses dakwah KMNU dan Nahdlatul Ulama umumnya dan juga memperluas ruang gerak KMNU dalam relasi tokoh-tokoh Indonesia dan mengembangkan finansial KMNU. Sesuai dengan moto Nahdlatul Ulama yakni “al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah”, memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Salah satunya melakukan pembaharuan yang baik dalam dakwah Nahdlatul Ulama dengan penyesuaian zaman.(Puguh Imam al Abib)

You might also like
Comments
Loading...