KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

Panitia NU-Santara 2018 Sowan Kepada Habib Luthfi bin Yahya

Pekalongan (28/9) – Silahturrahmi Panitia NU-Santara yang diwakili oleh Bendahara II Eva Fauziah, Ketua Departemen Acara Muhammad Tarmizi, Ketua Departemen Hubungan Masyarakat Fauzan Ramadhan, Ketua Departemen Transportasi Moh Kholid Abrori, dan beberapa panitia lainnya, serta didampingi pembina YPM Salman ITB H. Achmad Nashir Budiman dan Abdi Dalem Mas Firmansyah ke kediaman Habib Luthfi dilakukan pada tanggal 28 September 2018 di Pekalongan. Habib Luthfi bin Yahya, biasa dipanggil Abah Luthfi, merupakan Rais Aam JATMAN (Jamaah Ahlut Thariqah  Al Mu’tabarah an Nahdiyah), Mustasyar PBNU, serta Ketua Umum MUI Jawa Tengah. Beliau sangat konsisten dalam menyebarkan pemahaman tentang semangat Nasionalisme dan Kebangsaan.

Silaturahmi ini dimaksudkan untuk meminta restu serta doa dari Habib Luthfi Bin Yahya untuk NU-Santara 2018 dan harapannya beliau bisa menghadiri acara NU-Santara 2018 di kota Bandung. NU-Santara (NU – Science and Cultural Art Olympiad) ke-2 akan diadakan di kota Bandung dengan mengusung tema “Meningkatkan Ukhwah, Merajut Dakwah melalui Lokalitas Budaya Islam Nusantara untuk Peradaban Dunia” pada bulan Desember mendatang.  Alhamdulillah, perwakilan Panitia NU-Santara diterima dan disambut dengan sangat baik.

Habib Luthfi bin Yahya berpesan untuk menata niat terlebih dahulu. “Acara ini untuk apa? Jika diniatkan untuk kemaslahatan umat banyak, InsyaAllah dimudahkan dan bermanfaat”, pesan beliau. Beliau juga berpesan untuk mendawamkan membaca “Subhanallah Wabihamdihi, Subhanallahiladziim, Wabihamdihi Laa Haulaa Walaa Quwwata Ilaa Billahiladzim” 100x setelah sholat shubuh.

Habib Luthfi Bin Yahya menekankan tanggung jawab generasi muda untuk menyongsong ke depan memerlukan pembekalan-pembekalan sejauh mana mengenal bangsa dan negara ini. Banyak kalangan yang salah paham dalam mengartikan jihad, baik dalam definisi maupun dalam pelaksanaan. Hal paling mendasar yang perlu dipahami adalah berjuang dalam lingkup terkecil, yakni keluarga, utamanya berjuang untuk kebaikan orang tua. Setelah itu baru mengartikan jihad dalam arti yang luas.

(Muhammad Tarmizi – KMNU Padjadjaran)

You might also like
Comments
Loading...