KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

PAKAIAN YANG PALING ‘NYUNNAH’!?

Belum lama ini penulis bertemu dengan kawan lama, terdapat perubahan dalam gaya berpakaian yang ia kenakan. Sehari-harinya ia memakai jubah dan surban. Menurutnya pakaian yang ia kenakan saat ini (jubah dan surban) merupakan pakaian yang paling sunnah (mengikuti rasulullâh), pakaian yang berlandaskan quran dan hadits.

Ingatan kepada sahabat yang memakai jubah dan surban itu muncul ketika penulis membaca sebuah buku yang dibeli di Islamic Book Fair berjudul “Bukan Bid’ah, Menimbang Jalan Pikiran Orang-orang Yang Bersikap Keras Dalam Beragama” terjemahan dari bahasa Arab, judul aslinya “Al-Mutasyaddidun: Manhajuhum wa Munaqasyad Ahamm Qadhayahum” karya Prof. Dr. Ali Jum’ah.

Mengambil mentah-mentah budaya Arab yang diyakini sebagian orang terutama kelompok ekstrim sebagai budaya Islam tanpa mau mengkaji lebih dalam hal yang cocok dan tidak cocok dengan budaya kita akan menimbulkan benturan di dalam masyarakat. Berikut ini penulis kutip karya dari Prof. Dr. Ali Jum’ah, tentang pakaian:

Orang-orang yang bersikap ekstremis dalam beragama selalu berusaha untuk berpenampilan khusus, sehingga bisa dikenali begitu dilihat oleh orang lain. Mereka bersikeras mengenakan pakaian yang berbeda dengan yang biasa dipakai oleh umumnya kaum muslimin pada zaman ini. Mereka mengenakan pakaian yang mewakili masa lalu dan adat istiadat kelompok masyarakat lain, dan menyangka bahwa dengan berbuat seperti itu, telah mendekatkan diri kepada Allah.

Tentang pakaian, Allah swt telah berfirman dalam kitab suci-Nya :

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf, 31).

Firman ini bersifat umum, yang ditujukan kepada seluruh anak cucu Adam, sehingga mencakup laki-laki dan perempuan, Muslim dan non-Muslim. Semuanya diperintahkan untuk berhias. Yakni mengenakan pakaian untuk menutup aurat dan hiasan di setiap tempat pertemuan seperti mesjid, sekolah, universitas, tempat kerja dan lain sebagainya.

Di sisi lain, ayat suci ini telah menetapkan sebuah prinsip dasar reformasi agama dan sosial. Hal ini tampak dari apa yang disebutkan oleh ahli tafsir tentang sebab nuzul ayat ini, yaitu bahwasanya orang Arab dulu biasa berthawaf di sekeliling Ka’bah tanpa busana, baik laki-laki maupun perempuan. Keadaan seperti ini, bahkan tidak terbatas pada masyarakat Arab saja, tetapi juga berlaku di banyak bangsa di muka bumi, di mana sisanya masih bisa disaksikan hingga kini, yaitu di negara-negara yang belum tersentuh dakwah Islam.

Namun yang perlu diperhatikan, ayat tersebut tidak menentukan jenis dan bentuk pakaian, karena Islam memang memberikan prinsip-prinsip dasar yang sesuai dengan setiap waktu dan tempat. Jadi, perintah umum itu adalah untuk memakai hiasan di setiap pertemuan dengan orang lain sesuai dengan kemampuan, serta sejalan dengan kecenderungan zaman dan kebiasaan masyarakatnya. Oleh karena itu, Rasulullah saw tidak memiliki pakaian khusus yang selalu dikenakan, juga tidak memilih model tertentu, sehingga tidak menyulitkan ummat yang harus diteladaninya.

Sehubungan dengan ini, kitab-kitab hadis telah meriwayatkan bahwa suatu ketika beliau (Nabi) mengenakan pakaian sempit dan pada kesempatan lain memakai pakaian longgar. Demikian juga dengan para sahabat dan tabi’in. Tidak pernah dalam riwayat bahwa Nabi saw, serta para sahabat dan tabi’in, baik laki-laki maupun perempuan memilik pakaian dengan model atau bentuk tertentu.

Agama tidak menjelaskan bentuk dan potongan pakaian serta caranya menutupi tubuh, karena dianggap salah satu urusan dunia yang diketahui berdasarkan kebutuhan, pengalaman dan adat istiadat. Pada suatu hari, Imam Ahmad bin Hanbal melihat seseorang mengenakan pakaian bergaris-garis putih hitam, maka mengatakan, “Tinggalkan ini dan ganti dengan pakaian warga daerahmu.” Kemudian lanjutnya, “Ini bukan kerena haram. Seandainya kamu sedang berada di Mekkah atau Madinah, maka aku tidak akan mempermasalahkan.”

Apa yang disepakati oleh masyarakat terkait dengan jenis pakaian dan bentuk pakaian, selama masih dalam cakupan kaidah umum pakaian syariat, yakni : (Tidak menggambarkan bentuk tubuh, tidak tembus pandang, dan tidak menyingkap) serta tidak termasuk pakaiansyuhrah (Kemasyuran; mengundang perhatian) maka hukumnya boleh.

Berusaha mengenakan model pakaian yang sesuai dengan zaman termasuk tatakrama asal bukan dosa, sedangkan berusaha untuk berpakaian beda termasuk salah satu jenis syuhrah  dan memisahkan diri.

Ada sejumlah hadis yang mencela pakaian syuhrah, yaitu yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi saw bahwasanya Beliau bersabda :

“Barangsiapa mengenakan baju syuhrah di dunia, Allah akan memakai baju kehinaan kepadanya pada hari Kiamat”.

Juga dalam riwayat lain dari Ibnu Umar juga, Nabi saw bersabda :

“Barangsiapa mengenakan baju syuhrah di dunia, Allah akan memakaikan baju kehinaan kepadanya pada hari Kiamat, kemudian dikobarkan padanya”.

Dan dari Abu Dzar, Nabi saw bersabda :

“Barangsiapa mengenakan baju syuhrah Allah akan berpaling darinya hingga menanggalkannya ketika dia menanggalkannya”.

Hadis-hadis ini menunjukkan keharaman mengenakan pakaian syuhrah, namun tidak menentukan jenis pakaian tertentu, tetapi bisa terjadi dengan dikenakannya pakaian yang berbeda dengan yang biasa dipakai oleh masyarakat sehingga mendapatkan celaan karena menyalahi adat istiadat setempat yang berlaku.

Asy-Syaukani mengatakan, “Jika sebuah pakaian dimaksudkan untuk mengundang perhatian dari orang lain, maka tidak ada bedanya antara pakaian bagus dan pakaian jelek, juga pakaian yang sejalan dengan adat istiadat setempat dan yang berbeda dengannya. Keharaman di sini berputar pada keinginan untuk mengundang perhatian, dan yang dijadikan pegangan adalah tujuan, meskipun tidak sesuai dengan kenyataan”.

Petunjuk Nabi saw dalam berpakaian adalah hendaknya seseorang mengenakan pakaian yang mudah di dapat dari pakaian warga daerahnya dan agar sejalan dengan adat istiadat setempat.

Imam Malik ketika ditanya mengenai pakaian wol tebal, dia menjawab, “Tidak ada kebaikan dalam mengundang perhatian orang lain (syuhrah). Aku berharap dia mengenakannya pada waktu-waktu tertentu dan meninggalkannya pada lain kesempatan. Aku tidak suka dia mengenakan terus-menerus sehingga menjadi terkenal dengan pakaian itu”.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tuntunannuya dalam masalah itu (yakni keragaman berpakaian) menuntut seorang laki-laki untuk berpakaian dan makanan yang dimudahkan oleh Allah bagi daerahnya, sehingga akan berbeda-beda sesuai dengan perbedaan daerahnya”.

Abu al-Walid al-Baji mengatakan, “Nabi saw tidak menyukai pakaian yang tidak lazim, pakaian yang membuat pemakaiannya terkenal karena jelek, dan pakaian yang membuat pemakainya terkenal karena bagus”.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata, “Pakaian yang seharusnya dihindari adalah: setiap pakaian yang menjadikan pemakainya terkenal, seperti tidak sejalan dengan kebiasaan daerah atau warganya. Dari sini, seseorang harus memakai pakaian yang sama dengan yang mereka pakai, supaya tidak mengundang perhatian dan menjadi bahan ghibah. Bila ini terjadi, maka dia akan ikut menanggung dosa ghibah-nya”.

Ibnu Abd al-Barr mengatakan, “Abdullah bin Umar ra pernah berkata, ‘Barangsiapa memakai pakaian yang mengundang perhatian (syuhrah), Allah akan berpaling darinya meskipun dia seorang Wali.” Juga mengatakan, “Dikatakan,’Makanlah dari makanan yang kamu sukai dan kenakanlah pakaian yang disukai oleh masyarakat.”

Nabi Muhammad saw sendiri dulu biasa memakai serban, tongkat dan lain-lain yang lazim digunakan oleh masyarakat pada waktu itu. Serban, misalnya, tidak semua kelompok masyarakat memakainya, bentuknya pun berubah-ubah seiring dengan berjalannya waktu. Maka, memakainya adalah boleh selama tidak menyalahi adat kebiasaan setempat. Jika menyalahi maka akan termasuk dalam kategori pakaian yang mengundang perhatian (syuhrah), sehingga apabila ada seorang laki-laki yang memakai serban di tengah masyarakat yang tidak biasa memakainya maka akan menjadi pakaian yang mengundang perhatian (syuhrah), akan menjadi bahan omongan, dan tidak termasuk sunnah.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam mushannaf-nya dari Abbad bin al-Awwam dari al-Husain, bahwasanya dia mengatakan, “Zubaid al-Yami dulu bisa memakaiburnus (jubah bertudung kepala), lalu aku mendengar Ibrahim mencelanya, maka aku katakanya kepadanya, ‘Dulu orang-orang biasa memakainya’. Kemudian katanya, ‘benar, tapi orang-orang yang bisa memakai itu sekarang sudah tidak ada lagi, dan apabila pada hari ini ada orang yang memakainya maka akan menjadi bahan perhatian orang-orang, dan akan ditunjuk dengan jari”.

Dari situ, apa yang dipegang oleh sebagian orang awam terkait dengan kebiasaan memakai pakaian yang berbeda dengan adat kebiasaan warga setempat, dengan anggapan bahwa itu adalah tuntunan agama yang wajib diikuti, adalah tidak boleh. Barangkali yang menyebabkan mereka terjerumus ke dalam kesalahan ini (mewajibkan orang lain untuk melakukan pekerjaan yang sebenarnya tidak wajib) adalah penggunaan istilah sunnah bukan pada tempatnya. Yakni mencampur adukkan antara penggunaaan istilah sunah di kalangan ahli hadis, ahli fiqih dan ahli ushul fiqih.

Menurut ahli ushul fiqih, sunnah adalah salah satu dasar hukum agama Islam yang menempati tingkatan kedua setelah al-Qur’an. Mereka mendefinisikannya dengan mengatakan, “Apa yang berasal dari Nabi saw selain al-Qur’an, baik berupa pekerjaan, perkataan maupun persetujuan”.

Sedangkan menurut ahli fiqih dalah lawan dari wajib, mubah dan lain sebagainya. Menurut mereka, sunah adalah hukum yang diambil dari dalil. Ia adalah pekerjaan yang apabila dilakukan akan mendatangkan pahala dan apabila ditinggalkan tidak akan mendatangkan dosa. Maka sunah menurut ahli fiqih sinonim dengan: mandub, mustahabb, tathawwu’, tha’ah, nafl, qurbah, muraghghab fih fadhilah.

Adapun menurut ahli hadis, sunnah adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi saw berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, dan sifat fisik dan mental, baik sebelum menjadi nabi maupun sesudahnya.

Ahli hadis memperluas cakupan istilah sunnah. Mereka tidak membatasinya pada hukum agama saja. Mereka ingin menjelaskan bahwa Rasulullah saw adalah penuntun kita, sehingga semua yang diberitakan oleh Allah tentang beliau adalah teladan bagi kita semua. Dari sini, mereka meriwayatkan segala sesuatu yang berkaitan dengan beliau berupa sejarah hidup, akhlak, sifat fisik, perkataan dan perbuatan, baik yang menetapkan hukum agama maupun yang tidak.

Berbeda dengan ahli ushul fiqih yang menghimpun sunah sebatas yang bisa dijadikan landasan hukum agama saja. Jadi, orang-orang itu telah meletakkan istilah sunah yang digunakan oleh ahli hadis tentang paparan keadaan Nabi saw yang mencakup cara berpakaian, dan gaya hidup kesehariannya di tempat istilah sunah yang digunakan oleh ahli fiqih berupa perkerjaan yang apabila dilakukan akan mendatangkan pahala dan jika ditinggalkan tidak akan mendatangkan siksa.

Kesimpulannya, orang-orang yang bersikap keras dalam beragama itu, karena kurang memahami agama, menganggap adat istiadat kebiasaan yang disebut sunah oleh ahli hadist dan ahli biografi Nabi termasuk sunah menurut ahli fiqih yang berupa salah satu hukum syara’.

Berasarkan dalil-dalil dan perkataan-perkataan para ulama yang otoritatif seperti tersebut di atas, kami memandang bahwa seorang Muslim tidak selayaknya berpenampilan berbeda dari kebiasaan warga daerahnya dalam berpakaian, sepanjang pakaian yang lazim digunakan oleh warga daerahnya itu tidak menyalahi aturan agama.

Kesimpulan dari Prof. DR. Ali Jum’ah di atas kiranya sudah mewakili tulisan ini. Pakaian yang paling nyunnah merupakan pakaian yang masih dalam kaidah umum pakaian syariat (Tidak menggambarkan bentuk/lekuk tubuh, tidak tembus pandang, dan tidak menyingkap) serta tidak termasuk pakaian syuhrah (Kemasyuran; mengundang perhatian).

Para kyai nusantara adalah teladan yang bisa dijadikan contoh. Mereka juga memakai jubah, namun dilakukan hanya dalam hal-hal bersifat ibadah, di dalam masjid atau acara-acara tertentu. Jika berpergian, Para kyai nusantara menggunakan pakaian yang umum di pakai, sehari-harinya hanya mengenakan baju koko dan sarungan, pakaian khas Indonesia.

Akhirnya, merasa diri mengenakan pakaian paling nyunnah dan menganggap yang lain salah apakah termasuk mengikuti sunnah?

Wallâhu a’lamu bis showâb

 

Mochamad Bukhori Zainun/Nur B.

Comments
Loading...