KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

Orientalisme dan Hal yang Harus Kita Ketahui

Term orientalis, di telinga banyak orang, seringkali digambarkan sebagai ‘orang Barat yang terkesan sok tau tentang Islam dan mencari-cari kesalahan-celah yang dapat melemahkan Islam’. Secara bahasa, orientalisme diambil dari bahasa Latin, serta beberapa bahasa Barat lainnya, “orient” yang berarti Timur. Istilah orientalisme dipakai untuk menyebut studi ke-Timur-an menggunakan kacamata orang Barat. Di Barat sendiri, term orientalisme jarang bahkan hampir tidak pernah digunakan dan diajarkan pada universitas sebagai mata kuliah tersendiri. Orientalisme lebih digunakan sebagai kebiasaan konferensi internasional. Di dunia Timur, term orientalisme mendapat protes, kritik dan serangan yang cukup tajam.[1] Hal ini dikarenakan term orientalis dinilai sebagai antek-antek kolonialisme abad ke-15.[2]

Protes dan kritik tersebut disebabkan pola pikir orang timur bahwa setiap orang barat yang belajar timur adalah seorang orientalis yang akan menyebarkan kristenisasi atau setidaknya melemahkan agama Islam. Padahal, adapula sarjana barat yang mempelajari budaya ketimuran untuk tujuan memahami Perjanjian Lama yang berbahasa Ibrani. Bahasa Ibrani merupakan bahasa mati sejak abad ke-2 sebelum masehi karena tidak digunakan sebagai sarana berkomunikasi lagi dan hanya berlaku untuk kepentingan karangan para ulama’ atau pendeta Yahudi. Maka, para sarjana Barat mengadakan studi mengenai bahasa dan kebudayaan yang paling dekat dengan Ibrani yaitu khazanah sastra Arab. Sebenarnya agak sulit memberikan contoh yang pasti tapi pada kenyataannya memang banyak buku dan tulisan yang mengandung ujaran kebencian terhadap kaum orientalis.[3]

Tidak dapat dipungkiri, terdapat beberapa sarjana Barat yang mempelajari Timur menggunakan metodologi yang kurang tepat sehingga terkesan memaksakan konsep agama yang mereka anut atas konsep Islam. Sebut saja Christoph Luxenburg (Andrew Rippin), Patricia Crone, Michael Crook dan John Wans Brough yang pada akhirnya dijuluki kaum revisionis karena menganggap al-Qur’an perlu perbaikan dan merupakan hasil jiplakan dari kitab sebelumnya.[4] Namun, hal tersebut tidak dapat dijadikan landasan untuk menyamaratakan persepsi bahwa seluruh sarjana Barat memiliki asumsi yang sama.

Banyak pula sarjana Barat yang dapat objektif dalam mengkaji al-Qur’an. Bahkan ada pula yang mengkaji Islam sampai pada titik dimana muslim sendiri belum memikirkan hal tersebut. Angelika Neurwith yang menyumbangkan pemikirannya pada surat koherensi surat an-Nazi’at, merupakan salah satunya. Pemikirannya mematahkan anggapan kebanyakan sarjana Barat yang menganggap bahwa Qur’an merupakan kitab suci tidak terstruktur. Ada pula Theodor Noldeke, penulis buku The History of the Qur’an yang merupakan buku sejarah al-Qur’an pertama.

Sekitar abad ke-19 Studi Ketimuran (oriental studies) diprakasai muncul di Eropa mencakup kajian bahasa, sejarah dan budaya dari Asia dan Afrika Utara. Pada pertengahan abad ke-19 tersebut pula, Studi Islam kemudian berkembang menjadi cabang ilmu yang berbeda dari Studi Ketimuran. Kajian pokok dalam Studi Islam kemudian dikenal dengan istilah “Seminar Orientalis” (Orientalisches Seminar). [5]

Cakupan kajian Islam di negara-negara Barat antara lain; (a) Kajian intensif tentang bahasa Arab, A.I. sylevestre de Sacy merupakan salah satu sarjana Perancis yang ahli dalam bidang ini (1758-1838). (b) Studi teks, mencakup bahasa-bahasa yang masih dianggap “bersaudara” dengan bahasa Islam seperti Persia, Turki, Urdu dan Melayu. (c) Kajian sejarah, difokuskan kepada masalah politik, sosial dan sejarah intelektual dari wilayah negara Muslim. (d) Kajian budaya, dan keagamaan, meliputi pemahaman makna Islam ditinjau dari berbagai peristiwa dan perhatian terhadap sesuatu yang masih samar dan sudah jelas. (e) Kajian terhadap wilayah budaya muslim yang lebih luas mencakup juga aspek keislaman dari budaya yang bersangkutan.[6]

[1] Karel Steenbrink, Mencari Tuhan dengan Kacamata Barat: Kajian Kritis Mengenai Agama di Indonesia, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press) 1998, hlm. 4

[2] Abdullah Saeed, Pengantar Studi al-Qur’an, terj. Shulkhah dan Sahiron Syamsuddin. (Yogyakarta: Baitul Hikmah Press) 2016, hlm. 157

[3] Karel Steenbrink, Mencari Tuhan dengan Kacamata Barat…, hlm. 5-6

[4] Farid Esack, Samudera al-Qur’an, terj. Nuril Hidayah. (Yogyakarta: Diva Press) 2007, hlm. 22-23

[5] Azim Nanji, Peta Studi Islam: Orientalisme dan Arah Baru Kajian Islam di Barat, terj. Muamirotun, (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru) 2003, hlm. 2-3

[6] Azim Nanji, Peta Studi Islam…, hlm. 4

You might also like
Comments
Loading...