Nyantri pada Yai Dimyathi Romly

KH. Dimyathi dikenal sebagai sosok yang sederhana. Jika Anda pernah bertemu dengan beliau dan melihat penampilan beliau secara langsung, Anda tidak akan menyangka bahwa beliau adalah Ketua Umum Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, apalagi seorang Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wan Naqsyabandiyah. Penampilannya memang sangat sederhana layaknya kiai pada umumnya, tetapi jangan salah, justru penampilannya yang sederhana inilah yang mencerminkan tingginya pemahaman beliau terhadap ilmu tasawuf.

Yai Dim, begitu kami memanggil beliau, sering menyampaikan dua hal kepada santri-santrinya, yakni tentang ilmu yang barokah dan pentingnya menjaga hati. Dua pesan ini sering diulang-ulang pada beberapa kesempatan sehingga membuat santrinya hafal betul, bahkan merasuk dalam hati.

Tak dungakno santri Darul Ulum ilmune barokah” (Saya doakan santri Darul Ulum ilmunya barokah). Yai Dim lebih lanjut menjelaskan bahwa ilmu yang barokah adalah ilmu yang bermanfaat. Beliau berharap kelak ketika para santri terjun ke masyarakat, mereka akan selalu dibutuhkan orang lain. Walaupun ilmu yang didapatkan sedikit, tetapi jika barokah, maka ilmu tersebut akan berguna bagi masyarakat. Tentunya akan lebih baik lagi jika ilmu yang didapat itu banyak serta barokah. Barang kali inilah konsep Yai Dim tentang generasi muda sebagai agent of change, yakni memberikan perubahan positif kepada masyarakat melalui ilmu yang didapatkan dari lembaga pendidikan.

Selain tentang ilmu yang barokah, Yai Dim juga menekankan pentingnya menjaga hati. Beliau berkata bahwa di era sekarang persaingan begitu ketat. Banyak di antara orang yang kalah dalam persaingan tersebut akhirnya stress. Beliau memberikan sebuah prinsip bahwa setiap orang secara naluriah menginginkan sesuatu yang baik dan enak, sedangkan sesuatu tersebut jumlahnya sedikit, karena jumlahnya yang sedikit tersebut, orang-orang menjadi berebut satu dengan yang lain. Beliau mencontohkan misalnya dalam Pilkada banyak orang bersaing memperebutkan kursi eksekutif maupun legislatif. Karena jumlah kursi tersebut terbatas, maka hanya ada beberapa orang yang berhasil menduduki kursi tersebut. “Bagaimana dengan mereka yang gagal? Mereka akan masuk ke rumah sakit karena stress. Biasanya setelah Pilkada, rumah sakit akan menjadi ramai karena menampung orang-orang yang stess akibat kalah dalam Pilkada”, begitu gurau Yai Dim. Jadi, sebelum kita terjun dalam persaingan, kita harus mampu menjaga hati, entah nanti kita akan gagal ataukah berhasil.

Ketika kita berhasil dan menjadi orang besar, Yai Dim, juga tetap berpesan agar kita selalu teguh. “Tak dungakno santri-santri Darul Ulum dicintai semua orang”, kata Yai Dim. Meskipun berdoa seperti itu, Yai Dim tidak bisa memungkiri bahwa ketika kita menjadi orang besar akan ada banyak rintangan yang kita hadapi, entah ada orang yang iri dengan kita, atau hal yang lain. Beliau mengibaratkan bahwa semakin tinggi suatu pohon, semakin besar pula angin yang menerpanya.

Semoga kita dapat menjadi seperti apa yang Yai Dim harapkan, mendapatkan ilmu yang barokah, serta senantiasa dapat menjaga hati di berbagai situasi. Semoga dengan wafatnya beliau akan muncul banyak penerus perjuangan beliau. Semoga kelak di akhirat kita juga dapat dikumpulkan dengan orang-orang sholih seperti beliau. Selamat jalan Yai Dim, sampai berjumpa kembali. Semoga ilmu yang telah Anda ajarkan pada santri dan semuany berkah sebagaimana doa yang kerap Anda munajatkan. (Ahmad Musyaddad/ el Naomiy)

You might also like
Comments
Loading...