NEW NORMAL (HERD IMUNITY)? SIAPKAH KITA?

Indonesia telah melewati waktu selama sekitar 3 bulan dalam menangani virus Covid-19 tepatnya tanggal 02 Maret 2020. Fakta lapangan berkata jumlah kasus yang ada sampai saat ini belum menunjukan penurunan yang signifikan. Bahkan beberapa kali mengalami lonjakan yang cukup tinggi. Hal ini diamini oleh kenaikan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia. Awalnya pada 2 Maret 2020 pasien positif Covid-19 hanya berjumlah 2 orang, namun lonjakan peningkatan pasien kasus positif virus tersebut terus meningkat sampai akhir bulan Maret 2020 mencapai 369 orang pasien dan memakan sejumlah 32 orang kematian. Hingga saat ini pada 13 Juni 2020 kasus penderita Covid-19 terkonfirmasi sebanyak 37.420 orang, pasien yang dirawat sebanyak 21.553 orang, pasien sembuh sebanyak 13.776 orang, dan pasien meninggal 2.091 orang.

Kebijakan dan strategi yang telah diterapkan oleh Pemerintah Indonesia demi menghentikan mata rantai penularan kasus virus Covid-19 seperti: physical distancing dan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) ternyata belum secara maksimal dan efektif dapat diikuti oleh semua masyarakat sehingga wajar rantai penularan Covid-19 masih terus berlanjut hingga sekarang ini.

Menolak untuk diam, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Rabu, 27 Mei 2020 memimpin rapat terbatas dengan topik pembahasan pelaksanaan protokol tatanan new normal Covid-19. Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menyampaikan beberapa pesan utama, salah satunya berkaitan dengan langkah awal yaitu dengan mengirim puluhan ribu aparat TNI dan Polri yang diterjunkan di 4 provinsi dan 25 kabupaten kota menuju era new normal. New normal merupakan skenario untuk mempercepat penanganan Covid-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. Definisi new normal menurut Pemerintah Indonesia adalah tatanan baru untuk beradaptasi dengan Covid-19, dengan adanya new normal di harapkan Indonesia tetap dapat melawan pandemi Covid-19 tanpa harus memutus rantai sosial dan ekonomi Indonesia. Tentu saja kebijakan New normal ini tidak lepas dari pro dan kontra.

Sebagian pihak menilai kebijakan melonggarkan PSBB belum tepat karena Indonesia masih memiliki banyak kasus positif corona yang setiap harinya malah bertambah. “Bukan untung malah buntung” adalah pepatah lama yang dikhawatirkan jika meremehkan corona seperti yang dialami oleh China dan Korea selatan mengalami gelombang kedua setelah membuka kembali aktivitas ekonomi mereka. Salah satu bentuk pelonggaran PSBB adalah rencana pembukaan pusat perbelanjaan di Jakarta pekan lalu yang mendapatkan kritik pedas dari analis Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah. Disisi lain tentu kita tahu bahwa banyak pihak yang butuh pemulihan aktivitas ekonomi karena mereka tidak bisa bertahan jika terus dilarang mengais rupiah terutama kaum non kantoran dan masyarakat menengah kebawah. Seperti yang dikatakan oleh pengamat ekonomi Piter Abdullah bahwa PSBB telah berdampak besar terhadap perekonomian Indonesia.

World Health Organization (WHO) menyatakan belum ada cara menghilangkan virus Corona/ Covid-19. Menurut WHO Regional Director for Europe, Dr Hans Henri P. Kluge, negara-negara terutama di Eropa telah memasuki periode untuk menyesuaikan langkah dengan cepat dan meredakan pembatasan secara bertahap. Indonesia menjadi salah satu negara yang hendak melakukan periode penyesuaian langkah tersebut yaitu dengan skenario New normal. Pemerintah telah mengumumkan rencana untuk menerapkan kebijakan New normal dengan mempertimbangkan studi epidemiologis dan kesiapan regional. WHO mengingatkan kepada setiap negara yang hendak melakukan transisi, pelonggaran pembatasan, dan skenario New normal harus memperhatikan dan memenuhi hal-hal berikut ini:

1. Bukti yang menunjukkan bahwa transmisi Covid-19 dapat dikendalikan.

2. Kapasitas sistem kesehatan dan kesehatan masyarakat termasuk rumah sakit tersedia untuk mengidentifikasi, mengisolasi, menguji, melacak kontak, dan mengkarantina.

3. Resiko virus corona diminimalkan dalam pengaturan kerentanan tinggi, terutama di panti jompo, fasilitas kesehatan mental, dan orang-orang yang tinggal di tempat-tempat ramai.

4. Langkah-langkah pencegahan di tempat kerja ditetapkan-dengan jarak fisik, fasilitas mencuci tangan, dan kebersihan pernapasan.

5. Risiko kasus impor dapat dikelola.

6. Masyarakat memiliki suara dan dilibatkan dalam kehidupan new normal.

Persiapan Indonesia menuju fase new normal dalam menghadapi Covid-19 juga harus dipersiapkan sejak dini oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya oleh masing-masing individu dalam mempersiapkan dirinya hidup di fase tersebut. Kementerian Kesehatan dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Indonesia juga telah menyusun protokol kesehatan. Selain menaati aturan kesehatan seperti selalu mencuci tangan, baik menggunakan sabun maupun hand sanitizer, juga tetap menjaga jarak sosial dan fisik atau physical distancing . Oleh karena itu, sangat penting bagi masyarakat ataupun seluruh kalangan untuk tetap mengikuti aturan protokol kesehatan Covid-19 di tengah era new normal. Berikut Tips dari KMNU yang dapat dilakukan untuk tetap hidup sehat di tengah fase new normal Covid-19 selain tetap mengikuti aturan protokol pada umumnya yaitu :

1. Bidang kesehatan dengan cara meningkatkan sistem imun, yaitu dengan menjaga keseimbangan nutrisi, gaya hidup yang sehat, olahraga yang teratur dan minum vitamin atau suplemen. Selain itu faktor luar tubuh menjaga kebersihan lingkungan sekitar terutama rumah. Jangan lupa untuk mencuci masker jika itu kain dan menganti baju setiap pulang dari luar rumah dengan waktu yang lama.

2. Bidang sosial dengan cara memulai menyesuaikan diri dengan kebijakan daerah sekitar. Cari informasi terbaru dan patuhi aturanya karena tiap daerah memiliki kebijakan sesuai kondisi. Tetap menahan diri untuk mengurangi kontak fisik dan tidak banyak keluar rumah jika bukan agenda penting seperti kerja atau pergi membeli bahan makanan.

3. Bidang Ekonomi dengan cara memulai penyesuaian diri dengan analisis potensi kondisi pasar terkini, memulai belajar digital entrepreneurship dan mulai untuk menyusun rancangan bisnis pasca pandemi. Selain itu dihimbau untuk tetap menggunakan uang dengan bijak.

4. Bidang Pendidikan dan teknologi dengan cara menyesuaikan diri adaptasi belajar online dan mulai mencari informasi kapan pendidikan dimulai secara offline di daerah masing-masing.

5. Bidang keagamaan dengan cara tetap melakukan ibadah dengan rutin namun untuk lokasinya bisa menyesuaikan keadaan daerah masing-masing.

TIM REDAKSI

Pembina: Avuan Muhammad Rizki

Pemimpin Redaksi: Siti Aenandari Hadatul Aysi

Wakil Pemimpin Redaksi: Rona Apriandini Djufri

Reporter: Jihan Eka Aprilia, Irma Faikhotul Hikmah Rahmi Nur Fauziah, Muhammad Adib, dan Muhammad Muhajir

Editor Bahasa: Avuan Muhammad Rizki, Siti Aenandari Hadatul Aysi dan Rona Apriandini Djufri

Artistik: Rona Apriandini Djufri, Idhar Fisabililhaq, Adzkiya Sirojudin, dan Izzul Haq Zain

Produksi: Rahmi Nur Fauziah

Keuangan: Hafidzah Hasri Ainun

Comments
Loading...