Mewujudkan Mabadi Khaira Ummah: Mengingat Cak Nur

Akhir-akhir ini kita acap kali menemukan beberapa masalah di dalam masyarakat, baik dari yang sepele hingga permasalahan serius, sebut saja masalah komunikasi antar masyarakat hingga masalah intoleransi yang mengancam keutuhan ummat bernegara. Pengentasan masyarakat tersebut harus dientaskan oleh semua elemen masyarakat sebagai insan Tuhan yang diutus olehNya untuk membuat tatanan dunia lebih baik, jika tatanan di dunia baik, maka peran-peran kemanusiaan sebagai hamba Tuhan dapat dilaksanakan dengan baik, mulai dari yang bersifat pribadi seperti ibadah, hingga yang bersifat lebih universal seperti mengurus negara.

Nahdlatul Ulama sebagai organisasi masyarakat terbesar di dunia pernah membuat sebuah piagam yang amat baik dan bagus isinya untuk menghadapi perkembangan zaman, piagam tersebut dinamakan piagam Mabadi Khaira Ummah. Secara terminologi, Mabadi Khaira Ummah memiliki makna berupa prinsip-prinsip nilai sebagai usaha membentuk tatanan masyarakat yang gemah ripah loh jinawi, masyarakat yang baik, mandiri serta mampu menjalankan peran amar ma’ruf nahi munkar, tentunya dengan karakter islam wasathy yang ramah dan toleran. Piagam ini disusun sebagai sarana Character Building pada masyarakat NU yang didasari pada faham ahlu sunnah wal jama’ah untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

Piagam tersebut berupaya untuk meningkatkan sumber daya masyarakat guna memenuhi prinsip :

  1. As-Shidqu : Kejujuran, kebenaran dan keterbukaan.
  2. Al Wafa Bil Ahdi : Dapat dipercaya, setia dan tepat janji.
  3. Al Adalah : Bersikap adil dan objektif.
  4. At Ta’awun : Tolong menolong, setia kawan, gotong royong dalam kebaikan dan takwa.
  5. Istiqamah : Berkelanjutan (sustainable)

Piagam tersebut bertujuan menanamkan kesadaran identitas sebagai ummat islam dan ummat bernegara, dan menjadi landasan berkelanjutan guna membentuk ummat yang terbaik, suatu masyarakat yang mempunyai fungsi rahmatan lil alamin dan amar ma’ruf nahi munkar.

Cak Nur Sudah Mengingatkan Kita

Nurcholish Madjid adalah salah satu figure penting dalam sejarah pembaharuan pemikiran islam pada periode 1970 an, selain KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Cak Nur yang pada tahun 1970 mendobrak pemikiran islam dengan pidatonya yang berjudul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”, Cak Nur mengutip ungkapan dari ahli strategi militer dari Prancis bernama Andre Beufre “Our traditional lines of thought must go overbroad, for this is now for more important to be able to look ahead than to have large scale of force whose effectiveness is problematical” , Garis-garis pemikiran kita yang tradisional yang harus dibuang jauh-jauh, sebab sekarang ini jauh lebih penting mempunyai kemampuan melihat kedepan daripada mempunyai kekuatan dengan ukuran besar yang daya gunanya masih dipersoalkan, tentunya yang dimaksud oleh Cak Nur dalam kata “tradisional” bukan bermaksud menunjuk pada masyarakat tradisionalis seperti NU, namun lebih menyoroti pada pola pikir yang kurang mengikuti arus kezamanan, karena zaman terus berjalan dan tantangan-tangan semakin variatif, oleh karenanya diperlukan pemikiran-pemikiran yang bisa membersamai arus zaman yang terus berjalan guna mengentaskan problematika kezamanan. Bagi Cak Nur, Cak Nur lebih mementingkan produktifitas ummat dalam menanggulangi masalah-masalah keummatan daripada mengandalkan mobilisasi-mobilisasi yang terkesan “bising” namun tidak efektif dalam memajukan khazanah keummatan. Partsipasi aktif masyarakat dalam memunculkan ide-ide yang segar lebih diutamakan untuk mengentaskan problematika yang terjadi di masyarakat. Melihat fenomena keagamaan di masyarakat, Cak Nur menganggap bahwa semua agama mengajarkan etos tanggung jawab, tanggung jawab pribadi dihadapan Tuhan dan tanggung jawab pribadi di masyarakat, maka perlu kesadaran penuh dari individu untuk berperan aktif mewujudkan mabadi khaira ummah, iman yang pribadi dapat membawa ke amal shaleh dalam bermasyarakat. Sebab, kebenaran bukanlah semata-mata persoalan kognitif, kebenaran harus mewujudkan diri dalam tindakan, atas hal tersebut maka memancarkan berbagai implikasi keagamaan dan kemasyarakatan yang harus diperankan oleh umat beragama dalam kehidupan manusia yang tarus berjalan pada abad modern ini. Persoalan yang terjadi di masyarakat harus diselesaikan bersama melalui proses take and give, mendengar dan mengemukakan pendapat yaitu musyawarah sebagai pangkal kebijaksanaan dalam islam.

 Cak Nur, mempunyai sejumlah gagasan untuk mewujudkan mabadi khaira ummah, yang sejalan dengan isi Piagam Mabadi Khaira Ummah yang dicetuskan oleh Nahdlatul Ulama, salah satu gagasan Cak Nur selain intellectual freedom dan idea of progress adalah penekanan mengenai keadilan sosial dengan sebenar-benarnya. Cak Nur menekankan keinsafan pada rasa keadilan sosial, sebab sebagai sila terakhir dalam Pancasila, keadilan sosial dinyatakan sebagai tujuan dalam membentuk Republik Indonesia. Islam sangat dikenal sebagai agama yang banyak menyinggung pembelaan terhadap keadilan, terutama terhadap kaum miskin agar ummat manusia dapat memberi persamaan hak yang mutlak antar sesama manusia. Etika Kristiani telah memunculkan pemikiran tentang kemanusiaan di dunia barat, begitu juga dalam ajaran Hindu yang melahirkan pemikiran kemanusiaan yang otentik dari Mahatma Gandhi.

Oleh karena itu, keadilan merupakan ‘tangan Tuhan’ untuk ummatNya, sebagai sebuah sunatullah yang haqiqi dan tidak akan berubah, dalam berjalannya zaman keadilan harus sealu hadir untuk menghiasi kehidupan manusia, menegakkank keadilan dalam mewujudkan Mabadi Khaira Ummah adalah wujud kemerdekaan psikologis dan jiwa sebagai ummat manusia, Sayidina Ali bin Abi Thalib mengatakan “siapa saja yang menegakkan keadilan maka akan meraih kejayaan dan siapa saja yang melanggarnya akan binasa”. Ibnu Taimiyah dalam risalah al Amr bi al Ma’ruf al Nahy an al Munkar mengutip kata Sayidina Ali dengan ungkapan “Sesungguhnya Allah akan menegakkan negeri yang adil meskipun kafir, dan tidak akan menegakkan negeri yang zalim meskipun Islam”.

Atas dasar tersebutlah Cak Nur jauh hari sudah mengingatkan kepada kita agar menginsafi nilai-nilai keadilan, karena keadilan adalah cara menjalankan amanah Tuhan sebagai ummat manusia di muka bumi untuk mewujudkan Mabadi Khaira Ummah.

Disusun oleh: M. Pengkuh Wedhono Jati

Sumber :

Nurcholish Madjid. (1993). Islam Kerakyatan dan Keindonesiaan. Jakarta : Paramadina

Abdul Mun’im DZ. (2011). Piagam Perjuangan Kebangsaan. Jakarta : Setjen PBNU-NUOnline

Comments
Loading...