KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

Merindukanmu dari Jauh

يغيب لك من بعيد

Merindukanmu dari Jauh

 

Dear habibi,

Aduhai Cahaya Hati berapa lama lagi aku dapat berjumpa denganmu. Tak kuasa qalbu ini memendam hasrat rindu yang begitu membuncah untuk menyentuh ragamu. Tak kuasa air mata ini menetes kala bibir mengucapkan indahnya namamu,Ya Habibi. Duhai permata dunia lagi cahaya hati, ku mendamba pada sosok mu yang luhur, ku merindu pada sabdamu yang halus, ku terpesona pada pekertimu yang elok, amalan apa agar aku dapat menyentuh sosokmu yang rupawan?

Ya Habibi,

Kucukupkan cintaku kepadamu karena Allah, kucukukan kasihku padamu karena Allah, kupasrahkan rinduku padamu kepada Allah, dan kutitipkan air mata ini karenamu kepada Allah.

Tak terbayangkan olehku bahwa mencintaimu akan sangat amat menyakitkan seperti ini.

Mencintaimu dari jauh tanpa tau rupamu, menyayangimu dari jauh tanpa melihatmu, merindukanmu dari jauh tanpa mendengar indahnya suaramu.

Ya Habibi,

Bagiku itu tak mengapa selama salam sayang yang aku ucap, engkau masih mendengarnya.

Wallahi, itu sudah cukup bagiku, Habibi.

Kau tau Habibi?, sungguh membingungkannya rasa ini padamu

Kala aku termenung kadang aku merasa cemburu pada Yang Menguasai Cinta karena Ia lebih memilih mencintaimu daripada aku. Kadang juga aku merasa cemburu padamu Ya Habibi, kau lebih memilih seorang janda untuk melabuhkan hatimu yang suci itu. Habibi, yang membuatku merasa cemburu yang teramat sangat adalah ketika aku bukanlah pecinta tunggal, karena banyak sekali orang yang mencintaimu, alih-alih hanya aku seorang.

 

Ya Habibi,

Akankah kelak kau akan melihatku?, akankah esok kau akan mengakuiku? Akankah nanti kau akan mendengarkan ucapan cintaku? Ketakutan terbesarku adalah bila aku tak engkau akui ya habibi. Seakan hidupku tak ada gunanya tanpa pertolonganmu. Semuanya akan sia-sia jika kau lebih memilih berpaling dari hadapanku Habibi. Disaat itu aku tahu, air mata tak akan cukup untuk menangisi semuanya.

Namun aku selalu yakin disetiap untaian salam yang aku ucap, engkau akan memberikan imabalannya

Engkau Akan Membalasnya.

Ya Habibi,

Aku tak sehebat Al Barzanji yang menuliskan Sirahmu, dan kalimatku tak seindah syair Al-Haddad yang mencintaimu jua dzohiron wa bathinan, serta sayangku tak sebesar Al-Munzir, Sulthonul Qulub, yang memujamu sampai akhir hayatnya.

Hanya sebuah kata yang tak berarti yang aku tuliskan untukmu ya habibi di buku kecil ini.

Pengobat rasa rinduku padamu.

Inilah Dakwahku. Mendakwahkan kepada diri sendiri untuk mencintaimu dalam suka maupun duka.

Ya Habibi, Salam alaika ya Habibi. 

“Khadijah, kau belum tidur nak? Loh kenapa kamu menangis?”

Tak terasa sudah larut malam aku menuangkan isi hatiku di dalam Diary kecilku ini hingga aku tak sadar ketika Ummi membuka kamarku.

“Iya ummi maaf aku belum tidur. Aku hanya sedang merindukan seseorang ummi. Ternyata mencintainya butuh perjuangan yang luar biasa” kuusap airmataku dengan ujung hijabku. Ummi mendekat dan mengusap sayang ujung kepalaku.

“Siapa gerangan sosok yang telah mencuri hati putri kecil ummi heumm?”

Aku tersenyum. Tersipu sendiri membayangkan nama yang begitu indah ditanyakan oleh ummiku.

“Namanya Ahmad, Ummi” Jawabku. “Ahmad siapa? Ada banyak Ahmad di desa kita sayang.” Rupa-rupanya ibuku begitu penasaran. Lagi-lagi aku tersenyum sendiri.

“Ahmad Shalallahu ‘alaihi wassalam Ummi. Dia yang mencuri hatiku selama ini.”

Masyaallah! Masyaallah!” Ummi-ku terlonjak kaget mendengar jawabanku.

“Sungguh kau tak merugi wahai putriku. Kau tak salah tempat melabuhkan hatimu ke dermaga yang di Ridhoi Allah. Sungguh Ummi pun merasakan hal yang sama putriku. Kau mengingatkan Ummi-mu ini tentang sebuah rindu dan cinta yang melebur menjadi satu.”

Kulihat genangan air mata ia tahan di pelupuk matanya yang mulia. Sungguh aku terharu dengan pengakuan dari Ummi-ku. Ternyata rasa ini tak salah, justru ini adalah hakikat dari sebuah perasaan cinta itu sendiri, mencintai sosok yang bahkan dicintai Rabb semesta alam.

Ummi, maukah kau mendengarkanku bersenandung untuk kekasihku, kekasih kita?”

Ummi hanya mengangguk senyum, sungguh itu menyejukan hati. Beliau mengelus pucuk jilbabku penuh sayang.

(Busyrolana, Diwan AlHabib Muhammad alwi alMaliki r.a)

بُشـرَ لَــنَا نِلنَــا المُنَــى . زَالَ الْعَنَى وَافَالْهَنَا

Kebahagiaan milik kami kerana kami memperoleh harapan. Dan hilang sudah semua kesusahan, lengkap sudah semua kebahagiaan.

وَالدَّهْرُاَنَجْزَوََعْدَهُ . وَالْبِشْرُاَضْحَى مُعْلَنَا

Dan waktu sudah menepati janjinya. Dan kebahagiaan menampakkan kemuliaan kami. Berlumuran dengan wangian kegembiraan menanti pertemuan dengan insan termulia.

يَانَفْسُ طِيبِي بِا للِّقَا . يَاعَيْنُ قَرَّى اَعْيُنَا

Wahai nafsu, puaslah dengan perjumpaan ini. Wahai mata, sejukkanlah semua mata kami.

هََذَاجَمَالُ الْمُصْطَفَى . اَنْوَارُهُ لاَ حَتْ لَبَا

Lihat! Inilah keindahan al-Musthafa . Cahayanya lebih kelihatan dan mempesona bagi kita semua.

يَا طَيْبَةُ مَا ذَانَقُولْ . وَفِيكِ قَدْ خَلَّ الرَّسُولْ

Duhai Thaibah (Madinah), apa yang dapat kami katakan?. Jika Rasul telah mendiami wilayahmu.

وَكُلُّنَـــانَرجُو الوُصُول . لـِمُحمَّدٍ نَبِــيَّنَا

Dan kami semua ingin berjumpa. Dengan Muhammad, nabi kami.

يَارَوْضَةَالْهَادِالشَّفِيعِ   . وَصَاحِبَيهِ وَالبَقيع

Duhai taman Nabi, pembawa petunjuk dan pemberi syafaat. Dan kedua temannya serta tanah Baqi’

اُكتُب لَنَــا نَحنُ الجَمِيع . زِيَارَةً لِحَبِيبِنَا

Catatlah kami semua. Bahwa kami berziarah kepada kekasih kami.

صَلَّ وَسَلَّمْ يَا سَلاَمْ . عَلَى النَّبِى مَا حِى الظَّلاَمْ

Wahai Tuhan Maha Pemberi Salam, berikan selawat dan salam. Kepada Nabi menghilangkan kegelapan.

وَالْأَلِ وَالصَّحْبِ الکرام . مَا أُنْشِدَتْ بُشْرَى لَنَا

Juga keluarga, para sahabat yang mulia. Selama dilagukan qasidah “Busyro Lana”

 

Kembali tangisku pecah setelah melantunkan syair mulia ini, kulihat Ummi pun sama. Oh betapa indahnya ber-sholawat kepada sang kekasih sejati. Untaian diwan yang sarat akan sebuah kerinduan dan kecintaan seperti perasaanku dan Ummi pada saat ini.

“Bersyukurnya Ummi punya putri solehah sepertimu, Khadijah. Baiklah sudah malam nak, sholat malam dulu baru tidur. Ummi akan kembali ke kamar. Assalamualaikum.”

Walaikum salam warohmah ummi

End

 

**************

 

 

N.P. : Ketika membaca syair busyrolana diharapkan sambil mendengarkan syairnya. Ketik saya di Youtube “Busyrolana”. Untuk mendapatkan feel nya.

N.P. : Bacalah dengan pelan, hayati, dan rasakan.

Sebuah cerita kecil yang keluar dari seorang pikiran penulis amatiran, Fuad Hasyim. Seorang mahasiswa semester akhir yang sedang gelisah karena belum seminar proposal, sedangkan yang lain masih sibuk-sibuknya bimbingan kepada dosen masing-masing. Semoga dengan bersholawat kepada kekasih yang dikasihi Yang Maha Kasih dapat melancarkan hajatku yang belum selesai. Amin. (Fuad Hasyim/fazmi)

 

You might also like
Comments
Loading...