KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

MERAYAKAN KELAHIRAN NABI DENGAN AMAL SHOLEH

Oleh: M. Irfansyah Maulana – KMNU UPI

Mengimani para Rasul Allah SWT adalah kewajiban yang harus dimiliki oleh setiap umat Islam karena merupakan sebagian dari rukun iman. Sebagai bagian dari umat Nabi Muhammad SAW, telah menjadi kewajiban untuk mengimani dan meneladani Nabi Muhammad sebagai Rasulullah. Bahkan, dalam kalimat tauhid yang selalu kita tanamkan dan kalimat syahadatain yang menjadi bukti keislaman kita, di dalamnya terdapat muhammadurrasulullah yang menguatkan jati diri muslim manapun bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang harus senantiasa diteladani. Ini artinya, jika seorang muslim benar-benar memaknai kalimat tauhid dan kalimat syahadatain dalam diri dan jiwanya, maka mengimani, meneladani, mengingat perjuangan, dan memaknai keberadaan beliau yang pernah memperjuangkan Islam di bumi ini adalah cara terbaik untuk menanamkan kecintaan kepada Rasulullah. Rasulullah-lah suri tauladan yang menjadi contoh baik bagi setiap umat manusia. Firman Allah dalam QS Al Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ الَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو الَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ الَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan, ayat ini adalah dasar yang paling utama dalam perintah meneladani Rasulullah SAW, baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keadaannya. Dari Abu Qatâdah RA, sesungguhnya Rasûlullâh SAW ditanya tentang puasa Senin, maka beliau menjawab: “Hari Senin adalah hari lahirku, hari aku mulai diutus, atau hari mulai diturunkannya wahyu”. [HR Muslim]. Sebagaimana yang kita ketahui, Rasulullah lahir pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal dengan nama lahir Muhammad Ibn Abdullah. Berdasarkan hadits di atas, hari Senin adalah hari dimana umat muslim disunnahkan untuk berpuasa karena memiliki sebab diantaranya hari Senin adalah hari lahir Nabi dan hari Nabi diutus atau hari diturunkannya wahyu. Nabi pun mencontohkan dan mengisi hari lahirnya dengan amal sholeh, maka bukanlah suatu bid’ah dholalah apabila seorang muslim turut memperingati hari lahirnya dengan amal sholeh pula.

Pada 20 November 2018 yang lalu, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1440 H, umat muslim memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW. Namun, ada kelompok yang mem-bid’ah-kan maulid Nabi Muhammad SAW karena menurut mereka Nabi tidak pernah melakukannya. Padahal, sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas, Nabi memperingati hari lahirnya dengan amal sholeh. Begitupun pada peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, umat Islam merayakannya dengan amal sholeh pula. Maulid Nabi adalah momentum untuk meneladani Rasulullah dalam perkatannya, perbuatannya, maupun keadannya melalui amal-amal sholeh. Dalam peringatan maulid Nabi, perkataan Nabi yang senantiasa mengucapkan pujian kepada Allah dan zikir seperti kalimat tasbih, tahmid, istigfar, dan tahlil, turut diteladani, diucapkan, dan didawamkan dalam istigosah yang menjadi rangkaian acara maulid Nabi Muhammad SAW. Secara amaliyah, istighotsah adalah cara untuk meminta pertolongan kepada Allah SWT. Anas berkata: “Jika Rasulullah menemukan kesulitan, beliau berdoa ‘Wahai Dzat yang maha hidup kekal dan maha mengurusi segala sesuatu, Dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan.” (HR al-Turmudzi). Kebanyakan doa yang dibaca dalam istighotsah adalah asmaul husna, seperti perintah Allah dalam Al Quran: “Hanya milik Allah asmaul husna (bagus), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna…” (al-A’raf: 180). Dengan demikian, istigosah yang pada pelaksanaannya berisi asmaul husna, pujian kepada Allah SWT, dan dzikir adalah cara ibadah yang benar dan sesuai dengan tuntunan yang telah diperintahkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, mari perbanyak pujian kepada Allah dan berdzikir kepada Allah SWT. Baik itu melalui pembacaan istigosah dalam rangkaian maulid Nabi secara berjamaah, atau dilakukan secara individu yang dibacakan setelah salat fardlu atau sunnah.

Jika kita meneladani perkataan Rasulullah yang sering mengucapkan dzikir melalui istigosah, melalui perayaan maulid Nabi pula kita bisa meneladani perbuatan Rasulullah diantaranya melalui tausyiah dan siroh nabawiyah. Peringatan maulid Nabi di berbagai negara khususnya Indonesia, seringkali disertai dengan tausyiah dan pembacaan maulid seperti al Barzanji atau ad Diba’i yang isinya adalah cerita masa kecil Nabi, cerita kenabian, cerita kerasulan, yang pada intinya menceritakan perbuatan Nabi semasa hidupnya.“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (An-Nahl: 125). Tausyiah pada rangkaian acara maulid Nabi adalah metode dakwah yang dilakukan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT melalui hikmah dan pelajaran yang baik yang diambil dari perbuatan Nabi Muhammad SAW yang menjadi contoh dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Sedangkan Imam Syafi’i Rohimahullah berkata: Barang siapa yang mengumpulkan saudara-saudara untuk memperingati Maulid nabi, kemudian menyediakan makanan, tempat, dan berbuat kebaikan untuk mereka serta ia menjadi sebab untuk atas dibacakannya maulid nabi, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang sholeh. Dan dia akan dimasukkan dalam surga na’im.”

Dakwah yang disampaikan dengan hikmah dan mauidzoh hasanah serta cerita-cerita tentang perbuatan Nabi Muhammad SAW menjadi suri teladan bagi muslim yang mendengarnya untuk diimplementasikan pada kehidupan sehari-hari. Rasulllah adalah teladan yang luar biasa. Dengan usianya yang wafat pada 63 tahun, Rasulullah mampu menyebarkan Islam dengan begitu pesat di penjuru dunia. Dalam memimpin peradaban umat Islam, Rasulullah tak pernah egois dalam perbuatannya. Rasulullah mewariskan perjuangan dan pengorbanannya dalam Islam melalui para sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin sehingga buah dari kejayaan Islam tak hanya dirasakan oleh suatu masa, melainkan ikut dirasakan oleh umat Islam pada masa-masa yang akan datang. Teladan seperti inilah yang harus didengarkan, dipahami, dan diimpementasikan. Oleh karena itu, tauyiah dan siroh nabawiyah yang disampaikan saat maulid Nabi adalah momentum yang baik yang harus didengarkan dalam upaya ikut mengetahui perbuatan Nabi semasa hidupnya untuk diteladani.

Selain kesalehan individual yang ada pada maulid Nabi Muhammad SAW seperti yang telah dijelaskan di atas yaitu membaca zikir, mendengarkan dan menimpementasikan isi-isi dakwah, terdapat kesalehan sosial yang dapat dilakukan pada perayaan maulid Nabi Muhammad SAW yaitu menjaga persatuan sesama muslim, saling memberi dan berbagi rezeki, serta saling bahu membahu dalam menegakkan agama Allah SWT. Pada peringatan maulid Nabi, seluruh umat Islam saling berkumpul pada suatu tempat. Inilah momentum untuk mempererat tali persudaraan muslim, menjaga ukhuwah islamiyah, serta ajang untuk bersilaturarhim, bertegur sapa, dan menanyakan kabar satu sama lain. Selain itu, umat Islam biasanya dari rumah masing-masing membawa makanannya untuk disumbangkan agar dapat dikonsumsi oleh orang banyak dan muslim lainnya. Ini adalah nilai-nilai kebersamaan, nilai-nilai kemasyarakatan, dan nilai-nilai Islam yang diajarkan bahwa kita senantiasa diperintahkan untuk berbuat baik, berbagi rezeki, dan memberi makan orang lain. Seorang lelaki bertanya kepada Rasullah: “Manakah ajaran Islam yang lebih baik?” Rasul shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Hendaklah engkau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak.” (HR Bukhari).

Masih ada amaliyah penting yang dapat dilakukan dalam memperingati maulid Nabi Muhammad SAW, yaitu memperbanyak shalawat kepada-Nya. Memperingati hari lahir Nabi adalah bukti kecintaan dan bukti pengakuan seorang muslim terhadap lahirnya revolusi muslim sejati. Pembacaan shalawat Nabi yang sering dilakukan adalah bentuk pengharapan terhadap syafa’at dari Nabi Muhammad SAW dan bentuk penghormatan terhadap perjuangan Nabi dalam membela serta menyebarkan Islam.

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Barangsiapa memohonkan shalawat atasku sekali, Allah bershalawat atasnya sepuluh kali. [HR Muslim, no. 408, dari Abu Hurairah].

Dimulai melalui momentum maulid Nabi Muhammad SAW yang dilakukan oleh umat Islam sedunia ini, marilah kita perbanyak sholawat, perbanyak zikir, perbanyak berbagi rezeki, perbanyak tali silaturahmi, dan perbanyak mendengar maidzoh hasanah agar kualitas hidup dan kualitas ketakwaan kita dapat meneladani apa yang Rasullah katakan, lakukan, dan contohkan. Amaliyah yang kita lakukan tersebut jangan sampai terputus hanya saat peringatan maulid Nabi saja, melainkan marilah istiqomah untuk melakukan semua itu di setiap saat dan setiap waktu.

You might also like
Comments
Loading...