KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

MENGENAL GEMPA BUMI DAN TSUNAMI BAGIAN III: TIPE–TIPE PERGERAKAN PATAHAN

Oleh: Rinaldi Oky Setiawan (Alumni KMNU ITB)

Teori tektonik lempeng beserta tipe pergerakan lempeng – lempeng yang ada di bumi telah dijelaskan dalam bagian I dan II. Pergerakan lempeng yang memunculkan subduksi (tunjaman) serta tipe transform mampu menimbulkan gempa bumi akibat pergerakan batuan – batuan yang berada di atasnya. Batuan – batuan yang tidak stabil inilah yang didefinisikan sebagai patahan (fault), yang mampu membangkitkan tsunami jika terjadi di dasar laut. Patahan memiliki berbagai parameter seperti foot wall dan hanging wall, serta parameter penting lainnya seperti strike, dip, dan slip / rake, yang sudah dijelaskan di bagian I.

Pergerakan hanging wall dapat digunakan dalam menentukan klasifikasi geometri patahan. Secara umum terbagi menjadi dua tipe : dip – slip dan strike – slip. Patahan tipe dip – slip juga dibagi menjadi dua : normal fault dan reverse fault. Normal fault ditunjukkan dalam Gambar 1a. Patahan tipe ini terjadi di daerah dengan bebatuan yang putus atau diregangkan oleh tekanan yang bersifat tensional. Daerah yang tidak berbatu bergerak turun relatif terhadap daerah yang berbatu. Kita masih bisa berjalan di atas patahan yang dihasilkan karena patahan yang terbentuk tidak membentuk bagian yang menjorok ke salah satu sisi.

Reverse fault terbentuk di daerah yang saling mengalami dorongan bersamaan (kompresional) sehingga bagian yang berbatu memiliki ruang yang lebih sempit (Gambar 1b). Langkan (bagian yang menjorok ke salah satu sisi) yang terbentuk di atas garis batas patahan membuat adanya jarak antara suatu bagian ke bagian lainnya, sehingga tidak dapat dilalui sebagaimana yang terbentuk dalam normal fault. Thrust fault merupakan tipe tertentu dari reverse fault yang memiliki sudut yang sangat kecil (Gambar 2).

      Gambar 1. Normal fault (sesar naik) (a) dan reverse fault (sesar turun) (b)
(Sumber: https://www.windows2universe.org)

Gambar 2. Thrust fault (Sumber : https://image.slidesharecdn.com)

            Pergerakan yang terjadi di sepanjang strike – slip fault dalam arah horizontal dengan bagian yang berbatu di satu sisi patahan bergerak ke arah kiri dan bagian satunya bergerak ke arah kanan (Gambar 3). Strike – slip / transform fault tidak menghasilkan jurang (cliff) ataupun tebing curam (scarps) karena tidak terjadi pergerakan secara vertikal antara dua daerah berbatu yang dilalui patahan.

Gambar 3. Transform fault (Sumber : https://www.windows2universe.org)

Oblique fault merupakan perpaduan mekanisme patahan antara dip – slip dalam arah vertikal dan strike – slip dalam arah horizontal (Gambar 4). Fenomena ini terjadi karena kombinasi gaya tekan (compression) dan gaya geser (shear). Hampir seluruh sesar memiliki komponen dip – slip dan strike – slip (baik normal fault ataupun reverse fault), sehingga penentuan patahan yang oblique memerlukan komponen dip dan strike agar dapat dihitung secara signifikan.

Gambar 4. Oblique fault (Sumber : https://www.iris.edu/hq/inclass)

            Secara umum, patahan yang mampu membangkitkan tsunami adalah tipe patahan dip – slip dan oblique fault, karena keduanya mampu mengangkat massa air sehingga pergerakannya yang mengarah ke pantai akan menimbulkan tsunami. Pertemuan dua lempeng, yakni lempeng benua dan samudera, akan menghasilkan gempa bumi di permukaan. Gempa bumi ini memicu pergerakan patahan baik itu secara strike – slip, dip – slip, maupun oblique fault tergantung tipe patahan di daerah hiposentrum. Kecuali strike – slip kedua tipe patahan lainnya akan memicu terbentuknya gelombang secara sinusoidal yang mengikuti dasar laut yang berupa patahan. Gelombang yang pertama terbentuk ini tidak terlalu besar karena dasar laut yang dalam. Penjalaran gelombang yang menuju pantai akan mengalami beberapa proses seperti shoaling (pendangkalan) dan refraksi (Holthuijsen, 2007).

            Gelombang yang menuju perairan dangkal akan mengalami proses shoaling yang berujung pada pengurangan kecepatan dan panjang gelombang, namun menaikkan tinggi gelombang. Tinggi gelombang yang dihasilkan akan semakin besar ketika mendekati pantai. Hal ini disebabkan oleh efek gesekan dasar yang menghambat laju penjalaran gelombang. Tinggi gelombang yang besar ini akan menghantam pantai sebelum memasuki daratan di sekitarnya. Bentuk daratan di sekitar pantai yang terjal dan curam mampu menghambat penjalaran tsunami, sementara bentuk teluk yang cekung, bercorong, dan daratan yang cenderung datar akan membuat penjalaran tsunami dapat lebih jauh di daratan (Diposaptono, 2008 dalam Firmansyah, 2012). Lebih lengkapnya terkait tsunami berikut karakteristik dan proses – prosesnya akan dibahas pada bagian IV, yang juga merupakan bagian akhir dari pembahasan “Mengenal Gempa Bumi dan Tsunami”, Insyaallah.

Bersambung 

Sumber :

Firmansyah, S. 2012. Indeks Kerentanan Pantai Pangandaran akibat Bencana Tsunami, Tugas       Akhir, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Kelautan,         Institut Pertanian Bogor, Bogor

Holthuijsen, 2007. Waves in Oceanic and Coastal Waters, pp. 404. Cambridge University Press, January 2007. ISBN-10: . ISBN-13:. 10.2277/0521860288.

https://www.windows2universe.org/earth/geology/fault.html (diakses pada 20 November 2017 pukul 15.20)

www.ngdc.noaa.gov (diakses pada 20 November 2017 pukul 12.54)

You might also like
Comments
Loading...