KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

MENGENAL GEMPA BUMI DAN TSUNAMI, BAGIAN (I): TEORI TEKTONIK LEMPENG

Oleh: Rinaldi Oky Setiawan, KMNU ITB

Indonesia merupakan daerah yang rawan bencana. Hal ini dikarenakan letaknya yang dilalui oleh ketiga pertemuan lempeng tektonik besar seperti lempeng Eurasia, lempeng Indo – Australia, dan lempeng Pasifik. Lebih lengkapnya, Hamilton (1979, dalam Hanief dkk. 2012) menyatakan bahwa terdapat pula lempeng – lempeng kecil yang saling bertemu di Indonesia yakni Filipina dan Caroline. Kondisi yang demikian membuat bencana seperti gempa bumi dan meletusnya gunung berapi menjadi hal yang lumrah bagi Indonesia.

Gambar 1. Distribusi lempeng di Indonesia (Sumber : Hall, 2002)

            Teori tektonik lempeng baru dikemukakan pada tahun 1912 oleh seorang ilmuwan yang bernama Alfred Lothar Wagener, yang dikenal awalnya sebagai teori pergeseran benua (continental drift). Teori ini menjelaskan bahwa sekitar 200 juta tahun yang lalu terdapat daratan yang sangat luas yakni Pangaea, yang akhirnya pecah menjadi benua Laurasia di belahan utara dan Gondwana di selatan (USGS, 2011 dalam Hanief dkk. 2012). Noyes (2011) menjelaskan lebih lanjut soal prinsip dasar tektonik lempeng. Lapisan tipis dan dingin yang menutupi bumi dinamakan sebgai litosfer, yang mengapung di atas lapisan mantel yang padat dan suhunya lebih panas. Lapisan litosfer terpecah menjadi beberapa bagian yang dinamakan sebagai lempeng. Lapisan di bawah mantel (astenosfer) yang dipengaruhi oleh aktivitas inti bumi bergerak dan memicu pergeseran lempeng yang berada di atas mantel, sehingga mampu menyebabkan adanya gempa bumi, meletusnya gunung berapi, pembentukan palung laut, maupun pemekaran dasar samudera (sea floor spreading). Berdasarkan jenisnya, lempeng terbagi atas lempeng benua dan lempeng samudera. Lempeng benua terdiri atas lapisan silika – alumunium (Si – Al), sedangkan lempeng samudera terdiri atas lapisan silika – magnesium (Si – Mg). Lempeng benua yang terkenal adalah lempeng Eurasia, sedangkan lempeng samudera yang besar adalah lempeng Pasifik dan lempeng Indo – Australia. Berdasarkan arah pergerakannya, batas (margin) antarlempeng tektonik terbagi menjadi tiga jenis : divergen, konvergen, dan transform.

Gambar 2. Batas – batas tektonik lempeng (Sumber : USGS)

            Batas divergen terjadi ketika kedua lempeng tektonik yang berdekatan saling menjauhi. Batas divergen antara kedua lempeng samudera menghasilkan pemekaran dasar laut, contohnya yang ada di dasar laut Atlantik yang dinamakan Mid – Atlantic Ridge. Batas divergen antara kedua lempeng benua memunculkan retakan limbah (rift valley), seperti Great Rift Valley yang didapati di Kenya. Batas divergen disebut juga batas konstruktif karena berujung pada pembentukan suatu bentang alam baru.

Gambar 3. Mid – Atlantic Ridge

(Sumber : https://www.worldwildlife.org/photos/great-rift-valley-kenya )

Gambar 4. Great Rift Valley, Kenya

(Sumber : https://www.worldwildlife.org/photos/great-rift-valley-kenya )

            Batas konvergen didapati ketika kedua lempeng yang saling bertemu dan salah satu lempeng memiliki berat jenis yang lebih besar sehingga menunjam di bawah lempeng yang berat jenisnya lebih kecil. Batas konvergen merupakan batas yang destruktif karena memunculkan gempa bumi dan meletusnya gunung berapi. Batas konvergen ini didapati baik di samudera dan benua. Batas konvergen yang ada di samudera berupa pertemuan antara kedua lempeng samudera serta lempeng samudera dan lempeng benua. Pertemuan kedua lempeng samudera membentuk parit / palung (trenches) serta formasi gunung berapi yang paralel terhadap parit. Puncak sebagian gunung yang muncul ke permukaan disebut sebagai gugusan pulau vulkanik (volcanic island chain). Pulau Aleutian di Alaska adalah salah satu contoh dari proses bertemunya dua lempeng samudera secara konvergen, antara lempeng Pasifik dan lempeng Amerika Utara.

Gambar 5. Pulau Aleutian, Alaska

(Sumber : https://www.jejaktapak.com/2016/09/11/di-pulau-ini-untuk-pertama-kali-sejak-1812-pasukan-musuh-duduki-wilayah-as/ )

Pertemuan lempeng samudera dan benua memunculkan adanya palung sebagai batas antara keduanya, serta terbentuknya gunung berapi di daratan. Lempeng samudera memiliki berat jenis yang lebih besar sehingga menunjam di bawah lempeng benua. Lempeng samudera selanjutnya masuk ke astenosfer yang suhunya lebih tinggi sehingga meleleh. Pertemuan lempeng Indo – Australia dengan lempeng Eurasia memunculkan deretan gunung api yang berada di sepanjang barat Sumatera dan selatan Jawa.

Perbedaan berat jenis dan arah pergerakan lempeng juga terjadi di antara lempeng – lempeng benua. Salah satu lempeng dengan berat jenis yang lebih besar menunjam ke bawah lempeng lainnya. Material lempeng yang tidak terlalu padat sehingga tidak sampai meleleh di astenosfer, akibatnya wilayah batas tumbukan menebal dan membentuk deretan pegunungan non vulkanik. Salah satu contohnya bisa ditemui di Plato Tibet dan Pegunungan Himalaya, yang merupakan konvergensi dari lempeng India dan lempeng Eurasia.

Gambar 6. Pegunungan Himalaya

(Sumber : Wikipedia)

            Pergerakan antarlempeng selanjutnya adalah transform. Batas ini muncul karena adanya dua lempeng tektonik yang bergerak secara sejajar namun berlawanan arah. Keduanya tidak saling menunjam dan saling menumpu, sehingga disebut juga sebagai transform fault. Batas transform yang terkenal berada di San Andreas, di California, USA. Batas transform ini merupakan sesar (patahan) yang merupakan pertemuan lempeng Amerika Utara ke arah Tenggara dengan lempeng Pasifik yang orientasinya mengarah ke barat laut.

Gambar 7. Patahan San Andreas, USA

(Sumber : http://versesofuniverse.blogspot.com/2015/03/patahan-san-andreas.html )

            Indonesia merupakan daerah dengan tipe lempeng yang berkonvergensi, antara lempeng samudera (Indo – Australia dan Pasifik) dengan lempeng benua (Eurasia). Subduksi antara kedua lempeng membentuk formasi bukit barisan di Pulau Sumatera dan memanjang melalui selatan Jawa hingga Bali dan Lombok serta terbentuknya palung Jawa (Java / Sunda trench). Batas konvegen yang destruktif mengakibatkan bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami di Indonesia. Menurut Latief dkk (2000), sekurang – kurangnya terjadi 105 tsunami yang pernah terjadi di Indonesia dengan 90 % – nya disebabkan oleh gempa di daerah subduksi.

Berdasarkan hal tersebut, penting bagi kita untuk mengenali bahaya gempa bumi dan tsunami yang terjadi di sekitar kita sebagai upaya adaptasi maupun mitigasi. Upaya adaptasi dapat dilakukan dengan membuat bangunan tahan gempa maupun menanam mangrove serta membangun sand dunes buatan di sekitar pantai untuk meredam energi tsunami. Upaya mitigasi dilakukan dengan membuat alarm tsunami di lepas pantai (Ina – TEWS, Tsunami Early Warning System) maupun pelatihan evakuasi diri oleh warga dalam menghadapi bencana diharapkan mampu memperkecil dampak dari bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Indonesia.

Sumber :

Hall, R., 2002, Cenozoic Geological and Plate Tectonic Evolution of SE Asia and the SW Pacific : Computer – Based Reconstructions, Model and Animations, Journal of Asian Earth Sciences 20 (2002) 353 – 432, 2002.

Hanief, S.L., I. Meilano, dan D. D. Wijaya, 2012, Analisis Data Time Series GPS Kontinu di Daerah Sumatera (Studi Kasus : Data Continous SuGAr (Sumatran GPS Array) Tahun 2004 – 2007)

Latief, H., F. Imamura, dan N. Puspito, 2000, Tsunami and Catalog Zone in Indonesia, Journal of Natural Disaster Science, DOI : 10.2328/jnds.22.25

Noyes, T.J., 2011, Plate Tectonics, El Camino College, Oceanography 10

You might also like
Comments
Loading...