Mengenal Bintu Syathi’, Mufassir perempuan di tanah Arab

Bintu Syathi’ bernama asli Aisyah Abdurrahman merupakan tokoh I’jaz Al-Qur’an perempuan yang lahir pada tanggal 6 November 1913 Masehi di Kairo, Mesir. Bintu Syathi’ menyelesaikan studi pada strata 1 pada tahun 1939 di Universitas King Fuad di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, kemudian melanjutkan magister pada jurusan yang sama yang selesai ditempuh pada tahun 1941, serta doktoral yang selesai pada tahun 1950 di jurusan yang sama yaitu Bahasa dan Sastra Arab. Kemudian pada tahun 1960 menjadi tenaga mengajar di Universitas Khaurtum, Sudan. Ia juga menjadi seorang professor Sastra Arab di Universitas khusus perempuan dan menjadi professor di universitas ‘Ain Syam pada tahun 1967, serta juga menjadi redaktur An-Nahdlah An-Nisa’iyyah pada tahun 1933. Bintu Syathi’ merupakan seorang Muslim penganut paham Ahlu as-Sunnah wa al-Jama’ah/Sunni. Ia merupakan anak dari seorang doktor di Al-Azhar Mesir bernama Abdurrahman, dan ia diperistri oleh Amin Al-Khauli, seorang Mufasir yang bernama asli Amin ibnu Ibrahim Abd Al-Baqi’ ibn Amir ibn Isma’il ibn Yusuf ibn Al-Khuli.

Teori Bintu Syathi’ berpendapat tentang Al-Qur’an adalah nash al-adab, dirasah Qur’aniyah, dirasah bayan, Al-Qur’an ( Al-Fann al-Qauli), tafsir Maudhu’i, I’jaz Al-Shauti wa Al-Sima’i. Adapun yang dimaksud dengan pendapat ini adalah salah satu ilmu yang penting adalah balaghah (retorika). Memahami Al-Qur’an membutuhkan pemahaman teori balaghah, sebab di dalam Al-Qur’an mengandung majas-majas yang tidak dapat langsung dipahami tanpa menggunakan balaghah. Tafsir yang objektif adalah tafsir yang melihat Al-Qur’an melalui unsur intrinsik, sedangkan ilmu unsur ekstrinsik adalah ilmu pelengkap untuk menafsirkan Al-Qur’an. Adapun unsur intrinsik adalah suatu unsur yang menyusun suatu karya sastra, sedangkan unsur ektrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra dari luar.

Beberapa karya yang dihasilkan oleh Bintu Syathi’ antara lain : Al-Tafsir al-Bayani li Al-Qur’ani al-Kariim (1962) , Kitabuna Akbar (1967), Maqal fi al-Insan, Dirasah Qur’aniyah (1966), Al-Qur’an wa al-Tafsir al-‘Asyri (1971), al-I’jazu al-Bayani li Al-Qur’ani al-Kariim (1971), al-Hayatu Insaniyah ‘Inda Abi al-A’la (1944), Nisa’u an-Nabi, Banatu an-Nabi, Ummu an-Nabi,  al-Mafhumu al-Islami li Taqriri al-Mar’ah (1967), Lughatuna wa al-Bayan (1969) dsb. Bintu Syathi’ menginginkan untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an itu indah.  J.J.G Jansen mengatakan bahwa tafsir sastra Bintu Syathi’ berbeda dengan tafsir yang religius dan teologis, ia lebih mendekatkan pada tafsir sastra yang indah.

Disusun oleh: Mahmudianto (KMNU UINSUKA)

Sumber :

Comments
Loading...