KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

MENDUNG

Bagaimana kabar jiwa?

Masihkah ia setegar karang yang diterpa derasnya gelombang ujian? Masihkah ia selembut sutera yang mengalirkan kekaguman saat menyentuh perasaan orang lain? Apakah ia sebening embun di pucuk dedaunan yang meneteskan kesejukan bagi yang sedang dipeluk amarah? Mugkinkah ia masih terus besyahadat memuji keagungan Sang Kuasa? Adakah ia seindah bintang-bintang penghias alam semesta? Ataukah seluas langit yang tiada terhingga kasihnya? Jawabnya mendung.

Bagaimana mungkin?

Aku tak setegar karang, tak selembut sutera, tak sebening embun, juga tak seindah bintang, apalagi seluas langit. Aku hanyalah sehelai benangrapuh yang tak berdaya dan akan segera musnah ditelan air. Aku hanyalah setitik noda diatas kehidupan yang akan segera jauh-jauh disingkiran. Mungkin akupun sebentuk bulan yang tertutup awan tebal, tak sempat menjadi ratu malam. Akupun setangkai maawar layu, hilang segala warna dan wangiku, dan bila orang melihatnya akan menyiakanku.

Benarkah?

Aku diberi sebuah buku, namun kubiarkan halaman-halaman kosong itu hingga binatang kecil terkutuk merusaknya. Aku diberi seekor angsa putih, namun kucabuti bulu-bulunya yang lembut dan halus itu. Aku diberi sebuah penghapus, namun kuhapus nama-nama orang terkasih dalam hidupku. Dan ketika aku diberi sepotong luka, baru aku menyesalinya.

Sendu.

Akhir-akhir ini tak kulihat langit senja menguning dipadu warna keemasan. Mataku tak lagi menangkap sekawanan burung beterbangan di angkasa yang sesekali bertengger di rerantingan barisan pohon di tepi jalan. Burung-burung itu mungkin sedang mencari tempat untuk merebahkan diri menuju alam mimpi. Matahari jingga yang memasuki garis batas bumi-matahari kini pun terhalang awan hitam yang saling berlomba merengkuh kilaunya. Matahari tak lagi hangatkan senja, apalagi melihatnya tersenyum ketika berdiri diatas cakrawala. Mengucap “sampai jumpa” saat menuju alam istirahatnya. Hanya langit kelabu yang sanggup disaksikan setiap saat oleh ribuan mata. Betapapun mata bosan memandangnya.

Malam sedih.

Purnama yang seharusnya mendampingi anak-anak kecil bermain tak terlihat lagi keidahannya. Sekeluarga maupun bersama tetangga yang biasa bercengkerama di beranda rumah sudah lama tak melakukan kebisaan itu lagi. Sebab purnama hanya brjalan termenung di garis edarnya dibalik sekumpulan awan jahat yang menghalangi sinarnya menjelajah bumi malam.

Mendung itu terus berlanjut hingga malam makin larut.

Terdiam sesosok tubuh yang sedari tadi termenung di beranda rumah menatap langit kelam tanpa satu pun berada di sampingnya, kecuali pepohonan dan kursi tua menjadi saksi bisu kesepiannya. Entah apa yang menjelajah pikirannya hingga tak satu pun terdengar suara dari mulutnya ataupun ekspresi berbeda dari wajahnya. Hanya seperti boneka low batt. Udara digin di sekitarnya mecoba menerka apa dibalik lamunannya. Apakah ia memikirkan masa depan atau masa lalunya? Meratapi cinta yang hilang atau mengkhayal? Mungkinkah ia rindu kampung halaman atau sedang berdzikir? Bagaimana jika ia sedang memecahkan sebuah teka-teki atau melah menyesali perbuatannya di masa lalu?

Murung.

Udara malam itu tetap tak mampu menerka jawaban atas apa yang digalinya dari jiwa misteri itu. Dan udara mulai bosan menemani sesosok muda yang terbuai makin jauh dalam diamnya. Masih meninggalkan sebutir pertanyaan mengambang. Akhirnya setelah udara malam berseteru, bergantilah udara pagi. Matahari temukan jawaban dari setitik air mata. Sepertinya pintu misteri itu sudah mulai terbuka. Diketuknya pintu itu oleh tetesan embun. Alam di sekitarnya mencoba bertanya. Dan jawabnya taklain hanyalah mendung.

Mendung nasib sesosok muda itu.

Ia bersenandung, berharap akan ada suatu  zat yang mendengarnya. “wahai sang pemeluk teguh, hidupku tak berguna, sia-sia. Apakah masih berkenan Engkau memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri yang telah rusak ini? bila semua telah membiarkanku sendiri, makatiada lain aku ‘kan kecewa. Apalagi bila Kau yang biarkan aku. Memang ini semua karena kelalaianku.”

Angin  terhenyak. Embun berhenti menetes.

“Kutak berharap apapun kecuali keridhoan-Mu. Tak kuinginkan sejengkal tanah, hanya kuingin sejengkal langkah ‘tuk menjumpai-Mu. Tak kuinginkan sebutir mutiara, hanya kuingin sebutir pahal bila Engkau menghendaki, tak pula kuinginkan sebongkah emas, hanya kuingin sebongkah hidayah ‘tuk membuka pintu taubatku. Bukan ku haus setumpuk uang, tapi ku hau setumpuk ampunan atas dosa yang lumuri kalbu. Wahai Sang Kuasa, maka bencilah jika kuhanya inginkan surgamu. Dan jauhkan aku dari surgamu jika kuenggan menerima azab-Mu.”

Hening makin tercipta. Mendung kembali melambung.

[khodim elfaiz]

You might also like
Comments
Loading...