Memperingati Hari Nusantara “Memperkuat Rasa Kesatuan Antar Warga Negara Pasca Pemilu”

Bab Memulai Belajar, Pengaturannya, dan Urutannya

Orang-orang yang benar adalah golongan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, mereka memohon petunjuk dari Allah yang Maha Benar, Maha Pemberi Petunjuk dan Maha Melindungi, hingga Allah memberi mereka petunjuk dan melindungi mereka dari kesesatan. Sedangkan ada yang namanya Ahlu Dholalah, yang berarti ahli bidah yang selalu membanggakan pendapat dan akal mereka, mereka mencari kebenaran dari makhluk yang lemah yaitu akalnya sendiri karena akal tidak mengerti segala sesuatu seperti halnya mata tidak dapat melihat segala sesuatu hingga mereka terhalangi mendapat kebenaran, lemah, sesat, dan menyesatkan.

Mereka yang Ahlu Dholalah kurang menggunakan wahyu, tetapi lebih ke filsafat. Sebenarnya filsafat itu bagus, tapi apabila tidak diiringi dengan keislaman, terkadang bisa membuat seseorang tersesat, karena akal itu terbatas.

Rasulullah SAW Bersabda: “Barang siapa yang mengenali dirinya niscaya ia akan mengenali Tuhannya”.

Bila ia mengerti kelemahan dirinya ia akan mengerti kekuasaan Allah SWT.

Seorang santri tidak boleh mengandalkan akal dan diri sendiri tetapi harus berserah diri kepada Allah, memohon petunjuk dari-Nya. Karena barang siapa yang berserah diri kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya dan membimbingnya ke jalan yang lurus.

Ketika kita diberi harta melimpah, maka jangan pelit, sebaiknya kita memohon kepada Allah agar dihindarkan dari sifat pelit.

Nabi bersabda: “apakah ada penyakit yang berbahaya kecuali kikir?

Itu mengartikan sungguh bahayanya sifat kikir. Dahulu Syekh Al Imam Al Halwani Rahimahullah adalah seorang fakir yang berjualan manisan, beliau sering memberi manisan bagi para ulama dan beliau berkata “Berdoalah untuk anakku.” Hingga berkat kedermawanannya, keyakinan dan permohonannya yang kuat, anaknya memperoleh kedudukan yang ia dapat saat ini. Maka dari itu, Jika kita kurang pandai, minimal kita harus memuliakan para ulama, agar mendapat barokahnya.

Hendaknya seorang santri menggunakan hartanya untuk membeli buku-buku dan membiayai orang lain untuk menuliskan buku untuknya, karena hal ini dpaat membantu proses belajar dan memahami ilmu. Muhammad bin Al Hasan Rahimahullah adalah seorang yang kaya raya, untuk mengurusi hartanya saja ia memiliki tiga ratus pegawai, beliau menafkahkan seluruh hartanya untuk kepentingan ilmu, sehingga tidak tersisa satu baju yang indah yang beliau miliki. Kaya itu penting, tetapi gunakanlah untuk ilmu.

Suatu kali Abu Yusuf Rahimahullah pernah melihatnya memakai baju yang sudah using, kemudian ia mengirimkan untuknya baju-baju yang indah, tetapi beliau tidak mau menerimanya, beliau berkata “Kalian diberi kemewahan di dunia ini sedangkan aku akan diberi kemewahan itu kelak di akhirat”.

Kemungkinan beliau tidak menerimanya meskipun menerima hadiah adalah sunnah, karena beliau melihat hal ini sebagai kehinaan bagi dirinya, sedangkan Nabi SAW. Bersabda: “Seorang mukmin tidak boleh menghinakan diri sendiri”.

Diceritakan bahwa Syaikh Al Arsabandi Rahimahullah mengumpulkan kulit-kulit semangka yang telah terbuang di sebuah tempat kosong, beliau mencucinya lalu memakannya. Suatu ketika seorang budak wanita melihat beliau melakukannya, lalu ia mengabarkan kepada majikannya dan si majikan membuat satu jamuan lalu mengundang beliau untuk menghadirinya, tetapi beliau menolaknya, begitulah sepatutnya seorang murid memiliki harga diri yang tinggi tidak melirik harta orang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Hindarilah ketamakan karena tamak adalah kefakiran yang hadir”.

Seorang santri tidak boleh pelit untuk mengeluarkan harta yang ia miliki tetapi ia harus mengeluarkannya untuk diri sendiri dan orang lain. Jangan pelit untuk membeli kitab, membeli bensin untuk menghadiri majelis. Nabi bersabda “Manusia yang takut miskin ia dalam kemiskinan”.

Orang-orang zaman dahulu lebih dulu belajar bekerja, kemudian baru menuntut ilmu hingga mereka tidak melirik harta orang lain, disebutkan dalam sebuah hikmah: “Barangsiapa yang merasa cukup karena harta orang lain berarti ia fakir.” Seorang alim yang tamak akan musnah darinya kehormatannya dan ia tidak dapat menyampaikan yang benar, oleh karena itu Nabi berlindung kepada  Allah dari ketamakan ini.” Nabi Muhammad SAW Bersabda: “Aku berlindung kepada Allah dari ketamakan yang menjadi watak.” Hendaknya kita berusaha, punya usaha, apabila kita ditakdirkan oleh Allah untuk mengajar suatu ilmu, maka kita harus ikhlas. Jangan mengharapkan imbalan dan sebagainya.

Dialog Interaktif Bersama Kang Alamsyah (Ketua KMNU UGM 2020 dan Founder Aksara Lab), Tema: Memperingati Hari Nusantara “Memperkuat Rasa Kesatuan Antar Warga Negara Pasca Pemilu”

Ada beberapa hal yang perlu diketahui, pemilu disaat pandemi untuk sekarang ini.

Kita perlu mengetahui supaya menjadi warga negara yang baik, yaitu salah satunya kita harus tahu esensi dari pemilu itu sendiri yaitu menentukan siapa yang berkuasa dan tidak, dia akan menjadi solusi dikala pandemi ini atau tidak, harus dicari juga, karena hal itu sama-sama penting.

Pasca pemilu beberapa pilihan mungkin bisa membuat berbeda pilihan, karena siapapun pemimpinnya kita tidak bisa menjamin kedepannya. Siapapun pemimpinnya itu memerlukan adaptasi, itu terletak pada diri kita sendiri bukan pemimpin atau orang lain. Pokoknya perubahan itu terletak pada diri kita. Sedangkan pemimpin atau orang lain itu sebagai motivator.

Harus dijelaskan lagi, apakah itu frame agama kita sendiri atau Indonesia. Kalau dalam agama kita harus bersatu kepada siapapun yang menjadi lawan politik kita ketika di pemilu kemarin.

Suatu kekalahan pasti akan sulit untuk diterima bagi sebagian orang. Ketika kita tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, maka akan menimbulkan masalah (kita tidak menerima).

Indonesia memiliki nilai lebih, kita indah karena berbeda. Bagaimana kita menghadapi orang sunda, jawa, dll. Jangan kita langsung menjudge orang sunda itu kasar, orang jawa lembut. Itulah perbedaan bisa menjadi manfaat atau malah sebaliknya. Tergantung kita yang menyikapi.

Lebih mengutamakan kesehatan atau persatuan?

Tentu nikmat yang paling utama adalah kesehatan. Tetapi juga persatuan sangat penting. Percuma kalau kita bersatu, kita tidak sehat ataupun sebaliknya. Bagaimanapun kebijakan, itu merupakan dua hal yang harus dilakukan bersama-sama.

Bagaimana cara menjaga persatuan di masyarakat perkotaan?

Sering-sering bergabung dengan forum ibu-ibu sayur, kalau tidak membuat usaha. Biasanya orang perkotaan kurangnya tegur sapa sesama orang lain, maka itu perlu dilakukan. Apapun sebuah perubahan itu berasal dari ruang kecil. Jadi mulailah dengan hal-hal yang kecil, seperti menyapa, dan sebagainya.

Bagaimana menyikapi generasi milenial sekarang, yang terdapat beberapa dari mereka Golput?

Mungkin bagi kaum milenial lebih menekankan untuk menghargai jasa orang-orang yang berjuang di TPS, setidaknya hadir, meskipun hanya duduk dan tidak memilih untuk menghargai usaha mereka yang bersusah payah mengatur adanya pemilu. Tetapi alangkah baiknya, datang dan menyuarakan suara kalian, hargai orang-orang yang bersusah payah mengadakan acara tersebut.

Di dalam bahsul masail, disebutkan bahwa terdapat 3 paslon yang sama-sama tidak memungkinkan untuk dipilih, lalu bagaimana? Jangan golput, tetapi kita mencari kesalahan dari mereka yang paling sedikit. Kalau ada pilihannya itu, maka kita harus cari kebaikannya dan kekurangannya.

Sumber : Kajian online kitab kuning Ta’limul Muta’allim KMNU Pusat tanggal 12 Desember 2020

Pembicara: Muh Adib R (Koor Kajian Kitab Kuning, Divisi Kajian dan Dakwah, Depnas 5) dan Kang Alamsyah (Ketua KMNU UGM 2020 dan Founder Aksara Lab)

Notulis : Ima Khoirunnisa (Divisi Kajian dan Dakwah, Depnas 5)

You might also like
Comments
Loading...