Mandi Besar dalam Bab Thoharoh

Secara Bahasa thoharoh berarti bersih. Sedangkan secara istilah adalah suatu pekerjaan yang menjadi sebab diperbolehkannya melaksanakan sholat atau ibadah yang diisyaratkan suci dari hadast maupun najis. Thoharoh berupa wudhu, mandi, tayamum dan menghilangkan najis.

Thoharoh dibagi menjadi dua, yaitu menghilangkan hadast (baik hadast kecil maupun hadast besar) dan menghilangkan najis. Hadast terdiri dari dua jenis yaitu hadast besar (penyebab mandi) dan hadast kecil (penyebab wudhu). Mandi besar wajib dilakukan untuk menghilangkan hadast besar. Disebutkan dalam kitab Risalatul Mahid mengenai hal-hal yang mewajibkan mandi besar adalah sebagai berikut:

  1. Bersenggama, maksudnya adalah memasukan hasyafah (kepala dzakar/penis) ke dalam farji, baik qubul maupun dubur
  2. Inzalul mani (keluarnya sperma)
  3. Keluarnya darah haid
  4. Nifas
  5. Melahirkan
  6. Meninggal dunia, kecuali orang mati syahid.

Adapun beberapa hukum untuk bayi yang meninggal akibat keguguran/prematur. Pertama, apabila ketika lahir mengeluarkan suara (menangis) atau diyakini ada tanda-tanda kehidupan, maka wajib dimandikan, disholati, dikafani dan dikubur sebagaimana layaknya mayat orang dewasa. Kedua, apabila ketika lahir langsung mati atau tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali, seperti tangsisan, jeritan, gerakan dan lain-lain, maka wajib dimandikan, dikafani serta dikubur, dan tidak wajib disholati. Ketiga, apabila belum berbentuk manusia, yakni lahir kurang dari usia empat bulan, maka tidak ada kewajiban apapun. Bahkan haram disholati. Namun cukup dibungkus kemudian dikubur.

Selain hal-hal yang menyebabkan harus melakukan mandi besar (menghilangkan hadast besar), dalam kitab Risalatul Mahid diterangkan juga beberapa syarat mandi besar adalah sebagai berikut:

  1. Islam
  2. Tamyiz (sekiranya seorang anak sudah bisa makan, minum dan istinja’ (cebok sendiri)
  3. Tidak ada penghalang sampainya (mengalirnya) air pada anggota yang dibasuh
  4. Tidak ada sesuatu yang dapat merubah air
  5. Menghilangkan najis
  6. Menggunakan air suci mensucikan
  7. Masuk waktu sholat bagi orang yang daimul hadast (orang yang beser/istihadhoh)
  8. Tidak ada hal-hal yang menafikan(ketika bersuci darah kembali keluar)
  9. Mengetahui tata cara bersuci

Ciri-ciri air suci mensucikan diantaranya adalah tidak terkena najis, baik berubah atau tidak. Hal ini bila air tersebut kurang dari dua qullah (174 liter/60 cm kubik), tidak tercampur benda suci yang merubah salah satu sifatnya, dan tidak musta’mal (kurang dari dua qullah) . Bisa dikatakan musta’mal apabila air yang digunakan kurang dari dua qullah, digunakan pada kefardhuan thoharoh(basuhan yang wajib), sudah terpisah dari anggota badan, dan tidak ada niat untuk mengambil air.

Terdapat juga rukun-rukun ketika melakukan mandi besar. Dalam kitab Risalatul Mahid dijelaskan mengenai rukun-rukun tersebut yang dimulai dengan niat. Niat dilakukan pada saat awal membasuh anggota badan, sesuai dengan penyebabnya mandi, misalnya (karena haid, nifas atau yang lainnya atau bisa dengan niat mandi wajib). Lafadz Niat:

نو يت الغسل لرفع الحدث األكبر فرضا هلل تعالى

Sebaiknya niat dilaksanakan bersamaan dengan membasuh bagian qubul dan dubur ketika jongkok diwaktu buang hajat. Perlu diperhatikan qubul dan dubur wajib dibasuh karena sering terlupakan. Kemudian, mengalirkan air pada seluruh bagian tubuh yang terlihat (anggota dhohir), kulit maupun rambut, baik tebal atau tipis. Oleh karena itu, wajib untuk mengurai rambut yang digelung atau diikat, agar air bisa sampai ke dalam. Termasuk bagian tubuh yang harus dibasuh adalah kuku, kulit yang ada dibawah kuku, bagian farji (vagina) atau dubur yang terlihat ketika jongkok saat buang hajat, dan kemaluan bagian dalam laki-laki yang belum khitan.

Hendaknya orang yang mandi meneliti bagian tubuhnya. Terutama lipatan-lipatan tubuh, untuk memastikan bahwa air telah menyeluruh kebagian tubuh.

Sumber : Kajian kitab Risalatul Mahid oleh Ustadzah Isnur Azizah Rohmani S.Ag (KMNU Pusat dan KMNU UB)

Comments
Loading...