KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

Mahasiswa University College London Presentasikan Riset Islam NUsantara

Islam Nusantara sebagai sebuah identitas Islam di beberapa negara di kawasan Asia Tenggara tak hanya digelorakan oleh banyak kalangan di Indonesia, tetapi juga di negara lain seperti Inggris. Baru-baru ini, 6 November 2016, di sebuah acara diskusi yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Oxford, seorang mahasiswa asal Indonesia mempresentasikan karya ilmiahnya mengenai Islam Nusantara.

Irfan L. Sarhindi sengaja mengkaji tema tersebut sebagai sebuah alternatif solusi untuk mengatasi radikalisme yang belakangan marak terjadi di Indonesia. Lebih dari itu, Kang Irfan, sapaan akrabnya, juga mengangkat Islam Nusantara sebagai topik disertasinya yang berjudul “Islam Nusantara: Indonesian Proposal to Curb Radicalism”. Ia merasa gelisah dengan keadaan umat Islam di Indonesia dimana gerakan-gerakan radikal yang mengatasnamakan Islam sudah semakin marak. Menurutnya, konsep Islam Nusantara yang diusung Nahdlatul Ulama merupakan jawaban atas kegelisahannya.

Meski disertasinya masih dalam proses penulisan, mahasiswa MA Philosophy of Education, University College London (UCL) ini mempresentasikan makalahnya dengan sangat lugas. Peserta diskusi terlihat antusias dengan topik yang diangkat, bahkan banyak sekali feedback positif dan membangun dari para peserta untuk mengatasi radikalisme di Indonesia.

Menariknya, mahasiswa yang juga penulis 8 (delapan) judul buku ini memberikan saran kepada Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) untuk menguatkan pengaruhnya di banyak kampus. Menurutnya, gerakan-gerakan radikal yang mengatasnamakan Islam paling banyak dimulai dari kampus-kampus besar di Indonesia. “Untuk itulah saya menyarankan kepada KMNU untuk memperluas peranannya sebagai upaya untuk meminimalisir penyebaran ideologi radikal di kalangan mahasiswa”, pungkasnya.

Pada kesempatan itu, hadir pula Profesor Lyn Parker dari University of Western Australia yang mempresentasikan hasil penelitiannya yang berjudul “Intersections of Gender, Multiculturalism and Religion: Young, Muslim Minority Women in Contemporary Bali”. Diskusi berjalan selama kurang lebih 3 (tiga) jam dan dihadiri oleh puluhan orang dari beberapa kota di Inggris Raya. (Caesar/MAR)

You might also like
Comments
Loading...