KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

Maaak, Mereka Tidak Puasa

Seorang anak yang baru saja pulang dari kota yang terik tengah bercerita kepada emaknya.

Mak, tadi saya melintas sebuah daerah yang cukup lapang.
Ada banyak kendaraan singgah di sana.
Kebanyakan merupakan kendaraan-kendaraan besar dan panjang.
Tahu ga ma? Di sana banyak musafir.
Musafir yang dialeknya sama seperti kita.
Mereka makan dengan lahap nya di pinggir-pinggir jalan, di atas kendaraan-kendaraan.

Mak, tadi saya ke pasar yang super besar dan ramai.
Saya melihat banyak ibu-ibu hamil.
Perutnya memang belum terlalu buncit.
Mereka menyedot teh-teh yang dicampur es dari plastik-plastik bening dengan nikmatnya.

Mak, tadi saya melewati warung-warung kopi yang mewah.
Di sana ada banyak anak-anak namun mereka lebih tinggi dibanding saya.
Mereka menghirup dan mengeluarkan asap dari mulut dan hidung mereka. Seolah asap-asap itu menghilangkan beban hidup mereka.

Mak, perutku kian keroncongan melihat para musafir makan dengan lahap.
Mak, tenggorokanku kian kering melihat ibu-ibu hamil muda tengah minum dengan nikmatnya.
Mak, puasaku kian berat melihat anak-anak tinggi itu dengan tenangnya menghirup dan menghembuskan asap-asap.
Tapi mak, saya kasihan pada mereka.

Mereka memang seolah mendapat “keringanan”, namun mereka harus menggantinya di kemudian hari.
Kalau tidak di dunia ini, mungkin di dunia selanjutnya yang mereka sendiri masih ragu apakah mereka akan ditagih atas ibadah-ibadah yang dilalaikannya.

(Arief Rizqillah, KMNU UPI/eff)

You might also like
Comments
Loading...