KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

KMNU; Sebuah Prolog, Catatan dan Ingatan Mengenai Perjuangan

Oleh: Sri Rahayuningsih

(KMNU IAIN Ponorogo)

 

Dadaku luruh

Ada banyak hal yang membuatku tersentuh

Suara-suara gaduh tapi tak riuh

Air mata terjatuh

Kau berhasil membuatku berlabuh

Adalah pembendaharaan istilah baru dalam kamus hidupku. Organisasi ekstra yang aku dengar pertama kali awal semester satu. Pernah salah seorang teman mengajakku bergabung. Tapi aku menolaknya. Aku yakini tidak ada di dunia ini yang benar-benar kebetulan. Segala sesuatunya pasti telah terskenario dengan baik. Begitupun alurku secara runtut akan aku jelaskan melalui naskah narasi ini.

Kala itu aku sedang mengikuti diklat lanjutan suatu unit kegiatan kampus yang diadakan di salah satu objek wisata kotaku dan jaraknya lumayan jauh dari kampus. Di hari terakhir diklat, seperti umumnya, pagi hari diadakan senam pagi. Ada salah seorang anggota yang tidak begitu kukenal. Dia bertanya Apakah boleh pulang lebih dulu? Aku menjawabnya dengan pertanyaan Memangnya mau kemana? Dari percakapan inilah dia bercerita bahwa ada open recruitment KMNU IAIN PONOROGO yang diberi nama WAROK 3 dan dia termasuk panitianya. “Warok” adalah salah satu tokoh yang terdapat dalam komponen pementasan Reog Ponorogo, patung Warok juga sering menghiasai gapuro atau gerbang-gerbang di daerah Ponorogo. Jika di terjemahkan dalam kamus besar bahasa Indonesia “Warok” berasal dari kata wewarah yang artinya orang yang mempunyai tekad suci, memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. Singkat katanya “warok” adalah seorang jagoan bertopeng karena dia tidak “gila” popularitas. Tapi dalam KMNU IAIN PONOROGO “Warok” adalah gabungan dari tiga kata Warisan Romo Kyai yang jika di terjemahkan sangat panjang sekali.

Kembali ke ceritaku, saat itu juga setelah aku mendapat penjelasan sedikit banyak tentang KMNU yang hari itu juga pelaksanaan open recruitmen aku segera minta kontak yang dapat aku hubungi. Tanpa pikir panjang aku menghubungi pihak panitia. Dengan sedikit melobi dan panitia mengajukan beberapa syarat. Aku menyetujuinya. Aku kembali memutar otak. Bahkan mungkin pikiranku sudah tidak lagi di acara diklat itu. Aku berfikir tentang bagaimana aku bisa ke tempat pelaksanaan WAROK sedangkan aku tidak punya kendaraan dan acara Diklat berakhir ba’da ashar. Akirnya aku mengubungi beberapa temanku untuk aku ajak ikut acara KMNU dari beberapa teman yang aku hubungi hanya satu orang yang mau. Tidak bisa di katakan bagaimana leganya aku saat itu.

Seremoni penutupan diklat itu tertera pada jadwal siang hari. Tapi karena kondisi hujan deras kami semua tertahan di sana sampai ba’da ashar. Pikiranku kembali tidak tenang ingin rasanya menangis karena saat itu aku menyanggupi permintaan panitia untuk datang sore hari. Aku melantunkan banyak istighfar karena aku yakini banyak hal yang tidak dapat dibuka dengan pikir tapi bisa dibuka dengan dzikir.

Aku kembali menghubungi panitia bahwa aku belum bisa kesana sore ini. Hujan mulai reda, tapi kami kembali tertahan dengan hilangnya kunci motor salah satu teman kami. Kami tidak diperbolehkan pulang terlebih dahulu sebelum kunci motor ditemukan. Aku kembali ingin menangis. Bahkan aku sempat tanya dengan temanku “Apakah hari ini dia sedang ulang tahun?dan dia menjawab tidak. Karena mungkin dia sedang dikerjai atau apalah. Pencarian kunci motor itu lumayan lama. Aku masih ingat saat itu aku menulis story di akun sosial Whatsappsku “Sejauh apapun jika itu memang hakmu maka akan sampai”.

Singkat cerita, kurang lebih dua jam perjalanan aku sampai tempat tinggalku. Ba’da Isya aku dan satu temanku berangkat menuju lokasi pelaksanaan WAROK. Dan aku hanya mengikuti satu materi yang hampir saja berakhir ketika aku datang. Aku tidak tahu materi itu berjudul apa. Pada diniharinya terdapat pembaiatan. Aku tertinggal 3-4 materi. Aku yang sebelumnya belum tau apa-apa hanya mengikuti apa yang diinstruksikan panitia. Saat itu aku dan beberapa teman dibangunkan panitia untuk dibawa menemui seorang terkait ketidakikutsertaan materi. Aku hanya mengangguk karena jika ditilik ke belakang aku tidak begitu paham dengan keaswajaan, ke-Nuan dan istilah kader yang sering di sebut-sebut dalam acara ini.

Tibalah pembaiatan. Kita mencium bendera merah putih dan bendera berwarna hijau bertuliskan Nahdlatul Ulama. Aku hampir menangis karena suasana begitu khidmat dan sakral.

Singkat ceritanya lagi akhir tahun itu ada dua agenda besar yaitu Musyawarah Regional di Purwokerto dan Musyawarah Nasional di Bogor. Kami anggota baru diberi ruang untuk ikut belajar. Dan aku termasuk anggota yang diberangkatkan di Munas IV.

Di Munas itulah aku belajar tentang apa KMNU perlahan pertanyaan-pertanyaan yang mengantri jawaban di benakku satu persatu terjawab tentang mengapa, bagaimana, bahkan untuk apa.

Dan kerennya lagi kami dapat amanah menjadi tuan rumah acara Rakernas IV. Dan aku yang baru terbagung di KMNU belum genap tiga bulan, diamanahi menjadi sekretaris Rakernas IV seorang diri. Benar-benar tak bisa kuungkapkan.

Awalnya aku begitu “gagap” karena belum begitu kenal dengan penggurus, sistem dan birokrat KMNU harus berkecimpung begitu dalam menyelami samudera bernama data-data KMNU Pusat. Dan puisi pembuka naskah ini adalah puisi yang kutulisan beberapa jam sebelum pelantikan pusat. Saat itu aku benar-benar memaknai sebuah perjuangan, persahabatan dan pengorbanan.

 

[Epilog]

Jikaulah awal kata yang memantikku untuk tau adalah “mengapa”, biarlah tetesan keringat dan deraian air mata yang menjawabnya

Jikaulau kata kedua adalah “bagaimana”, biarlah perjalanan yang membuktikan seberapa panjang langkah kaki ini menebar kemanfaatan,

Jikaulah kata ketiga dengan tegas “untuk apa”, biarlah tertera pada catatan Sang Maha.

You might also like
Comments
Loading...